• Minggu, 2 Oktober 2022

Nasabah WanaArtha Nantikan Keadilan Wakil Tuhan Di Muka Bumi

- Senin, 12 Oktober 2020 | 18:54 WIB

"Semoga Yang Mulia Majelis Hakim, senantiasa berpegang teguh pada hati nuraini. sehingga pantas menyandang gelar sebagai wakil Tuhan," ungkapnya.

Difen Winata yang mewakili ribuan nasabah WanaArtha sudah jelas menggantungkan harapan terakhir pada Majelis Hakim untuk mendapatkan kembali uangnya.

"Palu hakim adalah pengharapan paripurna bagi penegakan hukum yang adil dan berperikemanusiaan. Keadilan harus tetap ditegakkan sekali pun ada intervensi penguasa memengaruhi keyakinan majelis karena hal itu adalah janji hakim dihadapan Tuhan. Jadi, kami mohon kepada Majelis Hakim dalam kasus putusan Jiwasraya untuk tidak memasukkan uang nasabah WanaArtha dalam barang bukti yang dirampas,"ungkap Difen.

Pembodohan Publik

Difen mewakili nasabah WanaArtha di Pulau Sumatera meminta Majelis Hakim untuk mempertimbangkan hak-hak nasabah dalam putusan kasus korupsi jiwasraya.

"Kami para nasabah WanaArtha berharap Majelis Hakim berpihak pada kebenaran bahwa kami tidak terkait dengan korupsi jiwasraya seperti yang didakwakan jaksa penuntut umum selama ini dan dinarasikan bahwa kita ini dianggap bodoh agar tidak menuntut Kejagung tapi WanaArtha karena yang mereka sita adalah kepunyaan Bentjok. Itu kan pembodohan publik. Dana kita pure masuk ke virtual account dan pihak WanaArtha tidak bisa menggunakan dana kelolaan untuk investasi yang tidak wajar," tandasnya.

Termasuk pernyataan Jampidsus Ali Mukartono bahwa asuransi WanaArha telah gagal bayar pada sejak Oktober 2019 karena tersangkut dengan kasus Jiwasraya adalah pernyataan yang sesat karena kenyataannya nasabah masih menerima manfaat sampai maret 2020 sebelum Kejagung membekukan aset-aset WanaArtha.

Sementara itu, Pan Esther salah seorang nasabah WanaArtha yang penyintas kanker payudara menuturkan dampak yang diterima setelah aset-aset WanaArtha dibekukan banyak nasabah yang mengalami kesusahan dan kesulitan untuk berobat.

"Saya bersama para nasabah yang kini sedang sakit sudah tidak dapat menerima manfaat lagi dari WanaArtha untuk membiayai pengobatan kami. Banyak teman-teman saya yang menderita kanker dan penyakit kronis lainnya yang tidak lagi mampu membeli obat dan melanjutkan pengobatan karena tidak memiliki uang yang cukup akibat hartanya dirampas oleh Kejaksaan Agung dan yang paling parah ada dari mereka yang meninggal dunia menderita sakit karena terhimpit kasus dibekukan nya aset WanaArtha," ungkapnya.

Magdalena, Pemegang Polis asal Rantau Prapat, Labuhan Batu Sumut yang didiagnosa dokter akibat luka di kepala sehingga tempurung sebelah kiri pecah dan mengalami gegar otak dan sekarang masih masa perawatan sangat menderita akibat tidak mendapat nilai manfaat dari polisnya total sebesar 800 Juta.

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

Kapolri : 3 Kapolda Tidak Terlibat Kasus Ferdy Sambo

Jumat, 30 September 2022 | 18:18 WIB
X