• Kamis, 26 Mei 2022

Jaksa Agung Sebut Koruptor Minyak Goreng Sudah Kebangetan, Dia Akan Perhitungkan Ini Dalam Tuntutan

- Kamis, 12 Mei 2022 | 21:57 WIB
Jaksa Agung ST Burhanuddin (Podcast Deddy Corbuzier)
Jaksa Agung ST Burhanuddin (Podcast Deddy Corbuzier)


SUARAKARYA.ID: Jaksa Agung RI ST Burhanuddin menyatakan pelaku korupsi minyak goreng yang menyebabkan harga melambung dan memicu antrean di mana-mana itu, tidak punya empati dan sudah sangat kebangetan. Pihaknya berjanji akan memperhitungkan ini dalam tuntutan di proses hukumnya nanti.

Menurut Jaksa Agung, para koruptor itu mengabaikan hati nurani untuk mengambil keuntungan pribadi yang sangat besar, dari komoditas minyak goreng yang sangat dibutuhkan masyarakat setiap harinya ini. "Kita nggak ngerti hati manusia, kalau punya empati kayaknya nggak mungkin. Ini kebangetan. Kita akan perhitungkan nanti dalam tuntutan," ujarnya saat menjadi bintang tamu di Podcast Deddy Corbuzier, Kamis (12/5/2022).

Selaku Jaksa Agung, Burhanuddin memastikan tidak akan takut dan proses hukum akan tetap berjalan meski di belakangnya bisa jadi ada backing dari orang kuat semisal pejabat tinggi level menteri atau jendral. "Backing saya lebih kuat, Allah Subhanahu Wa Ta'ala," tegasnya.

Baca Juga: LGBT Pasca Podcast Deddy Corbuzier, Giliran Mahfud MD Panen Kritikan

Meski demikian, pihaknya tidak akan menuding sembarangan, karena masalah hukum tidak bisa sembarangan. Kalau sudah ada bukti, siapapun dia, dipastikan akan masuk (penjara).

Menurutnya, kasus ini sudah berjalan dan Jaksa Agung juga tak mau tergesa-gesa untuk menentukan arahnya akan kemana. Tapi diyakini semua fakta itu nantinya nanti akan terungkap, termasuk siapa yang bermain di belakangnya.

Para koruptor itu, kata dia, tak ubahnya seperti maling ayam, karena sama-sama mencuri. Bedanya, para koruptor minyak goreng ini memiliki uang banyak yang bisa berbuat apa saja dan diyakini berbagai kalangan, punya backing.

Baca Juga: LGBT Bikin Gaduh, Deddy Corbuzier Minta Maaf, Netizen Malah Pertanyakan Ustadz Yang Diundang

Yang jelas, Jaksa Agung memastikan kelangkaan minyak goreng itu bukan akibat kegagalan sistem. Karena berdasarkan sistem, dari 100 persen produksi itu 80 persennya untuk kebutuhan dalam negeri dan hanya 20 persen saja yang diekspor.

Di dalam sistem juga sudah ada pengawasannya. "Sebagus apapun sistemnya, tetap harus diawasi. Karena managemen kontroling itu faktor utama," tegasnya.

Halaman:

Editor: Dwi Putro Agus Asianto

Sumber: Podcast Deddy Corbuzier

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X