• Sabtu, 1 Oktober 2022

Berhasil Cegah Baby Boom, BKKBN Tetap Gencarkan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pascapersalinan

- Jumat, 11 Februari 2022 | 00:21 WIB
Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo.
Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo.
 
JAKARTA: Kendati berhasil mencegah terjadinya baby boom, selama masa pandemi Covid-19. Namun, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tetap gencar mensosialisasikan penggunaan alat kontrasepsi pascapersalinan. 
 
"Selama pandemi memang, kita mengalami penurunan dalam pelayanan. Tapi, kita bersyukur juga alhamdulillah data menunjukkan bahwa angka yang terkait dengan _Total Fertility Rate_ (TFR) itu mengalami penurunan menjadi 2,24 (hasil Pendataan Keluarga Tahun 2021). Artinya, meski kemarin diduga akan terjadi _baby boom_ ternyata tidak terjadi angkanya 2,24,”  terang epala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo SpOG (K), saat menjadi narasumber dalam webinar “Manfaat Penggunaan Alat Kontrasepsi Kondom pada Pasangan Usia Subur dan Dampak Psikologisnya”, dari Jakarta,  Kamis (10/2/2022). 
 
Walau begitu, Hasto tetap mengingatkan para bidan yang menjadi peserta dalam webinar. Untuk tetap memperhatikan  pemakaian alat kontrasepsi pascapersalinan menjadi salah satu yang penting untuk dilakukan. 
 
Karena, lanjutnya, KB pascapersalinan masih cukup rendah. Banyak pasangan usia subur (PUS) yang setelah melahirkan masih mau menunda kehamilan 2 sampai 3 tahun mendatang, namun enggan memakai alat kontrasepsi
 
Karenanya, Hasto menyarankan pada PUS, untuk mengombinasikan Metode Amenore Laktasi (MAL) dan pemakaian kondom pascamelahirkan. BKKBN mendorong para bidan sebagai _community leader_ di desa-desa bisa memberikan penyuluhan bagi PUS . 
 
Hal ini, menjadi penting karena berkaitan dengan _spacing_ (penjarakan) kehamilan untuk mencegah kematian Ibu. “Ini kerja keras bidan sebetulnya, ketika dari tahun ke tahun menurunkan TFR ini sampai angka sekarang 2,24. Bukan lagi 2,4 ya itu tahun 2017," katanya. 
 
Kepala BKKBN menyatakan, masih punya pekerjaan rumah untuk menurunkan kematian ibu. Jangan lupa, ujarnya, kita harus mensukseskan KB pascapersalinan, dalam rangka agar angka kematian ibu tidak meningkat. 
 
"Pernah terjadi kenaikan yang mengejutkan di tahun 2007 sudah 228 per 100 ribu kelahiran. Kita terkejut pada tahun 2012 menjadi 359 dan tentu hampir 80 persen, mereka lahir di bidan sebetulnya persalinannya. Maka, peran bidan itu penting sekali dalam rangka untuk menurunkan angka kematian ibu,” ungkap Hasto. 
 
Sementara itu, Psikolog Klinik dan Sex Educator Inez Kristanti MPsi Psikolog mengatakan, dengan adanya diskusi bersama pasangan tentang alat kontrasepsi yang akan digunakan, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesetaraan. 
 
Psikologis pemilihan alat kontrasepsi yang dilakukan oleh kedua belah pihak PUS, yaitu pihak perempuan dan laki-laki memberikan dampak yang baik. Bagi keharmonisan rumah tangga,  ini merupakan upaya perencanaan keluarga. 
 
“Dengan kondom ini bisa menumbuhkan keterlibatan laki-laki. Yang mana ini juga bisa mendukung kesetaraan dalam hubungan. Salah satunya dalam memilih metode kontrasepsi bersama-sama. Jadi ada peran laki-lakinya dan perempuannya," tuturnya. 
 
Peran perempuan pun jada walaupun menggunakan kondom pria. Yaitu bisa menginisiasi atau meningkatkan asertivitas penggunaan kondom. Itu termasuk ke dalam asertivitas seksual kalau di dalam istilah psikologisnya. 
 
"Jadi si perempuan dan laki-laki mempunyai peran yang setara dapat bekerja sama sebagai tim untuk menentukan kontrasepsi yang tepat,” imbuh Inez.***
 
 

Editor: Budi Seno P Santo

Tags

Terkini

Indonesia Optimistis Jadi Pusat Industri Halal Dunia

Jumat, 30 September 2022 | 18:36 WIB

Stiamak Barunawati Surabaya Segera Tambah 4 Prodi Baru

Kamis, 29 September 2022 | 17:16 WIB

Kemenag Luncurkan Program Madrasah Digital di MAN 1 Medan

Minggu, 25 September 2022 | 11:49 WIB
X