• Senin, 28 November 2022

BRI  Bantu Petani Sorong Keluar dari Keterpurukan Ekonomi

- Senin, 26 September 2022 | 07:23 WIB
Petani UMKM Binaan BRI Sorong Ibu Tukinem (suarakarya.id - Yacob Nauly)
Petani UMKM Binaan BRI Sorong Ibu Tukinem (suarakarya.id - Yacob Nauly)

SUARAKARYA.ID: Ibu Tukinem (53) petani  pemimjam modal  dari Kreditur BRI Unit Aimas  Sorong Papua Barat  keluar dari keterpurukan ekonomi.  Akibat hantaman pandemi covid 19.

Tukinem kepada suarakarya.id menjelaskan ia adalah petani di Aimas kabupaten Sorong Papua Barat sejak lama.

Sebelum kenal kredit UMKM Pertanian BRI Unit Aimas Sorong, Ibu Tukinem sudah bertani menanam berbagai buah dan sayuran.

Baca Juga: MAKI Bocorkan Rahasia Gubernur Lukas Enembe Main Judi di Kasino Singapura

“Namun hasil yang didapat masih kurang. Tidak sama dengan hasil pendapatan yang saya peroleh setelah menjadi nasabah BRI Unit Aimas Sorong,” kata Ibu Tukinem kepada suarakarya.id  -  di Aimas Sorong Minggu (25/9/2022).

Apalagi, lanjutnya  setelah berakhirnya pandemi covid 19 di Sorong petani butuh modal kerja.

BRI Unit Aimas Sorong memang pandai membaca peluang bisnis.

 Buktinya ketika sejumlah lembaga keuangan melirik bidang lain. Justru UMKM Pertanian dijadikan BRI sebagai salah satu andalan pemasukan dari aspek kredit pelaku ekonomi rakyat.

BRI ternyata dapat mempertemukan pelaku ekonomi pangan lokal dengan market. Sehingga terjalin kerja sama saling menguntungkan.

Seperti Ibu Tukinem yang kini pemasukannya dari hasil pertanian pangan lokal tak mengenal kata putus.

Meski  baru keluar  dari ancaman  pandemi  covid 19 dua tahun lalu hingga tahun 2022 ini. Penghasilannya dari sektor ini tetap lancar bahkan meningkat.

Institusi lembaga keuangan ini, BRI jelas membuka jalan bagi penguatan permodalan untuk UMKM.

Baca Juga: Kementerian Keuangan Benarkan Dana Otsus Papua Rp1.092 Triliun Telah Dikucurkan

 Ibu Tukinem, salah satu penggerak UMKM Pertanian.  Yang diharapkan memunculkan kreatifitas dan inovasi UMKM Pangan Lokal yang dapat dicontoh petani lain di tanah air.

Pasar Sayur Tradisional di Sorong Diburu Warga (Istimewa)


Keberhasilan Ibu Tukinem memberi dampak positif dalam pengembangan pangan lokal. Dan memperluas jaringan bisnis  ini.  Yang  tentunya mendukung gerakan diversifikasi pangan di kabupaten Sorong, Papua Barat.

Terkait penguatan jejaring pemasaran bagi produksi tanaman pangan. Ibu Tukinem, menjelaskan, memang diperlukan jejaring  bagi produk pangan lokal seperti sayur dan kacangan.

Antara lain, lanjut Bu Tukinem, untuk meningkatkan pangan lokal yang berdaya saing.

Mungkin tujuan Bu Tukinem ini adalah perlunya kolaborasi di antara UMKM di kabupaten Sorong untuk membangun chanelling distribusi sendiri.

Maksud Bu Tukinem ini dapat dipahami sebagai upaya untuk menggandeng pihak-pihak terkait di kabupaten Sorong. Agar  produk pangan lokal terangkat ke dunia luar.

Baca Juga: SKK Migas dan Kontraktor Migas  Pamalu Donasikan 1.000 Paket Sembako kepada Warga Terdampak Banjir di Sorong

Menurut Bu Tukinem, tak masalah bagi hasil produksi pertaniannya. Karena  lokasi usaha pertaniannya berada di pusat kota Aimas. Atau tepatnya di belakang Kampus Unimuda.

Sehingga hasil perkebunannya dibeli langsung di tempat oleh pedagang dua pasar tradisonal terbesar di Sorong. Yaitu Pasar Central Remu dan Pasar Boswezen Rufei.

“Kalau hasil produksi pertanian saya setiap panen diburu pengusaha sayur mayur dari dua Pasar Tradisional terbesar di kota dan kabupaten Sorong. Jadi saya tak pernah merugi akibat usaha di bidang pertanian khususnya tanaman holtikultura ini,” katanya.

Luas tanah yang diolah  perempuan  tani ini  untuk usaha Pertanian tanaman holtikultura hampir 6,5 hektare (ha). Usaha perkebunannya ada di dua lokasi.

Ia menggunakan sistem mengelola tanaman yang tergolong canggih.

“Jadi anakan tanaman baru saya sisipkan di antara tanaman yang akan dipanen. Seperti tomat dan sayuran lainnya, sehingga begitu panen langsung pemeliharaan dilanjutkan ke regenerasi tanaman berikutnya," katanya.

Baca Juga: Truk Fuso dan Mobil Elf Tabrakan, Lima Meninggal di KM 438 Tol Bawen - Ungaran

Ia menyebut pihaknya tak menggunakan karyawan karena  anak-anaknya membantu pekerjaan mengolah lahan pertaniannya itu.

Bu Tukinem, mengaku ia tak pernah menunggak cicilan pembayaran kredit di BRI Unit Aimas.

Pinjaman pertama dari BRI Rp25 juta. Dan pinjaman kedua bahkan ketiga masing-masing Rp50 juta.  Semuanya dicicil pengembalian-nya tanpa masalah.

Ia menuturkan, bagaimana bisa menunggak.  Sementara uang tabungannya  masih ada di BRI Unit Aimas dari hasil kontrakan rumah-rumah kosnya.

Kemudian sewa wifi apalagi sekali panen hasil sayuran dan kacang-kacangan sudah melampaui pinjaman bank, demikian Bu Tukinem.

Sementara itu, Sekda kabupaten Sorong,  Japsenang, menjelaskan di daerahnya kini mulai melirik usaha pertanian tanaman pangan.

Baca Juga: Aceh dan Sekitarnya Diguncang Gempa Bumi  Besar Magnitudo 6,4

Dikatakan  pihaknya  berupaya perilaku usaha pangan lokal  menyasar kaum milenial dengan sajian yang modern dan menarik.

Pengusaha Borong Sayur dan Kebutuhan Lain Untuk Diangkut ke Perusahaan Raksasa di Daerah Ini (Istimewa)


Produk pangan lokal perlu diolah sedemikian rupa. Sehingga digemari kamu milenial yang kian bertambah di kabupaten Sorong saat ini.

Nah terkait pemasarannya disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini.

Sekda Japsenang mengimbau semua unsur pemerintah maupun swasta memberikan motivasi kepada masyarakat khusus petani.

Baca Juga: Pidato  Presiden Vanuatu Tak Lagi Bahas Soal HAM Papua Pada Sidang PBB Ke -77  Tahun 2022 di New York

 " Tujuannya untuk memberdayakan tanaman pangan lokal. Ini penting karena lahan pertanian di kabupaten Sorong cukup luas untuk perkembangan usaha UMKM tanaman pangan ini," ujar Japsenang. ***

Sumber: Wawancara





<span;> 

Halaman:

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X