Lima Kali Raih Penghargaan Industri Hijau Bukti Konsistensi SidoMuncul Efisienkan Sumber Daya Berkelanjutan

- Selasa, 29 November 2022 | 09:40 WIB
Direktur SidoMuncul Irwan Hidayat didampingi Hadi Hartoyo selaku Factory Head SHI menerima penghargaan industri hijau Kemenperin dengan 5 kali meraih penghargaan industri hijau menjadi bukti konsistensi SIDO mampu efisienkan sumber daya secara berkelanjutan (AG Sofyan )
Direktur SidoMuncul Irwan Hidayat didampingi Hadi Hartoyo selaku Factory Head SHI menerima penghargaan industri hijau Kemenperin dengan 5 kali meraih penghargaan industri hijau menjadi bukti konsistensi SIDO mampu efisienkan sumber daya secara berkelanjutan (AG Sofyan )
SUARAKARYA.ID: Komitmen tinggi sebagai perusahaan berwawasan lingkungan 
PT Industri Jamu dan Farmasi SidoMuncul Tbk berkomitmen menerapkan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk menjalankan bisnisnya.
 
Direktur SidoMuncul Irwan Hidayat mengatakan dalam melakukan kegiatan produksi, pihaknya berupaya berpegang teguh kepada tata kelola dan ketaatan kepada regulasi yang mengutamakan keberlangsungan green economy.
 
 
Mengingat jaman sekarang, bisnis harus dibarengi dengan kesuksesan mengelola lingkungan.
 
Irwan menyebut SidoMuncul telah mewujudkan transformasi sektor industri ke arah pembangunan berkelanjutan melalui konsep industri hijau.
 
Pada kegiatan penganugerahan penghargaan Industri Hijau dan Penyerahan Sertifikat Industri Hijau 2022 yang diserahkan oleh Menteri Perindustrian, PT Industri Jamu dan Farmasi SidoMuncul Tbk kembali menerima penghargaan Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
 
 
Dalam penghargaan tersebut, SidoMuncul berada di level 5 atau level tertinggi yang berarti telah menerapkan prinsip industri hijau secara berkelanjutan.
 
Diketahui, penghargaan Industri Hijau ini adalah penghargaan yang kelima diterima oleh perusahaan jamu dan farmasi terbesar dan termodern ini sejak 2017.
 
 
SidoMuncul juga selalu mendapatkan penghargaan yang sama. Hanya saja, pada 2020 penghargaan tersebut ditiadakan karena Covid-19.
 
Sebab itu, Irwan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada karyawan SidoMuncul yang  bekerja dengan hati dan berusaha membawa SidoMuncul tetap konsisten meneguhkan sebagai perusahaan berbasis industri hijau.
 
 
""Sebuah usaha harus dibarengi kesuksesan mengelola lingkungan. Penghargaan dan pengakuan pemerintah ini yang kelima. Jaman sekarang sebuah usaha atau bisnis harus dibarengi dengan kesuksesan mengelola lingkungan. Terima kasih kepada jajaran produksi SidoMuncul, terutama Apt. Wahyu Widayani, S.Si selaku Factory Head SidoMuncul dan Hadi Hartoyo sebagai Factory Head Semarang Herbal Indoplant (SHI). Anda semua hebat. Jadi buat saya, ini sangat menggembirakan. Artinya, sebagai pengusaha, kami menjadi pengusaha yang berwawasan lingkungan," ujar Irwan kepada wartawan secara daring dan luring dari Hotel Tentrem, Semarang , Semarang, Jumat (25/11/2022).
 
"Saya juga sampaikan apresiasi tinggi atas dukungan pemerintah sehingga SidoMuncul bisa terus mendukung program pemerintah dalam mengakselerasi ekonomi berbasis industri hijau melalui efisiensi sumber daya alam dan penerapan circular economy, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti biofuel, biomass dan refuse derived fuel (RDF) atau bahan bakar yang dihasilkan dari berbagai jenis limbah seperti limbah padat perkotaan, limbah industri atau limbah komersial," imbuh sulung dari 5 bersaudara generasi kedua SidoMuncul (Irwan Hidayat, J Sofjan Hidajat, Johan Hidayat, Sandra Hidayat dan David Hidayat) ini.
 
 
Direktur SidoMuncul Irwan Hidayat saat konpres dengan wartawan secara daring dan luring dari Hotel Tentrem Semarang yang juga milik kelompok usaha SIDO terkait penghargaan yang kelima sebagai industri hijau dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) (AG Sofyan )
Tentunya hal itu juga berpengaruh bagi bisnis SidoMuncul yang konsumennya jamak juga dari kalangan milenial.  Sebab saat ini, milenial cenderung akan menilai suatu produk yang juga memikirkan dampak kepada lingkungan. Karena itu, pihaknya terus berupaya mengedepankan industri dengan lingkungan berkelanjutan.

"Ya memang menurut saya masa depan itu adalah masa depan yang harus memelihara lingkungan. (Untuk hal itu) di kami kita pakai Energi Baru Terbarukan, produk limbah jamu digunakan sebagai bahan pembakaran, dan ada juga menggunakan listrik gas alam sebesar 10-11%," jelas Irwan.
 
 
Kesuksesan SidoMuncul dalam meraih pencapaian tersebut juga tidak terlepas dari berbagai inovasi. Termasuk komitmen perusahaan untuk memberikan perhatian terhadap kelestarian lingkungan.
 
SidoMuncul tak hanya memerhatikan aspek emisi dari proses produksi, pengelolaan limbah, kelestarian lingkungan juga mendapatkan perhatian serius. 
 
