• Sabtu, 20 Agustus 2022

Herry Wirawan Divonis Mati, Asetnya Disita Untuk Biayai Anak-anak Korban Pemerkosaannya

- Senin, 4 April 2022 | 23:20 WIB
 Herry Wirawan yang divonis mati. (Istimewa)
Herry Wirawan yang divonis mati. (Istimewa)


SUARAKARYA.ID: Herry Wirawan akhirnya divonis mati oleh Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung. Harta kekayaan pimpinan pondok pesantren yang telah memperkosa 13 santriwatinya itu juga disita untuk membiayai pendidikan dan kelangsungan hidup para anak korban dan bayi-bayinya, hingga mereka dewasa atau menikah.

Hakim mengabulkan banding dari jaksa penuntut umum (JPU). "Menerima permintaan banding dari jaksa/penuntut umum. Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana mati," ujar hakim PT Bandung yang diketuai oleh Herri Swantoro, Senin (4/4/2022).

Harta kekayaan atau aset Herry Wirawan yang disita itu berupa tanah dan bangunan serta hak-hak terdakwa dalam Yayasan Yatim Piatu Manarul Huda, Pondok Pesantren Tahfidz Madani, Boarding School Yayasan Manarul Huda, serta aset lainnya. Aset itu akan dilelang dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah cq Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Baca Juga: Pemerkosa 13 Santri Di Bandung Tak Dijatuhi Hukuman Kebiri

Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung memerintahkan agar 9 anak korban pemerkosaan Herry Wirawan itu, dirawat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. "Menetapkan sembilan orang anak dari para korban dan para anak korban agar diserahkan perawatannya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat cq UPT Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat, setelah mendapatkan izin dari keluarga masing masing dengan dilakukan evaluasi secara berkala," lanjut Herri Swantoro.

Anak-anak dari korban itu dapat kembali diasuh oleh orang tuanya, jika mereka sudah siap secara mental dan kejiwaan berdasarkan evaluasi.

Dalam perkara ini, Herry tetap dijatuhi hukuman sesuai Pasal 21 KUHAP jis Pasal 27 KUHAP jis Pasal 153 ayat ( 3) KUHAP jis ayat (4) KUHAP jis Pasal 193 KUHAP jis Pasal 222 ayat (1) jis ayat (2) KUHAP jis Pasal 241 KUHAP jis Pasal 242 KUHAP, PP Nomor 27 Tahun 1983, Pasal 81 ayat (1), ayat (3) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 65 ayat (1) KUHP dan ketentuan-ketentuan lain yang bersangkutan.

Baca Juga: JPU Berharap Hakim Hukum Pemerkosa Dengan Kebiri Kimia

Hakim berpendapat, terdakwa sebagai pendidik dan pengasuh pondok pesantren (ponpes) seharusnya melindungi dan membimbing anak-anak yang belajar, agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang. Namun sebaliknya, pria berusia 36 tahun ini malah memberi contoh tidak baik dan merusak masa depan anak-anak.

Dengan putusan tersebut, hakim PT Bandung menganulir putusan hakim PN Bandung yang sebelumnya hanya memvonis Herry Wirawan dengan hukuman seumur hidup. Selain itu, hakim PT Bandung beralasan menjatuhi hukuman mati agar melindungi masyarakat dari kejadian serupa.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X