• Kamis, 26 Mei 2022

Jejak Listrik di Tanah Raja, Gambarkan Listrik Dari Sisi Berbeda

- Sabtu, 15 Januari 2022 | 19:25 WIB
Komisaris PT PLN (Persero), Eko Sulistyo (kiri) saat bedah buku Jejak Listrik di Tanah Raja, karyanya.
Komisaris PT PLN (Persero), Eko Sulistyo (kiri) saat bedah buku Jejak Listrik di Tanah Raja, karyanya.

SURABAYA: Hampir semua orang sejak jaman dulu selalu memahami listrik sebagai infrastruktur keras yang butuh penangangan keras, karena didalamnya terkait dengan benda-benda keras seperti Sutet, Gardu Induk, Trafo dan sebagainya. Padahal dibalik itu, listrik sebenarnya juga terkait dengan jaringan lunak, karena berimbas pada banyak sektor diantaranya sosial budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

Kenyataan itulah yang ingin disampaikan Komisaris PT PLN (Persero), Eko Sulistyo melalui bukunya yang diberi judul 'Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901-1957. "Kalau mau melihat kontek sejarah dimanapun, saya pakai studinya di Surakarta jaman kolonial. Tapi terjadi juga di Afrika, Eropa, negara komunis dan kapitalis. Kota yang dialiri listrik selalu akan menjadi kota yang secara ekonomi lebih maju," ujarnya saat bedah buku di Graha Pena Surabaya, Sabtu (15/1/2022).

Dalam Petikan surat yang dimuat di halaman 135 buku tersebut,  penulis yang alumni Jurusan Sejarah Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) ini menyebut bahwa gelap selain menandai sebuah era kemunduran juga mengancam keselamatan orang-orang di ruang publik. Hal itulah yang menjadi alasan warga Kampung Manahan (Surakarta), ketika mengajukan surat ke kantor Sindoeprodjo Mangkunegaran yang isinya meminta agar jalan di kampung mereka diberi penerangan lampu listrik.

Surat tertanggal 17 Juli 1939 tersebut, kata dia,  menyebutkan bahwa penerangan listrik sangat diperlukan untuk keselamatan orang yang lewat. Serta untuk menjaga keamanan 'kangge kewiludjenganipoen ingkang sami langkoeng, oegi perloe sanget kangge andjagi keamananipoen kampoeng ing wantji daloe' (untuk keselamatan orang yang lewat, juga sangat diperlukan untuk menjaga keamanan kampung saat malam tiba-red).

Inti dari buku ini menjelaskan tentang perjalanan perusahaan listrik SEM yang beroperasi di Surakarta. Di masa itu, operasionalisasi listrik di Solo mengalami dinamika yang unik. Salah satu bagian dari buku menjelaskan bahwa Mangkunegara VII ternyata tertarik juga untuk berbisnis listrik. Raja yang dikenal sebagai wirausaha tersebut akhirnya mendirikan perusahaan listrik dan membangun pembangkit di Kali Samin Tawangmu.

Unit bisnis yang didirikan oleh Mangkunegara VII ternyata diangap sebagai ancaman bagi kelangsungan bisnis listrik Belanda di Solo sehingga ditekan agar berhenti. Perusahaan tersebut akhirnya tidak tahan dan gulung tikar setelah tiga tahun beroperasi. Hal tersebut menggambarkan bahwa perusahaan-perusahaan Belanda berusaha melakukan monopoli usaha listrik di Hindia Belanda.

Pesan tentang listrik sebagai infrastruktur lunak juga dia gambarkan dari fenomena warung angkringan (hik/warung kucing) yang menurut buku ini turut disumbangkan oleh listrik. Listrik telah mendorong orang-orang untuk menimati kota di malam hari. "Itu adalah sebuah kesempatan para pemilik angkringan membuka dagangannya di malam hari. Ketika jalanan menjadi terang mereka tidak kesulitan untuk memikul angkringnya keliling kampung menjajakan makanan dan minuman," ujarnya.

Buku ini terdiri atas enam bab yang Menggambarkan perjalanan kota Surakarta berproses menjadi kota modern dengan listrik sebagai penggeraknya. Kota Surakarta yang digambarkan sebagai kota tradisional bergerak menjadi kota modern yang terang benderang dengan listrik sebagai inti penggerak. Percepatan berbagai aspek terjadi pada awal abad ke-20 saat listrik mulai mengemuka di Surakarta. Namun kondisi ini sempat mengalami perubahan saat penjajah Jepang mulai menduduki Surakarta apada Maret 1942.

Listrik kemudian dikelola oleh Jepang tanpa perubahan yang berarti. Kondisi perang membuat suasana Surakarta berubah, ekonomi tidak berkembang dan malah mengamali penurunan drastis. Jepang mengelola listrik hanya sebagai rutinitas tanpa mengembangkan aspek usaha.

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Terkini

Konsumsi Makanan Ini Bisa Tingkatkan Libido Anda

Selasa, 24 Mei 2022 | 16:03 WIB

UWKS Mulai Berani Gelar Wisuda Secara Luring

Sabtu, 21 Mei 2022 | 20:28 WIB
X