• Selasa, 25 Januari 2022

Hari Disabilitas Internasional 2021, Stephanie Dan Sederet Prestasinya

- Kamis, 2 Desember 2021 | 22:46 WIB
 Stephanie Handojo (30).(foto,ist)
Stephanie Handojo (30).(foto,ist)

JAKARTA: Jari jemarinya lincah menari di atas tust piano, menghasilkan alunan musik lagu Kiss The Rain karya Yurikuma, musikus, komponis sekaligus pianis berkebangsaan Korea. Alhasil, perempuan kelahiran Surabaya ini berhasil membuat hadirin terpukau.

Hal itu  terjadi pada peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2021, di Gedung Aneka Bhakti (GAB) Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta, Kamis (2/12/2021).

Stephanie Handojo (30), seorang penyandang disabilitas intelektual dengan sederet prestasi, yang diraihnya sejak 2009. Dia dan sang Ibu, Maria sengaja dihadirkan di peringatan HDI 2021, untuk berbagi inspirasi olej Plt Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial (Dirjen Rehsos) Harry Hikmat.

Deretan prestasi yang diraih Stephanie dimulai, saat dia secara Nonstop memainkan 22 lagu dengan Piano, di Semarang, Jawa Tengah, tahun 2009. Kala itu, namanya tetcatat di Rekor Muri Anak Berkebutuhan Khusus memainkan 22 lagu secara Nonstop.

Setahun kemudian, dia berprestai di kolam renang, pada ajang Singapore National Games. Bahkan, mampu meraih medali emas di Special Olympics World Summer Games di Athena, Yunani tahun 2011.

Yang tidak kalah membanggakan, saat Stephanie menjadi salah satu pemegang obor Olympiade London 2012 di Nottingham. Dia terpilih melalui program Internasional Inspiration, yang dipilih Unicef dan British Council, terpilih dari 12 juta anak dari 20 negara, Stephanie satu-satunya anak berkebutuhan Khusus.

Di tingkat nasional pun, Stephanie juga mampu mendapat penghargaan sebagai Atlet Berprestasi Nasional tahun 2017 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), meraih satu medali emas kategori single dan satu medali perak kategori double, di cabang boling, pada Pekan Olahraga Nasional (Pornas SOIna) tahun 2018. Serta, mengikuti Internasional Spesial Music & Art Festival, di Pyongyang, South Korea, tahun 2019.

Dia mengakui, sederet prestasi yang diraihnya, tidak lepas dari peran keluarga. Maria, Ibunda tercinta mengungkapkan,  dia  melakukan stimulasi bagi motorik halus maupun kasar bagi Stephanie sejak kecil.

Hal ini penting agar Stephanie bisa berkomunikasi. "Dari stimulasi itu perlahan potensi dan bakat-bakat dari Stephanie terlihat. Mulai dari saya kenalkan dengan tuts piano mini di usia 3 tahun. Ternyata dia gemar bermusik. Akhirnya saya panggilkan guru piano untuknya," cerita Maria.

Halaman:

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Terkini

X