• Selasa, 25 Januari 2022

Revisi Peraturan Label Pangan Terkesan Diskriminatif, Ada Apa Dengan BPOM?

- Rabu, 1 Desember 2021 | 12:00 WIB
Kemasan galon air minum yang terbuat dari plastik polikarbonat (PC) (Ist)
Kemasan galon air minum yang terbuat dari plastik polikarbonat (PC) (Ist)

JAKARTA: Badan Pengawa Obat dan Makanan (BPOM) terkesan diskriminatif dengan “memaksakan” rencana mengubah aturan label pangan air minum dalam kemasan (AMDK) berbahan Polikarbonat (PC). