• Minggu, 3 Juli 2022

Covid-19: Diskusi Dokter Sonia Di Kemenkes, Dari Stigma Penderita Hingga Solidaritas Kemanusiaan

- Minggu, 26 April 2020 | 21:48 WIB
Influencer dr Sonia Wibisono berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Kesehatan dr. Mariya Mubarika tentang penanganan Covid-19 dengan Terapi Plasma Konvalesen
Influencer dr Sonia Wibisono berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Kesehatan dr. Mariya Mubarika tentang penanganan Covid-19 dengan Terapi Plasma Konvalesen

JAKARTA: Dokter sekaligus influencer Sonia Wibisono membagi pengalaman saat dirinya berkesempatan bersilaturahmi sekalian memberi dukungan moral kepada Menkes Terawan Agus Putranto dan staf di Kemenkes RI.

"Sedikit sharing tentang strategi Kemenkes dalam menangani Covid-19, lanjutan cerita saya kemarin di Kantor Kemenkes,"ujar dr Sonia Wibisono kepada Suarakarya.id lewat perbincangan virtual di Jakarta, Minggu (26/4/2020).

Setelah 8 minggu infeksi Covid-19 di Indonesia, dokter Sonia menuturkan justru semakin mengenal karakteristik virus ini, menyesuaikan dengan perkembangan yang cepat.

Menurutnya, saat ini Kemenkes memiliki dua strategi dalam mengatasi dampak kesehatan dari tersebarnya virus Covid-19 di Indonesia. Pertama adalah pemerintah berupaya menekan penyebaran virus yang cepat agar tidak terjadi overload di fasilitas kesehatan. Lalu memberikan penekanan kejadian dengan melakukan protokol WHO yakni memastikan physical distancing, hidup sehat, dan hidup bersih yang terus dikampanyekan secara masif melalui telemedicine..

Kata Menkes Terawan, seperti yang diteruskan informasinya oleh dr Sonia, masyarakat Indonesia telah berhasil untuk langkah tersebut, terbukti dari rawat inap di beberapa Rumah Sakit telah menunjukkan angka penurunan.

“Kemenkes sangat mengapresiasi kerja keras masyarakat Indonesia semua dalam upaya melawan Covid-19,” ucap Menteri Terawan ditirukan Sonia.

Yang kedua adalah tracing. Tracing selain yang dilakukan oleh surveillance dari kasus positif, ada juga tracing dilakukan oleh telemedicine dari skrining digital di aplikasi handphonenya.

"Skrining digital bagi yang masuk kriteria dilakukan rapid test sebagai deteksi dini. Rapid test bisa mengetahui adanya IgG dan IgM pada tubuh. Yang tidak pernah disangka ternyata di masyarakat lebih banyak yang memiliki IgG dari pada IgM. Ini artinya plasmanya bisa disumbangkan untuk menyelamatkan pasien yang rentan," jelas Duta Kesehatan PBB ini.

Lebih lanjut Sonia mengatakan Kemenkes juga sedang berusaha mencari IgG di masyarakat.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa SH

Terkini

X