• Selasa, 25 Januari 2022

Cegah Bayi Lahir Prematur, Cegah Anak Jadi Stunting

- Senin, 29 November 2021 | 20:15 WIB
 Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Ir Dwi Listyawardani M Sc DipCom.(foto, ist
Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Ir Dwi Listyawardani M Sc DipCom.(foto, ist

JAKARTA: “Angka prevelensi stunting kita masih sangat tinggi yaitu 27 persen dan tentunya kita harus bahu membahu dalam menyelesaikan persoalan ini," ujar Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Ir Dwi Listyawardani M Sc DipCom.

Hal itu, dikemukakan pada Webinar *Cegah Kelahiran Prematur Dalam Upaya Menurunkan Stunting", dari Jakarta, Sabtu (27/11/2021). Salah satunya, lanjut dia, dengan lebih memperdalam lagi hal-hal yang berkaitan dengan prematuritas.

Seperti diketahui, angka kelahiran masih sangat tinggi di Indonesia dan ini merupakan sumber dari lahirnya anak-anak stunting. Faktor gizi memang menjadi persoalan, karena itu tentunya ini harus segera dilakukan tindakan-tindakan pencegahan melalui intervensi gizi baik gizi mikro maupun makro.

"Sehingga, upaya untuk mencerdaskan masyarakat, menggerakkan masyarakat, memberdayakan masyarakat menjadi hal yang sangat _urgent_ untuk kita lakukan," terang Dani, sapaan akrab Plt Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN.

Dikemukakannya, beberapa langkah strategis akan dilakukan BKKBN. Terutama, bagaimana mencegah terjadinya prematuritas, di antaranya melalui pengawalan calon pengantin perempuan.

Seperti diketahui, calon pengantin di Indonesia 40 persen di antaranya mengalami anemia, dan ini menjadi salah satu penyebab terjadinya prematuritas. Karena, ada sedikitnya 48 persen, data dari RISKESDAS, kelahiran prematur dikarenakan anemia.

Di bagian lain, Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dr Ari Kusuma Januarto SpOG (K) menjelaskan, pertumbuhan janin terhambat, merupakan ketidakmampuan dari janin. Untuk mempertahankan pertumbuhan sesuai standar yang diharapkan, berdasarkan kurva pertumbuhan terstandarisasi, dengan atau tanpa KMK (kecil sesuai masa gestasi).

Prevelensi PJT ini mencapai 3-10 persen pada penelitian di 4 pusat Fetomaternal di Indonesia tahun 2004-2005: sebanyak 571 bayi KMK dari 14.702 persalinan (4,40 persen). Angka mortalitas tinggi PJT lebih tinggi 3-8x dibandingkan bayi lahir normal.

“Bayi prematur memiliki lebih banyak masalah kesehatan dibandingkan bayi yang lahir dengan bulan yang cukup," ujarnya. Di antaranya masalah pada organ otak, paru-paru, jantung, serta mata.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa SH

Terkini

X