• Selasa, 9 Agustus 2022

Bonus Demografi, Optimalkan Agar Tak Terjebak di Pendapatan Menengah

- Selasa, 2 Agustus 2022 | 05:22 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy.
Menko PMK Muhadjir Effendy.
 
 
SUARAKARYA.ID: Bonus Demografi akan terjadi di Indonesia, memasuki puncaknya pada tahun 2030 mendatang. Saat itu, jumlah penduduk usia produktif akan lebih banyak dibanding penduduk non produktif.
 
Belum memasuki puncak Bonus Demogragi saja, per tahun 2020 berdasarkan data BPS, jumlah penduduk usia produktif atau angkatan kerja mencapai 140 juta jiwa dari total 270,20 juta jiwa penduduk indonesia. 
 
Apalagi pada puncak Bonus Demografi di tahun 2030, jumlah itu diperkirakan akan meningkat pesat.
 
Pemerintah tentu saja telah melakukan ragam upaya, untuk menyiapkan bonus demografi. Guna mewujudkan sumberdaya manusia (SDM), yang berkualitas dan berdaya saing. Yaitu manusia yang sehat dan cerdas, adaptif, inovatif, terampil, serta berkarakter. 
 
 
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, saat Launching Commintment Family Planing 2030, di Jakarta, Senin (1/8/2022) menyatakan, kondisi pasca dari bonus demografi juga harus diperhatikan mulai dari sekarang. 
 
Pasalnya, dia menerangkan, setelah era bonus demografi selesai, penduduk usia produktif yang semula mendominasi, otomatis akan bergeser menjadi penduduk usia tua. 
 
Commitment Family Planning 2030 atau disingkat FP 2030 merupakan kemitraan di tingkat global. FP 2030 merupakan keberlanjutan dari FP 2020. Peluncuran Komitmen FP 2030, yang diselenggarakan BKKBN ini, didukung United Nations Population Fund (UNFPA), dan Yayasan Cipta.
 
 
Pada kesempatan itu, Menko PMK menekankan, keluarga berencana mestinya juga sudah mengantisipasi setelah tahun 2030. "Ketika, kita berada di puncak bonus demografi kemudian yang akan segera diikuti dengan ageing population atau negara penduduk menua," ujarnya. 
 
Dia minta agar lembaga yang bertanggung jawab dalam keluarga berencana, yakni BKKBN untuk mulai belajar dari negara-negara yang sudah melalui fase bonus demografi
 
Seperti diketahui, pemerintah melalui BKKBN memiliki kampanye "2 anak cukup" untuk mengendalikan jumlah penduduk. Penurunan laju penduduk dengan kampanye itu cukup berhasil. Namun Menko PMK khawatir bila kampanye ini terus digencarkan sampai pasca bonus demografi, maka generasi produktif Indonesia akan kurang di masa ageing population.
 
 
Karenanya, dia minta agar BKKBN bisa mempersiapkan kajian kebijakan yang komprehensif. Untuk keluarga berencana pasca masa puncak bonus demografi, agar tidak kekurangan penduduk usia produktif di masa ageing population. 
 
"Saya tidak tahu apakah suatu saat masih akan relevan dua anak cukup, atau apakah makin banyak anak makin cukup. Karenanya, kita perlu belajar dari negara lain seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan," tuturnya. 
 
Menko PMK juga khawatir, bila Indonesia gagal memanfaatkan bonus demografi. Lalu, pasca bonus demografi juga tidak menyisakan penduduk produktif. Maka Indonesia akan terjebak di ekonomi menengah ke bawah. 
 
 
"Saya khawatir betul kalau nanti kita memasuki ageing population ekstrem, yang produktif sedikit sekali. Sementara, kita belum bisa maksimal memanfaatkam bonus demografi. Maka, ini bisa menjadi _middle income trap,_ terperangkap dalam penghasilan menengah," ungkapnya. 
 
Bank Dunia menyebut, pendapatan per kapita Indonesia sejak 2015 berkisar antara USD 3.332 hingga USD 4.292 (2021). Indonesia termasuk negara berpendapatan menengah karena berada antara USD 4.046 dan USD 12.535.
 
Karenanya, Menko PMK mengingatkan, persoalan perencanaan keluarga ini bukan hanya persoalan tunggal dan domain dari BKKBN saja. Melainkan juga harus melibatkan banyak pihak. 
 
 
Persoalan perencanaan keluarga ini juga berkaitan dengan masalah kualitas penduduk. Seperti masalah stunting, dan juga beririsan dengan masalah kemiskinan ekstrem.***
 

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puasa Tasua dan Asyura, Ini Keutamaannya

Minggu, 7 Agustus 2022 | 09:00 WIB

Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Minggu, 7 Agustus 2022 | 06:54 WIB
X