• Sabtu, 13 Agustus 2022

Ibu Empat Bocah Hirup Udara Segar Setelah Peroleh Restorative Justice

- Senin, 28 Maret 2022 | 03:12 WIB

 

SUARAKARYA.ID: Seorang ibu rumah tangga Shinta binti Syamsuddin memiliki empat anak masih kecil-kecil, salah satunya 7 bulan, terpaksa mencuri telepon genggam dengan maksud untuk bayar rumah kontrakan. Pasalnya, suaminya yang bekerja sebagai buruh harian dengan pendapatan tidak menentu setiap bulannya sedang tidak bekerja.

Perbuatan pada Kamis 2 Desember 2021 itu dilakukan karena pemilik kontrakan tempat tinggal Shinta dengan keluarga datang menagih uang kontrakan sebesar Rp400.000. Terlebih karena  sudah menunggak beberapa bulan dan pemilik kontrakan juga meminta Shinta dan keluarganya untuk meninggalkan kontrakan miliknya apabila tidak membayar hari itu.

Saat melewati tokodi Pasar Sentral New Makassar Mall dan melihat hape cukup mahal, Shinta tanpa pikir panjang langsung mengambil handphone tersebut dan kembali ke rumah kontrakannya.  Keesokannya bertemu temannya Shinta meminjam uang Rp700 ribu dengan jaminan satu handphone.

Tidak lama berselang Shinta ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan ditahan untuk mempertanggung perbuatannya. Meski menyesali perbuatannya karena harus berpisah dengan anak-anaknya, terutama anaknya yang masih berusia 7 bulan, Shinta tetap saja dilimpahkan ke Cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar. Jaksa Peneliti mempelajari berkas perkaranya dan setelah mengetahui latar belakang dari perbuatan tersangka, Jaksa Peneliti bersama Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar melakukan pertemuan dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan R Febrytrianto SH, MH, Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Andi Darmawansyah SH, MH dan Kasi Oharda Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Andi Irfan SH. Mereka pun mengajukan permohonan ke Kejaksaan Agung tepatnya Jampidum Dr Fadil Zumhana SH MH agar perkara atas nama tersangka Shinta dapat dihentikan penuntutannya berdasarkan keadilan restoratif (restorative justice).

Jampidum Kejaksaan Agung ternyata mengabulkan upaya hukum restorative justice atas perkara Shinta, yang mencuri satu unit smartphone untuk membayar kontrakan. Hal itu dibenarkan Kapuspenkum Kejaksaan Agung Ketut Sumedana. “Tersangka sudah bebas tanpa syarat setelah permohonan penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif yang diajukan Cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar disetujui oleh Jampidum Dr Fadil Zumhana,” kata Kapuspenkum Kejaksaan Agung Ketut Sumedana, Minggu (27/3/2022).

Penghenhentian proses hukum terhadap Shinta setelah pihak Cabang Kejaksaan Negeri Makassar mempertemukan Shinta dengan korban berinisial N. Mendengar keterangan dari Shinta, saksi korban N merasa tak kuasa karena uang yang didapat dari hasil mencuri smartphone.  “Jadi saksi korban N secara kesadaran penuh memaafkan perbuatan dari Shinta dan menempuh jalur keadilan restoratif alias restorative justice. Saat mendengarkan latar belakang perbuatan tersangka, korban menangis dan sebagai sesama seorang ibu, korban berbesar hati dan memaafkan perbuatan tersangka Shinta,”tutur Ketut.

Adapun alasan lain pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan yakni yang pertama, tersangka Shinta baru pertama kali melakukan perbuatan pidana atau belum pernah dihukum. Kedua, tindak pidana dalam hal tersebut terdapat kriteria atau keadaan yang bersifat kasuistik.  “Ketiga, tersangka menyesali perbuatannya dan korban N memaafkan perbuatan,”kata Ketut.

Keempat, tersangka serta korban tidak merasa keberatan sehingga perkara tidak dilanjutkan ke persidangan. Kelima, tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Ketut menceritakan terkait alasan Tersangka mencuri dikarenakan untuk membayar uang kontrakan dan Tersangka adalah seorang ibu yang memiliki 4 (empat) orang anak yang masih kecil.

Halaman:

Editor: Gungde Ariwangsa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemerintah Agar Patuhi Keputusan Mahkamah Agung

Rabu, 10 Agustus 2022 | 13:11 WIB
X