• Sabtu, 20 Agustus 2022

Bantah Subsidi BBM di Malaysia Lebih Besar dari Indonesia, Pengamat: Nilai Harga Pertalite Bisa Turun

- Kamis, 4 Agustus 2022 | 21:32 WIB
Bambang Haryo Soekartono (BHS)  (Sadono )
Bambang Haryo Soekartono (BHS) (Sadono )

SUARAKARYA.ID : Pengamat Kebijakan Publik, Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyayangkan penjelasan Dirut Pertamina di media yang menyebut subsidi harga BBM Petrol 95 (oktan 95) yang ada di Malaysia jauh lebih besar dari subsidi harga BBM Pertalite oktan 90 yang ada di Indonesia.

Dia mengkritik pernyataan Dirut Pertamina tersebut dengan menilai sebagai pernyataan tidak benar dan tidak berdasar, sehingga harga pertalite yang dinikmati masyarakat Indonesia harus lebih mahal dari petrol 95, produk dari petronas Malaysia.

"Saya melakukan cek langsung ke Malaysia ternyata harga Petrol 95 yang oktannya setara dengan pertamax plus sebesar 2,05 ringgit dengan kurs ringgit 3.339 atau setara dengan Rp6.844 subsidi dari petrol 95 di Malaysia sebesar 0,45 ringgit atau setara dengan Rp1.502 sehingga harga tanpa subsidi di malaysia sebesar 2,5 ringgit atau setara dengan Rp8.347 rupiah,"Kata Bambang Haryo yang juga Ketua Harian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur, dalam keterangan tertulis yang diterima awak media, Kamis (4/8/2022).

Baca Juga: Pertamina Perkuat Jaringan Distribusi BBM Hingga ke Pelosok Desa Melalui Program Pertashop Empowerment SME

Anggota DPR-RI periode tahun 2014-2019 itu menambahkan harga pertalite yang dikatakan Pertamina per juli 2022 bila tanpa subsidi adalah sebesar Rp17.200/liter dan pertamina mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk pertalite sebesar Rp9.550/liter agar masyarakat bisa membeli dengan harga sebesar Rp7.650 rupiah/liter yang masih jauh lebih mahal dari harga petrol 95 di Malaysia, sehingga jelas subsidi di Malaysia jauh lebih kecil dari pada subsidi BBM yang ada di Indonesia.

Berarti, kata Mantan Wakil Sekjen MTI Pusat ini,  bila pernyataan di media itu benar, maka Dirut Pertamina telah melakukan pembohongan publik, lantaran memberikan pernyataan tanpa melakukan kajian dengan teliti.

Baca Juga: Irjen Ferdy Sambo Minta Maaf pada Institusi Polri

Demikian pula pertalite hanya memiliki oktan 90 sedangkan petrol 95 memiliki oktan 95 sehingga perbedaan petrol 95 dengan pertalite ada 5 oktan, padahal penurunan per 1 oktan rupiahnya sangat besar, misalnya di Malaysia petrol 97 yang mempunyai oktan 97 harga tanpa subsidi adalah 4,55 ringgit atau setara dengan 15.192 rupiah, sedangkan petrol 95 yang mempunyai oktan 95 tanpa subsidi adalah 2,5 ringgit atau setara dengan 8.347 rupiah, sehingga beda 2 oktan saja sebesar 2,05 ringgit atau setara dengan 6.844 rupiah, berapa tuh rupiahnya kalau perbedaannya 5 oktan? Tentu sangat besar.

"Sedangkan pertalite mendapatkan subsidi dari pemerintah (Kementerian ESDM) sebesar Rp9.550/liter bila dengan harga yang sebenarnya sesuai dengan perhitungan yang ada di Malaysia dengan subsidi uang rakyat tersebut maka seharusnya rakyat membeli bahan bakar pertalite jauh lebih murah atau bahkan gratis," tegas pemilik sapaan akrab BHS.

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DPR Dorong UMKM Total Manfaatkan Ruang Digital

Jumat, 19 Agustus 2022 | 22:13 WIB

Rambah Kota Solo, Tokocrypto Luncurkan T-Hub Solo

Jumat, 19 Agustus 2022 | 21:10 WIB

Deri Protocol, Produk Derivatif Terbaru di DeFi

Jumat, 19 Agustus 2022 | 11:40 WIB
X