• Minggu, 26 Juni 2022

PBNU Kutuk Israel Dan Minta Segera Hentikan Agresi

- Rabu, 19 Mei 2021 | 16:52 WIB
Kerua PB NU KH Said Aqil Siroj
Kerua PB NU KH Said Aqil Siroj

JAKARTA: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meminta Israel menghentikan agresinya ke Palestina untuk mengakhiri krisis kemanusiaan.

“Hentikan segera agresi militer yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Ini merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dibiarkan dan ditoleransi,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Selasa (18/5/2021)

PBNU pun mengutuk dan mengecam keras agresi militer Israel yang telah memporak-porandakan Palestina sekaligus merenggut nyawa-nyawa warga sipil yang tidak berdosa. Said mendorong upaya gencatan senjata dari kedua belah pihak agar bantuan kemanusiaan bisa masuk dan kondisi Palestina pulih seperti sediakala. Selain itu, PBNU mendesak PBB dan komunitas internasional segara melakukan langkah cepat untuk menyepakati gencatan senjata.

“Ini sebagai bagian dari tanggung jawab komunitas internasional dalam menyikapi konflik yang mencederai kemanusiaan,” imbuh Said seperti dilansir Tempo..

PBNU juga mendorong pemerintah Indonesia untuk menggalang dukungan dan mengambil upaya penting dalam mewujudkan kedaulatan Palestina sekaligus mengakhiri konflik kemanusiaan yang terjadi, sehingga mampu menciptakan perdamaian dan keamanan dunia.

Menurut keterangan Said, sejak Muktamar Ke-13 NU di Menes, Banten, pada tahun 1938 Nahdlatul Ulama telah menyatakan dukungan atas kemerdekaan dan kedaulatan Palestina sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

“Maka, kami terus teguh pendirian untuk menyampaikan pandangan dan sikap bahwa bagi kami Palestina adalah bangsa yang berdaulat. Kami juga mendorong seluruh pihak untuk melakukan dialog agar kekerasan tidak terjadi lagi dalam upaya penegakan kadaulatan Palestina,” tuturnya.

PBNU mengimbau seluruh umat Islam untuk berbuat maksimal demi menjaga solidaritas sesama muslim demi terhapusnya penjajahan di muka bumi dan demi tegaknya hak-hak asasi kemanusiaan yang menjunjung prinsip kemerdekaan dan kedaulatan.***

Editor: Markon Piliang

Terkini

X