• Rabu, 28 September 2022

Diduga Menyesatkan, Pimpinan Tertinggi Khilafatul Muslimin Ditangkap Polda Metro Di Lampung

- Selasa, 7 Juni 2022 | 13:30 WIB
Penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin di Lampung (Istimewa)
Penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin di Lampung (Istimewa)

SUARAKARYANEWS.ID: Dipimpin oleh Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Hary menangkap pimpinan tertinggi Khilafatul Muslimin Di Lampung, Selasa, 07 Juni 2022.

Para pakar dari berbagai bidang ilmu sepakat ideologi khilafah yang diserukan sekelompok masyarakat, bukanlah ideologi yang kongkrit dan karenanya tidak relevan bagi bangsa Indonesia pada masa kini dan mendatang.

Demikian benang merah pendapat pakar syariah, pakar filsafat bahasa maupun pakar hukum pidana perihal konvoi bendera khilafah beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Tangkap 6 Kepala Daerah, Pengamat Sebut Kerja Firli Efektif Tumbuhkan Kepercayaan Publik Terhadap Pemerintah

"Dasar ideologi kelompok Khilafatul Muslimin adalah tafsir dan permahaman sempit atas Al-Qur’an dan Hadist," ungkap JM. Muslimin, MA, PhD., ahli literasi dan ideologi dari Universitas Islam Negeri Jakarta.

"Sistem khilafah yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan Hadist sebenarnya bukanlah dalam bentuk sistem pemerintahan atau negara, tetapi lebih mencerminkan kepemimpinan akhlaq serta moral yang paripurna. Jadi, jelas pemahaman konsep Khilafatul Muslimin yang dikampanyekan kelompok tersebut tergolong menyimpang, menyesatkan serta membahayakan hukum ketertiban publik, jauh dari kemaslahatan dan kebaikan," tegas Muslimin Ph.D.

"Kelompok ini hanya menerima pandangan yang sesuai dengan pandangan mereka, tidak menerima pandangan yang berbeda," kata Muslimin, Ph.D yang juga mantan Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Lebih jauh Muslimin mengingatkan, "Kelompok seperti ini akan terus menyebarkan tafsir Islam sesuai pemahaman mereka yang menyesatkan. Karena itu, jangan heran, mereka akan terus berupaya mendelegitimasi sistem sosial dan kenegaraan yang ada, dengan menyebutnya sebagai thogud (durjana). Dengan demikian apa yang dilakukan oleh mereka berpotensi membahayakan negara, menyebabkan munculnya tindakan sewenang-wenang dan merusak aturan yang berlaku sekaligus memberikan kesempatan untuk munculnya tindakan pidana yang menggunakan bahasa agama."

Ahli filsafat bahasa Prof. Dr. Wahyu Wibowo berpandangan serupa. Prof. Wahyu mengungkapkan sejumlah kebohongan. "Misalnya yang bersangkutan mengklaim Islam tidak ada toleransi. Makna dari kata-kata tersebut Islam tidak memiliki sikap untuk menahan diri, tidak saling menghargai, tidak menghormati, tidak membiarkan pendapat pandangan kepercayaan antar sesama manusia yang bertentangan dengan dirinya
sendiri. Kata-kata ini dapat dikategorikan sebagai berita bohong."

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Artikel Terkait

Terkini

Presiden Jokowi  Minta  Lukas Enembe  Hormati Hukum

Selasa, 27 September 2022 | 18:38 WIB

Ledakan di Sukoharjo  Seorang Polisi Berlumuran Darah

Senin, 26 September 2022 | 13:19 WIB
X