• Minggu, 2 Oktober 2022

Nasabah WanaArtha Nantikan Keadilan Wakil Tuhan Di Muka Bumi

- Senin, 12 Oktober 2020 | 18:54 WIB

Jika membedah isi dari Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 99/PEN.PID.SUS/TPK/V/2020/PN.Jkt.Pst. yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2020 maka sangat jelas sekali bahwa yang disita adalah Rekening-rekening Efek atas nama PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (WAL) dengan Nomor SID : : ISD 170599801960 dan SID: ISD 070783200262 berikut SUB Rekening Efek dimana di dalam sub rekening efek tersebut terdapat berbagai jenis saham termasuk saham-saham yang diterbitkan oleh BUMN.

Ada juga produk unitlink dan produk Tabarru. Berdasarkan Pasal 33 ayat 1 dan 2 Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, perjanjian kepemilikan saham dalam perseroan terbatas untuk dan atas nama orang lain, dilarang dan batal demi hukum. Di dalam Pasal 48 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga diatur bahwa saham dikeluarkan atas nama pemiliknya. Jadi tidak bisa nama pemegang saham berbeda dengan pemilik sebenarnya.

"Berdasarkan siaran pers OJK Nomor SP 09/DHMS/OJK/II/2020 tertanggal 18 Februari 2020 maka OJK menyatakan bahwa beberapa rekening WanaArtha tidak terkait kasus Jiwasraya. Dari sini menunjukkan bahwa tidak benar bahwa yang disita oleh Kejagung semuanya adalah milik Benny Tjokrosaputro,"tegas praktisi hukum lulusan Universitas Parahyangan ini.

Stephanie yang juga nasabah menegaskan dalam kesaksian Benny Tjokrosaputro (Bentjok) dalam kesaksian di sidang Jiwasraya sudah dinyatakan bahwa WanaaArtha hanya merupakan investor.

"Bukan nominee dan milik Bentjok. Kesaksian di persidangan merupakan salah satu alat bukti hukum. Oleh karena itu berdasarkan fakta fakta di persidangan dengan berlandaskan pada keadilan dan hati nuraini maka kami memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim sebagai Wakil Tuhan di dunia ini, untuk mengangkat sita SRE WanaArtha Life," ucap guru di sekolah swasta ini.

Rudy kembali mengingatkan hati nuraini itu sangat penting karena Hakim sejatinya adalah profesi yang mulia (officium nobile). Saking mulianya, hanya hakim yang berhak mendapat gelar “Yang Mulia”. Tidak ada pejabat lain yang berhak, bahkan presiden sekalipun. Hakim yang masuk surga adalah hakim yang mengetahui kebenaran, serta memutus dengan kebenaran berdasarkan hati nuraini

"Hakim adalah benteng terakhir penegakan hukum. Adagium hukum fiat justicia ruat coelum (keadilan harus tetap ditegakkan, walau langit runtuh) adalah pegangan hakim yang jujur, profesional, dan bermartabat,"ujarnya.

Hakim, kata dia, sebagai korps bukan wakil setan. Salah satu lambang hakim adalah simbol Kartika, yang berarti setiap putusan hakim akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan Yang Maha Adil.

"Dalam mewujudkan keadilan maka senjata paling ampuh adalah hati nuraini hakim. Bukan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, Badan Pengawasan Mahkamah Agung, dan Komisi Yudisial. Hati nuraini tidak akan pernah bohong dan tidak akan dapat dibohongi. Hati nuraini yang akan membimbing hakim pada jalan Tuhan. Bahkan hati nuraini orang terjahat di dunia pun akan mengatakan bahwa kejahatan dan ketidakadilan itu tindakan salah yang akan membuat hati gelisah,"ucapnya.

Rudy berkeyakinan hati nuraini pasti akan mengingatkan hakim untuk senantiasa menjaga amanat sebagai wakil Tuhan. Kepercayaan publik, atas hakim, tentu sangat mendukung hakim untuk memberikan hukum yang berkeadilan dengan harapan hakim berbuat lebih baik. Lebih profesional, lebih bersih, lebih transparan, lebih berkeadilan dan lebih “menghadirkan” Tuhan dalam setiap putusannya.

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

Kapolri : 3 Kapolda Tidak Terlibat Kasus Ferdy Sambo

Jumat, 30 September 2022 | 18:18 WIB
X