• Jumat, 1 Juli 2022

Di PBB, Menlu Retno: Ekonomi Kreatif Percepat Pemulihan Ekonomi Global 

- Minggu, 26 September 2021 | 19:30 WIB
Retno Marsudi. (Dok Kemenlu)
Retno Marsudi. (Dok Kemenlu)

JAKARTA: Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menjelaskan kegiatan Ministerial Side Event on Resilient and Inclusive Creative Economy for a Thriving Future yang digelar di sela Sidang Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, 23-24 September 2021, mendspat sambutan positif banyak negara anggota PBB.

Pertemuan yang diinisiasi Indonesia itu sendiri dibuka oleh Menlu Retno Marsudi bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Indonesia Sandiaga Uno serta Menteri Kebudayaan dan Pemuda Uni Emirat Arab.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia mengadakan pertemuan ini?

Dalam Press Briefing Menlu RI High Level Week Sidang Majelis Umum PBB ke -76 New York, 24 September 2021 atau Sabtu (25/09/2021), Menlu Retno menjelaskan alasan mengapa pertemuan terkait ekonomi kreatif digelar.

Pertama, kata Menlu, pada tahun 2019 Indonesia memprakarsai resolusi Majelis Umum PBB mengenai ekonomi kreatif. Dalam resolusi tersebut, PBB secara aklamasi mengesahkan tahun 2021 sebagai International Year of Creative Economy for Sustainable Development 2021. 

"Tentu kita ingin menjaga momentum pelaksanaan tahun internasional ekonomi kreatif ini. Indonesia ingin mengarus-utamakan agenda ekonomi kreatif dalam agenda masyarakat internasional," ujarnya.

Kedua, ungkap Menlu, sebagaimana diketahui, di masa pandemi, perlu ada penyesuaian dan adaptasi kegiatan ekonomi masyarakat. Ekonomi kreatif adalah solusi yang inovatif dalam menyikapi pandemi dan mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Menlu Retno mengawali sambutan dalam pertemuan mengenai ekonomi kreatif itu dengan menyampaikan bahwa di masa pandemi dibutuhkan terobosan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mempekerjakan wanita dan anak muda, serta mengentaskan kemiskinan.

"Di sinilah peran penting ekonomi kreatif yang menyumbang lebih dari 30 juta pekerja di dunia, di mana setengahnya adalah perempuan," ungkap Menlu Retno.

Halaman:

Editor: Pudja Rukmana

Terkini

X