• Rabu, 5 Oktober 2022

Ini Fakta Dibalik Kontroversi Pelabelan BPA pada Galon Air Isi Ulang, Ternyata Kemasan Plastik PET Lebih Aman

- Senin, 8 Agustus 2022 | 20:12 WIB
Foto ilustrasi: Istimewa
Foto ilustrasi: Istimewa

SUARAKARYA.ID: Belakangan ini di media massa mencuat soal Polycarbonat atau yang dikenal dengan PC, yang mengandung Bisphenol-A, menyusul rencana dikeluarkannya regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang akan  mengatur pelabelan terhadap galon polycarbonat atau galon guna ulang yang beresiko mengandung bahan kimia berbahaya Bisphenol-A (BPA).

Akan tetapi, rencana regulasi ini dibanjiri  opini  dari segelintir pendukung industri plastik BPA di Indonesia yang menutup mata melihat fakta bahaya  BPA terhadap kesehatan.

Banyak literatur dan penelitian yang telah menyatakan bahwa Plastik BPA terbukti tidak aman, Banyak negara telah melarang penggunaannya. Bahkan, dari banyak negara di dunia, kini, hanya tersisa di dua negara berkembang yang masih memperbolehkan , yaitu Indonesia dan Vietnam.

Baca Juga: Hentikan Galon Oplosan, Warganet Tuntut Produsen Serius Berbenah Diri

Perancis,  negara asal salah satu perusahaan multinternasional  yang  memiliki saham perusahaan air minum dalam kemasan di Indonesia --- adalah negara yang mengawali kampanye kesehatan BPA Free. Pun, pada tahun 2011, Indonesia mengadopsi kecenderungan dunia dengan memutuskan dilarangnya BPA pada kemasan bayi. Seiring itu tak terbantah semua merek air kemasan botol di Indonesia berbondong- bondong menggunakan plastik PET yang bebas BPA. Namun, ironisnya, di balik semua fakta ini, masih ada saja hembusan kritik terhadap plastik PET, yang keamanannya bahkan telah diakui aman oleh seluruh dunia.

Baca Juga: Buntut Kasus Pengoplosan Galon Air Isi Ulang, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN): Tetapkan Agen Resmi

Bicara data, keunggulan plastik PET, bahkan didukung riset yang menegaskan botol plastik PET aman digunakan. Kesimpulan ini dipublikasikan Council of Scientific and Industrial Research-Central Food Technological Research Institute (CSIR-CFTRI), Mysore, India.

Analisis CSIR-CFTRI menyimpulkan bahwa dipapar temperatur tinggi pun plastik PET tidak menyebabkan migrasi di dalam kemasan, semuanya masih di bawah batas deteksi (below detection limit). Batas ini juga masih di bawah regulasi Uni Eropa (UE) tentang “batas migrasi spesifik”, yang merupakan jumlah maksimum senyawa yang bisa bermigrasi dari kemasan ke dalam minuman di dalamnya.

Baca Juga: Lirik Lagu Maju Tak Gentar - karya Cornel Simandjuntak yang Pahanya Tertembus Peluru Gurkha

Halaman:

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Indonesia Optimistis Jadi Pusat Industri Halal Dunia

Jumat, 30 September 2022 | 18:36 WIB

Stiamak Barunawati Surabaya Segera Tambah 4 Prodi Baru

Kamis, 29 September 2022 | 17:16 WIB
X