• Sabtu, 3 Desember 2022

Penyidik KPK Tetapkan Lagi Dua Tersangka Kasus Dugaan Suap Pengajuan Dana PEN

- Kamis, 23 Juni 2022 | 22:13 WIB

 

 

SUARAKARYA.ID: Adik Bupati Kabupaten Muna Rusman Emba, La Ode Muhammad Rusdianto Emba (LMRE) dan pejabat Pemerintah Kabupaten Muna ditetapkan sebagai terangka oleh penyidik KPK terkait kasus dugaan suap pengajuan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) tahun 2021.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron, saat melakukan upaya paksa penahanan terhadap seorang tersangka, yaitu Sukarman Loke (SL) selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Pemkab Muna. “Sesuai hasil pengumpulan berbagai informasi dan data ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup. Karenanya, penyidik KPK melakukan penyelidikan dan meningkatkan status perkara ini ke penyidikan," ujar Ghufron  di Jakarta, Kamis (23/6/2022).

Kasus ini merupakan pengembangan dari perkara sebelumnya dengan menetapkan tiga orang tersangka masing-masing Andi Merya Nur (AMN) selaku Bupati Koltim periode 2021-2026; Mochamad Ardian Noervianto (MAN) selaku Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri periode Juli 2020-November 2021; dan Laode M Syukur Akbar (LMSA) selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Muna.

Ghufron menyebutkan untuk memperlancar proses pengajuan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) tahun 2021, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) Pemkab Muna, Sukarman Loke dan seorang lainnya diduga menerima suap Rp 750 juta dari pengurusan dana PEN tersebut.

Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron  selanjutnya membeberkan konstruksi perkara yang melibatkan Rusdianto dan Sukarman. Di mana, Andi Merya Nur berkeinginan untuk bisa mendapatkan tambahan dana terkait kebutuhan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Koltim. Untuk  bisa segera dilakukan, maka Andi Merya segera menghubungi Rusdianto yang dikenal memiliki banyak jaringan untuk memperlancar proses pengusulan dana tersebut. Tersangka Rusdianto selanjutnya menjalin komunikasi dengan Sukarman yang memiliki banyak kenalan di pemerintah pusat.

"SL kemudian menyampaikan lagi pada LMSA, karena saat itu Pemkab Muna juga sedang mengajukan pinjaman dana PEN," kata Ghufron. Berikutnya, dilakukan pertemuan di salah satu restoran di Kota Kendari untuk membahas persiapan pengusulan dana PEN bagi Kabupaten Koltim yang dihadiri oleh Andi Merya, Sukarman, dan Rusdianto. "Salah satu syarat agar proses persetujuan pinjaman dana PEN dapat disetujui, yaitu adanya pertimbangan dari Kementerian Dalam Negeri khususnya Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah yang saat itu dijabat MAN," tutur Ghufron.

Andi Merya kemudian mempercayakan Rusdianto dan Sukarman untuk menyiapkan seluruh kelengkapan administrasi pengusulan pinjaman dana PEN dengan nilai usulan dana pinjaman PEN yang diajukan ke Kementerian Keuangan senilai Rp 350 miliar. Sukarman, Syukur, dan Rusdianto juga diduga aktif memfasilitasi agenda pertemuan Andi Merya dengan Adrian di Jakarta. Dari pertemuan itu, Ardian diduga bersedia menyetujui usulan pinjaman dana PEN Kabupaten Koltim dengan adanya pemberian sejumlah uang sebesar Rp 2 miliar.

Proses pemberian uang dari Andi Merya kepada Adrian dilakukan melalui perantara Rusdianto, Sukarman, dan Syukur melalui transfer rekening bank dan penyerahan tunai.  "SL dan LMSA diduga diduga menerima sejumlah uang dari AMN melalui LM RE yaitu sejumlah sekitar Rp 750 juta,"  ungkap  Ghufron.***

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X