• Sabtu, 20 Agustus 2022

Harapan Pamungkas Palu Hakim, Nasabah Minta Keadilan: Kembalikan Sita WanaArtha!

- Sabtu, 3 Oktober 2020 | 23:54 WIB
Pesan kepada Menteri Kabinet Jokowi dari sosmed Dewi Soegeng Sarjadi, janda mendiang tokoh Angkatan 66 yang juga Pemegang Polis WanaArtha tentang kisah pilu salah sita rekening WanaArtha oleh Kejagung, Pan Ester yang menumpahkan tangisan kepada staf Jaksa di Gedung Jampidsus, dan aksi demo simpatik nasabah di Gedung MA dan PN Jakpus mendukung moral Majelis Hakim untuk memberikan keputusan yang adil, beradab, dan bermartabat untuk rakyat yang diwakili nasabah WanaArtha (Ist)
Pesan kepada Menteri Kabinet Jokowi dari sosmed Dewi Soegeng Sarjadi, janda mendiang tokoh Angkatan 66 yang juga Pemegang Polis WanaArtha tentang kisah pilu salah sita rekening WanaArtha oleh Kejagung, Pan Ester yang menumpahkan tangisan kepada staf Jaksa di Gedung Jampidsus, dan aksi demo simpatik nasabah di Gedung MA dan PN Jakpus mendukung moral Majelis Hakim untuk memberikan keputusan yang adil, beradab, dan bermartabat untuk rakyat yang diwakili nasabah WanaArtha (Ist)

JAKARTA: Pemegang Polis atau nasabah Asuransi WanaArtha Life kembali mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat untuk melakukan aksi damai. Dengan tujuan agar pengadilan sebagai ujung akhir pencarian keadilan dapat menetapkan dan mengembalikan Sub Rekening Efek (SRE) kepada WanaArtha Life untuk selanjutnya dikembalikan kepada pemegang polis.

"Faktanya, Sub rekening Efek Wanaartha Life tidak memenuhi syarat benda yang dapat dilakukan penyitaan berdasarkan pasal 39 KUHAP karena barang bukti Sub Rekening Efek itu berisi sebagian besar dana premi kelolaan, yang sejatinya milik Pemegang Polis. Kami Pemegang Polis tidak terlibat apalagi bersalah dan bukan tersangka apalagi terdakwa, bukan hasil tindak pidana dan tidak digunakan dalam melakukan tindak pidana," ujar Afrida Siregar, Pemegang Polis Asuransi WanaArtha Life bersama keluarga besarnya di Gedung PN Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2020). 

Menurut Afrida, hak-hak Pemegang Polis sejatinya telah dilindungi Undang-undang (UU) berdasarkan Pasal 21 ayat 1 UU Asuransi Nomor 40 tahun 2014 dan Pasal 42 ayat 1 Peraturan OJK Nomor 71 Tahun 2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan peraturan perubahannya.

"Demi tegaknya hukum, barang bukti yang tidak terkait harus dilepaskan dan dikembalikan kepada pemiliknya sesuai amanat Pasal 46 KUHAP karena tidak lagi dibutuhkan dalam penyidikan dan penuntutan yang hampir segera berakhir di pemeriksaan sidang Jiwasraya di PN Pusat,"tegas Afrida.

Penyitaan Sub Rekening Efek WanaArtha Life, bukan saja telah menghukum dan menyandera hak ekonomi Pemegang Polis yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu carut marut masalah korupsi Jiwasraya tapi nyata telah mengorbankan 26 ribu Pemegang Polis yang begitu terdampak atas penyitaan ini.

Phan Ester, perempuan paruh baya penyintas kanker payudara stadium 3 yang juga Pemegang Polis WanaArtha menuturkan dampak sistemik gagal bayar asuransi berusia 46 tahun ini akibat sita serampangan Kejagung telah menggerus asanya untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan kanker stadium tiga. Pasalnya, dia tidak bisa lagi mengandalkan manfaat nilai polis selama 7 bulan ini untuk membiayai biaya kesehatan rutin kontrol dokter dan mengkonsumsi obat-obatan dari rumah sakit. Ditambah derita Pandemi Covid-19 ini benar-benar menjadi mimpi buruk dia dan keluarganya.

Tak ayal karena tidak kuat menahan derita materiil dan imateriil, Esther memohon dan bersimpuh kepada staf Kejagung yang berusaha menerima perwakilan nasabah karena tidak bisa menjumpai Jampidsus Ali Mukartono yang dianggap menjadi tokoh sentral terkait persoalan penyitaan rekening efek WanaArtha. Esther bahkan bertutur jujur gara-gara dia tidak bercerita kepada keluarga besar terkait tabungan selama usia 24 tahun dari hasil menabung saat ditaruh untuk kepemilikan polis di WanaArtha, akhirnya dia harus menanggung beban ketidaknyamanan dengan anak dan mantunya. Esther merasa berdosa tidak berterus terang padahal yang harus menanggung dosa adalah pihak yang menyita rekening WanaArtha.

"Tolong Pak Jaksa Agung Burhanuddin dan Pak Jampidsus Ali membuka mata batin bapak bahwa akibat penyitaan ini membuat derita ribuan orang Pemegang Polis dan ratusan ribu keluarganya. Kami menabung dari sejak muda untuk masa pensiun, menyekolahkan anak-cucu, menjaga kesehatan kami. Jadi murni itu uang kami bukan hasil korupsi Jiwasraya. Bagaimana jika keluarga bapak bernasib sama seperti kami. Tentu bapak-bapak tidak bisa menerimanya kan? Maka tolong demi suara orang kecil dan nilai kemanusiaan serta tidak tahu perilaku elit yang jahat. Mohon angkat sita. Sudahi kekeliruan ini karena Tuhan maha pengampun dan kelak Bapak terberkati," ucap Esther.

Demikian juga dirasakan oleh Dewi Soegeng Sarjadi di Bogor. Janda tokoh Angkatan 66 dan pendiri Kodel ini telah membina ratusan santri, yatim, dhuafa, marbot-marbot bertahun-tahun di sekitar Bogor dan Sukabumi.

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

X