• Selasa, 28 Juni 2022

Kasus Dua Konsultan Pajak Segera Digelar Di Pengadilan Tipikor Jakarta

- Minggu, 17 April 2022 | 22:11 WIB

SUARAKARYA.ID: Kasus dua konsultan pajak, Ryan Ahmad Ronas (RAR) dan Aulia Imran Maghribi (AIM) segera digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta waktu dekat. Hal itu bisa dipastikan karena penyidik KPK telah melimpahkan berkas kedua tersangka ke tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK.

Setelah disusun surat dakwaan oleh tim JPU kemudian dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Jakarta, maka Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dimana Pengadilan Tipikor berada akan menunjuk majelis hakim yang menanganinya. Selanjutnya majelis hakim tersebut membuat penetapan jadwal sidang atau pembacaan surat dakwaan untuk kedua tersangka terswebut.  

Plt Jubir KPK, Ali Fikri, mengatakan pemberkasan untuk tersangka Ryan Ahmad Ronas (RAR) dan Aulia Imran Maghribi (AIM) telah dinyatakan lengkap oleh tim jaksa sehingga dapat melaksanakan tahap II penyerahan tersangka dan barang bukti dari tim penyidik ke JPU. Penahanan tersangka tetap dilanjutkan tim Jaksa untuk masing-masing selama 20 hari ke depan, dimulai 14 April 2022 sampai dengan 3 Mei 2022. Untuk tersangka Aulia, kata Ali, Minggu (17/4/2022) ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Selatan. Sedangkan tersangka Ryan ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Barat.

Aulia dan Ryan, konsultan pajak yang mewakili PT Gunung Madu Plantations (GMP). Selain kedua tersangka tersebut, beberapa orang lainnya juga telah ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan ada yang tengah diadili bahkan sudah dijatuhi hukuman Pengadilan Tipikor Jakarta. Yaitu Angin Prayitno Aji selaku Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Dirjen Pajak tahun 2016-2019 dan Dadan Ramdani selaku Kepala Subdirektorat Kerjasama dan Dukungan Pemeriksaan pada Dirjen pajak.

Berikutnya Veronika Lindawati (VL) selaku kuasa wajib pajak; dan Agus Susetyo (AS) selaku konsultan pajak. Kedua tersangka ini belum dilakukan penahanan. Berikutnya Wawan Ridwan selaku Supervisor Tim Pemeriksa Pajak Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan (P2) pada Dirjen Pajak; Alfred Simanjuntak selaku Ketua Tim Pemeriksa Pajak Direktorat P2 pada Dirjen Pajak yang saat ini proses hukumnya dalam tahap persidangan di Pengadilan Tipikor.

Dalam berkas perkara konsultan pajak (Aulia dan Ryan) dari PT GMP melakukan pertemuan dengan Wawan, Alfred, bersama dengan tim sebagai tim pemeriksa pajak dari Dirjen Pajak untuk membahas mengenai adanya temuan terkait pembayaran pajak dengan wajib pajak PT GMP pada sekitar Oktober 2017. Berawal ada keinginan Aulia dan Ryan agar nilai kewajiban pajak PT GMP direkayasa atau diturunkan agar tidak sebagaimana ketentuan dengan menawarkan sejumlah uang kepada Wawan bersama tim.

Uang yang disiapkan oleh Aulia dan tersangka Ryan diduga sejumlah sekitar Rp 30 miliar sebagai "all in" yang bersumber dari uang perusahaan PT GMP yang ditujukan bagi fee pemeriksa pajak dan beberapa pejabat struktural di Dirjen Pajak Pusat serta pembayaran kewajiban pajak PT GMP.

Adapun nominal yang khusus diberikan kepada Wawan dan tim, untuk kemudian diteruskan lagi kepada Angin Prayitno dan Dadan Ramdani diduga sekitar Rp 15 miliar.  Keinginan Aulia dan Ryan dipenuhi oleh Wawan dan tim serta disetujui oleh Angin Prayitno dan Dadan, maka realisasi pemberian uang sejumlah sekitar Rp 15 miliar tersebut diduga diberikan dalam bentuk tunai kepada anggota tim dari Wawan. Penyerahan uang dilakukan di salah satu hotel di wilayah Jakarta Selatan. Kemudian, konsultan pajak PT Gunung Madu Plantations, yakni Ryan Ahmad Ronas; Aulia Imran Maghribi. Konsultan pajak PT Jhonlin Baratama, Agus Susetyo; serta kuasa wajib pajak PT Bank Panin, Veronika Lindawati. Selanjutnya, mantan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Bantaeng, Sulawesi Selatan, Wawan Ridwan dan eks Fungsional Pemeriksa Pajak pada Kanwil DJP Jawa Barat II, Alfred Simanjuntak.

Wawan dan Alfred terlibat dalam pemeriksaan pajak terhadap wajib pajak Bank Panin, PT Jhonlin Baratama, dan PT Gunung Madu Plantations. Mereka memeriksa berdasarkan arahan dari Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani.

Dalam proses pemeriksaan ketiga wajib pajak tersebut, KPK menduga adanya kesepakatan pemberian sejumlah uang agar nilai penghitungan pajak tidak sebagaimana mestinya.

Atas hasil pemeriksaan pajak yang telah diatur dan dihitung sedemikian rupa, Wawan dan Alfred serta tim pemeriksa pajak diduga menerima uang yang selanjutnya diteruskan kepada Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani.

Dalam persidangan sebelumnya, bekas pejabat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Wawan Ridwan mengakui menerima uang sejumlah Rp 2,5 miliar dari PT Jhonlin Baratama. Uang tersebut terkait dengan pengurusan penghitungan pajak dari PT Jhonlin Baratama. “Saya terima Rp 2,5 miliar,”  kata Wawan mengakui dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (14/4/2022).

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KKB Kembali Tembak Warga Sipil Di Papua

Selasa, 28 Juni 2022 | 07:08 WIB
X