Kembangkan Technologi Smart Farming dan Green House, Petani Milenial Subang Pukau President IFAD

- Jumat, 18 November 2022 | 08:22 WIB
Smart Farming Kementan (Ist)
Smart Farming Kementan (Ist)

SUARAKARYA.ID: Pemanfataan digital bisa digunakan di semua sektor kehidupan. Tidak terkecuali disektor pertanian. Ditengah masa pandemi yang belum juga usai, generasi muda sebagai harapan bangsa dituntut kreatif dengan menggunakan teknologi sebagai celah untuk maju dan tumbuh, demikian disampaikan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo.

"Eramu tersedia, era yang serba uncertain, tapi dengan tingkat kapasitas kritis dan kreatif, didukung behavior yang kuat, membutuhkan keringat, kaum muda bisa menjadi sukses menghadapi ini semua". tegas Mentan.

Mentan Syahrul menyebutkan penguatan kompetensi diri generasi muda untuk bergelut pada teknologi adalah hal yang mutlak, dan sektor pertanian merupakan bidang yang memiliki celah untuk pengembangan produktif tersebut. Pria yang akrab di sapa Komandan ini pun memaparkan pembabakan fase, dimana pertanian kini bersiap memasuki gerbang digitalisasi industri 4.0 dan sedikit demi sedikit telah meninggalkan pola-pola lama yang dilakukan oleh para petani sebelumnya dan hal tersebut merupakan peluang berkreasi.

Baca Juga: Takut terhadap Terdakwa Ferdy Sambo, Keterangan pun Berubah-ubah

"Pertanian dulu menghadirkan cangkul, itu industri babak pertama, dan ada traktor dan hand traktor, di era induatri kedua. Era ketiga ada teknologi informasi dan elektronik yang diterapkan pada sistem produksi, dan sekarang masuk industri 4.0, pemuda Indonesia harus masuk kesitu" tegas Mentan Syahrul.

Empat teknologi yang berkembang secara eksponensial di era kedepannya pada era industri 4.0 menurut Mentan Syahrul adalah, siapa yang menguasai teknologi maka akan mememenangkan persaingan, dimulai dari artificial intelegent, dimensional dan robotik, bioteknologi, nano-teknologi, dan sistem jaringan komputasi.

"Teknologi yang dapat diimplementasikan dalam pembangunan pertanian dapat ditemui pada kemajuan teknologi di era industri 4.0. Bertani besok jangan melihat dengan gaya yang kemarin, bertani besok menggunakan teknologi," Kata Mentan.

Baca Juga: Guru Bernama Fakarich Susul Murid Indra Kenz Duduk di Kursi Terdakwa PN Medan

Ditambahkan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nurysamsi bahwa teknologi atau smart farming menjadi salah satu cara yang dapat digunakan para petani milenial untuk mengembangkan usaha.
“Smart farming memungkinkan petani memiliki kendali yang lebih baik terhadap proses produksi, melalui pengelolaan pertanaman dan ternak secara efektif dan efisien. Smart Farming, didefinisikan sebagai sistem pertanian berbasis teknologi yang dapat membantu petani meningkatkan hasil panen secara kuantitas dan kualitas. Teknologi Smart Farming berpotensi menjangkau peluang pasar yang lebih luas dan dapat dicapai dengan produk serta tenaga kerja terstandar melalui implementasi sistem agribisnis modern,”papar Dedi.
Keuntungan dari Smart Farming menurut Dedi, dapat membantu petani milenial untuk meningkatkan pendapatan dan keuntungan, meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, meningkatkan biodiversitas serta konservasi air. Selain itu, keuntungan lain yang diperoleh adalah meningkatkan produksi tanaman hingga 20 persen, menurunkan penggunaan air sebesar 30 persen, mengurangi penggunaan tenaga kerja manusia sebanyak 50 persen, mengurangi penggunaan pupuk, dan pestisida sejumlah 10 persen.
Adalah Muhammad Adimas Wibisana, petani milenial kabupaten Subang yang sukses mengembangkan pertanian dengan Technology Smart Farming. Secara umum, Adimas menjelaskan, sistem berkebun dengan Technology Smart Farming dan Green House ini akan memangkas anggaran, tenaga perawatan dan hasil panen lebih bagus.

"Misalnya pengairan dan pemupukan sudah bisa otomatis, jadi kita gak perlu repot. Kita tinggal setting waktunya jam berapa, kepekatan pupuknya berapa, kita tinggal setting. Kita kendalikan dengan aplikasi dari gadget," kata Adimas

Sistem seperti ini, kata Adimas masih jarang digunakan di Indonesia. Di Subang Kota sendiri, jelasnya, baru diterapkan di Grand Sakina Farm yang dikelolanya.

Muhammad Adimas Wibisana merupakan salah satu penerima manfaat dari program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang menggeluti sektor pertanian sejak setahun lalu. Sebelumnya dia berkiprah di dunia usaha jual beli alat kesehatan. Saat pandemi Covid-19 menyerang, Adimas banting setir melanjutkan usaha ayahnya mengelola perkebunan di Area Grand Sakina Subang.


Di atas lahan 1,3 hektare, Adimas mengelola Grand Sakina Farm Subang. Dengan pengembangan sistem pertanian modern, dia berkebun Pisang Canvendish; Melon jenis Golden Melon, Honeyglobe orange dan melon inthanon; Durian, Jeruk dan Jambu.

Sistem penanaman atau pembibitan, Adimas menerapkan dengan sistem green house. Pola pembibitan semacam ini, kata Adimas jauh lebih aman dari serangan hama dan virus ketimbang dengan penanaman di tempat terbuka.
"Kalau green house ini kita lebih mudah untuk menjaga gangguan hama, karena tertutup dan terisolasi. Kalau misalkan nanem melon di lapangan terbuka itu resikonya besar, dari hama, penyakit dari jamur. Nanem melon itu, kata orang, diistilahkan kalau berhasil menanam melon, berarti sudah berhasil jadi petani, karena ada tingkat kerumitan sendiri," katanya.

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemerintah Siap Gelar Kick Off Meeting WWF ke 10

Sabtu, 4 Februari 2023 | 22:07 WIB

SBI Tuban Raih Penghargaan

Sabtu, 4 Februari 2023 | 21:16 WIB

Kerja Keras BRI Tuai Kesuksesan

Sabtu, 4 Februari 2023 | 19:16 WIB

KPLP Butuh Peningkatan Sarana dan Prasarana

Sabtu, 4 Februari 2023 | 16:59 WIB
X