• Sabtu, 20 Agustus 2022

Wanartha Life: Bunga Papan Nasabah Ditebar Di Sidang JS, Desak Negara Hadir Bela Hak Terdzolimi

- Rabu, 3 Juni 2020 | 23:55 WIB

JAKARTA: Nasabah Wanaartha Life (WAL) mengirim puluhan bunga papan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) di Jalan Bungur Raya, Pasar Senen, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2020).

Kiriman karangan bunga papan ini sebagai reaksi terhadap sidang perdana Pengadilan Tipikor Jakarta pada PN Jakarta Pusat kepada enam tersangka PT Jiwasraya (Persero) yang harus menyeret Wanaartha Life dalam pusaran hukum yang menimpa perusahaan asuransi plat merah tersebut dan berakibat terblokirnya rekening efek WAL oleh Kejaksaan Agung dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Akibat pemblokiran tersebut, ratusan ribu nasabah atau pemegang polis (PP) tidak mendapatkan manfaat nilai tunai setiap bulannya dari polis WAL Invest sejak akhir Februari hingga Juni 2020 ini serta polis nasabah yang sudah jatuh tempo pun tidak bisa dicairkan akibat pemblokiran secara sepihak oleh pengacara negara dan otoritas keuangan tersebut.

Dalam persidangan Tipikor ini enam tersangka kasus korupsi pengelolaan dana dan investasi Asuransi Jiwasraya adalah Direktur Utama PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto.

Kemudian mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo dan mantan Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim serta mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan. Khusus untuk tersangka HH dan BT ditambahkan pasal tindak pidana pencucian uang.

Karangan bunga papan yang berjejer di depan PN Jakpus tersebut adalah inisiasi aktif dari ribuan Pemegang Polis (PP) WAL yang sudah tidak sabar selain karena ketidakcepatan dan aksi konkret manajemen Wanaartha Life untuk merespon tuntutan nasabah juga karena merasa terdzolimi oleh cara dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh organ negara yang seharusnya hadir untuk melindungi hak-hak pemegang polis yang juga adalah rakyat. Tetapi yang terjadi karena diduga dana kelolaan WAL tersangkut dalam investasi ke saham-saham terkait Jiwasraya dan saham-saham para tersangka yang bermasalah tersebut, berakibat pemegang polis harus gigit jari menanggung dosa pengelola WAL.

Para pemegang polis WAL menyampaikan aspirasi dan jeritan hatinya dalam tulisan di karangan bunga papan yang berisikan permintaan agar dana atau investasi mereka bisa kembali secepatnya.

Dari puluhan karangan bunga, sebagian besar ditunjukan kepada Presiden Joko Widodo. Salah satunya, pesan meminta Presiden Jokowi segera turun untuk bisa membantu menyelesaikan masalah yang menimpa ratusan ribu pemegang polis dari hak-hak mereka yang hingga 4 bulan ini belum terselesaikan.

Pemegang polis meminta negara hadir saat rakyat terdzolimi akibat kesewenang-wenangan oknum negara baik di Kejaksaan Agung maupun OJK. Jika negara tidak hadir dan tidak bisa membantu menyelesaikan persoalan krusial ini maka rakyat tidak bisa mempercayai pemimpin di Republik ini.

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

X