• Sabtu, 20 Agustus 2022

Aksi Damai Nasabah WanaArtha Guncang 5 Kota: Selamatkan Asuransi Nasional!!

- Selasa, 22 September 2020 | 23:43 WIB
Rarusan nasabah atau Pemegang Polis WanaArtha Life menggelar aksi demo serentak di 5 kota Pulau Jawa dan Sumatera, masing-masing Surabaya, Semarang, Kediri, Yogyakarta dan Palembang. Aksi damai di Kota Semarang selain menuntut sita rekening WanaArtha oleh Kejaksaan diangkat juga ditampilkan teatrikal tokoh wayang Rahwana dan Hanoman yang mencerminkan kekuatan keburukan dan kebaikan
Rarusan nasabah atau Pemegang Polis WanaArtha Life menggelar aksi demo serentak di 5 kota Pulau Jawa dan Sumatera, masing-masing Surabaya, Semarang, Kediri, Yogyakarta dan Palembang. Aksi damai di Kota Semarang selain menuntut sita rekening WanaArtha oleh Kejaksaan diangkat juga ditampilkan teatrikal tokoh wayang Rahwana dan Hanoman yang mencerminkan kekuatan keburukan dan kebaikan

SEMARANG: Nasabah atau Pemegang Polis WanaArtha Life kembali melakukan aksi damai yang lebih besar dan massif di sejumlah kota Nusantara dengan satu tuntutan Kejaksaan Agung (Kejagung) segera membuka penyitaanSub Rekening Efek (SRE) WanaArtha. Pasalnya, seluruh dana yang disita Kejagung merupakan milik dan hak pemegang polis WanaArtha Life (WAL) yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan dugaan tindak pidana korupsi Jiwasraya.

Kali ini aksi dilakukan secara serentak di lima kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera, yakni Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Kediri, dan Palembang.

Unjuk rasa bertajuk "Aksi Damai Ria" tersebut sengaja dilakukan sebelum Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus Jiwasraya membacakan tuntutan. Tujuannya, agar hati nurani JPU lebih mengutamakan kepentingan, harkat, dan martabat Pemegang Polis sebagai pemilik murni dan sah aset kelolaan WanaArtha Life yang diwujudkan dalam bentuk kepemilikan polis.

"Bahwa dana yang mereka (Kejaksaan-red) sita bukanlah milik WanaArtha semata, melainkan juga milik Pemegang Polis," kata Hendro Yuwono Salim, salah satu nasabah WanaArtha yang mengkoordinir aksi damai dari Kediri, Jawa Timur Selasa (22/9/2020).

Hendro mengingatkan Undang-Undang (UU) No.40 Tahun 2014 tentang Perasuransian telah mengatur secara tegas kepentingan Pemegang Polis yang dilindungi oleh Undang-Undang. Selain itu dalam pasal 21 ayat 1 dan pasal 42 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK 2016) tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi menyatakan bahwa "Kekayaan dan kewajiban yang terkait dengan hak Pemegang Polis, Tertanggung, atau Peserta wajib dipisahkan dari kekayaan dan kewajiban yang lain dari Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, atau perusahaan Reasuransi Syariah".

Rena, salah satu Pemegang Polis dan juga agen pemasar senior WanaArtha di wilayah Jateng meminta JPU pada Kejaksaan Agung semestinya melakukan penyitaan secara prudent dan harus mau berbesar hati atau legowo mengangkat sita dan mengembalikan SRE WanaArtha kepada pemilik sah dana tersebut karena SRE WanaArtha tidak memenuhi kriteria barang yang dapat disita berdasarkan pasal 39 KUHAP yaitu bukan barang milik tersangka atau terdakwa dan juga bukan diperoleh dari hasil tindak pidana apa pun.

"Pemegang Polis maupun WanaArtha sendiri hanya sebagai saksi, sehingga seharusnya berdasarkan pasal 46 ayat 1 KUHAP maka barang bukti (barbuk) SRE WanaaArtha harus dikembalikan kepada pemiliknya yang paling berhak yaitu WanaArtha Life untuk selanjutnya dikembalikan guna memenuhi hak-hak kepada Pemegang Polis karena tidak memenuhi kriteria pasal 39 dan tidak lagi dibutuhkan dalam penyidikan dan penuntutan,"jelas Rena.

Tika Setia Aji, salah satu penggerak aksi damai di DI Yogyakarta mengatakan jika Kejaksaan Agung betul-betul menjunjung tinggi rasa kebenaran dan keadilan masyarakat maka kepercayaan masyarakat terhadap pencari keadilan di institusi di republik ini yakni Kejagung masih ada titik terang. Dan, dampaknya kepercayaan publik terhadap industri asuransi nasional akan kembali pulih yang saat ini tergerus karena dikaitkan perkara hukum yang tidak ada sangkut pautnya dengan dana para nasabah. Namun, jika sebaliknya Kejaksaan melakukan penyitaan tanpa objektifitas dengan mengesampingkan barang bukti itu milik Pemegang Polis yang berujung kepada perampasan negara maka menjadi awal kehancuran bagi perjalanan asuransi nasional di negeri ini.

"Maka sudah saatnya pemerintah dan para pelaku asuransi membela, mengayomi, melindungi, dan menyelamatkan asuransi nasional beserta Pemegang Polis yang telah memercayakan perlindungan dan perencanaan keuangannya kepada asuransi nasional dalam hal ini Wanaartha Life yang juga ikut berkontribusi bagi pembangunan nasional dalam SDIP (Sustainable Development Investment Partnership) serta sebagai salah satu wakil Indonesia yang terdaftar dalam World Economic Forum yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dalam bentuk pembayaran pajak, lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha,"jelas Tika.

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

X