 
Tak luput pula melakukan efisiensi mulai dari penggunaan air, listrik, hingga bahan bakar. Sehingga tidak an sich menjalankan bisnis dan meraup cuan gede semata tetapi keberadaan bisnis juga harus dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
 
Gunakan EBT 
 
Irwan membeberkan perusahaan juga telah bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk pemakaian listrik dengan EBT
 
Dia mengaku, penggunaan energi baru terbarukan atau EBT ini justru biayanya lebih tinggi 3% dibanding listrik industri. Meski begitu pihaknya tetap berkomitmen menggunakan EBT sebagai wujud dukungan terhadap pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan.
 
 
"Nantinya, pabrik kami akan menggunakan EBT secara bertahap dan berkelanjutan, sekalipun ada kenaikan biaya. Namun saya sadar sekali, masa depan bisnis harus dibarengi memelihara lingkungan sebaik mungkin," katanya
 
Irwan menuturkan SidoMuncul telah memasang solar panel di pabrik baru SidoMuncul di Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 
 
 
Berkat komitmen tersebut SidoMuncul, kata dia, dianugerahi sertifikat dari PLN sebagai The First National Customers Categori Herbal Medicine Company Receiving Renewable Energy Certificate (REC)..
 
Upaya lainnya juga dengan mengadakan community development dengan mendorong program pengembangan masyarakat di sekitar pabrik SidoMuncul. Agar masyarakat sekitar pabrik merasakan manfaat langsung dari keberadaan pabrik SidoMuncul.
 
 
SidoMuncul, kata Irwan, juga menggunakan limbah industri produk jamu sebagai  bahan bakar. Listriknya menggunakan tenaga surya. Untuk penggunaan gas ramah lingkungan jumlahnya sekitar 11 persen saja. Sebanyak 90 persen menggunakan EBT dan  10 persen menggunakan gas ramah lingkungan.
 
Pabrik SidoMuncul telah menggunakan solar panel sebagai bentuk komitmennya untuk ikut menurunkan emisi karbon dan menggunakan enargi baru terbarukan (EBT) hingga berdampak mendapatkan sertifikat dari PLN sebagai The First National Customers Categori Herbal Medicine Company Receiving REC (AG Sofyan )
"Masa depan berbisnis harus  dibarengi dengan  pemeliharaan lingkungan. Sehingga Indonesia tidak hanya jadi negeri kaya saja tetapi lingkungannya juga jangan sampai rusak," ucapnya.
 
 
Ia juga mengatakan untuk limbah yang telah digunakan, pihaknya telah memenuhi syarat dan aturan yang berlaku. 
 
Contohnya, seperti limbah cair pengelolaannya sudah sesuai dengan syarat yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sedangkan untuk limbah padat, akan diolah sebagai bahan bakar.

"Kami tidak pernah membuang limbah, semuanya kita gunakan habis. Kami menghasilkan jamu, minyak atsiri, dan terakhir limbah yang digunakan tidak terbuang," urai sociopreneur ini.
 
Baca Juga: Lirik Lagu Care Bebek, Lagu Viral TikTok

Seperti diketahui, limbah dari produksi SidoMuncul juga diolah menjadi pupuk organik yang sudah diperjualbelikan kepada para petani. Irwan berharap ke depannya pupuk organik dari Sido Muncul Pupuk Nusantara (SMPN)  bisa merambah pasar lebih luas lagi.
 
Sedangkan untuk pengolahan air limbah produksi SidoMuncul dilakukan pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
 
Pengolahan air limbah domestik dengan tangki bioseptik sehingga keduanya menjadi air yang memenuhi baku mutu sebelum dikeluarkan ke badan air yaitu sungai.
 
 
"Untuk limbah padat yang didapat dari sisa proses ekstraksi akan diolah menjadi pupuk organik dan bahan bakar boiler (pellet). Melalui upaya penanganan limbah tersebut, SidoMuncul telah menjadi perusahaan yang ramah lingkungan," jelas Irwan.
 
Pemuliaan Eceng Gondok
 
Tekad untuk mendukung energi hijau,  SidoMuncul juga melakukan penelitian pemanfaatan dan pemuliaan tumbuhan eceng gondok di Rawa Pening, Salatiga.  Bahkan eceng gondok diolah menjadi sumber energi baru padat berbentuk pelet pengganti bahan bakar minyak (BBM) dan gas. 
 
 
Selama lima tahun ini, kata Irwan, kebutuhan energi bahan bakar memakai limbah jamu 50% dan gas 50%. Wood pellet diolah dari ampas limbah padat jamu. Begitu juga dengan eceng gondok juga bisa digunakan.
 
"Lima tahun lalu saya temukan ide eceng gondok untuk bahan bakar. Tapi sayangnya kapasitasnya sedikit," ucapnya.
 
Irwan membeberkan potensi Rawa Pening yang memiliki luas hingga 2800 hektar itu bisa dijadikan danau lagi. 
 
 
"Kalau sekarang hanya 900 hektar. Sebab itu kawasan Rawa Pening harus dikembangkan, mengingat lokasinya strategis, 30 Km dari  Kota Semarang dan dikelilingi enam daerah aliran  sungai. Dikelilingi tiga gunung yang memiliki sumber air bersih. Sehingga Rawa Pening bisa dikembalikan fungsinya sebagai sumber air bersih untuk diminum. Dan sangat potensial untuk destinasi pariwisata Jawa Tengah.***
 
 
 
 


Editor: Markon Piliang

Sumber: Liputan langsung lapangan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Stabilkan Harga Beras, Bulog NTB Gelar SPHP

Senin, 30 Januari 2023 | 12:40 WIB

INPP Optimis Pendapatan Perseroan Tumbuh 20-25 Persen

Jumat, 27 Januari 2023 | 09:18 WIB
X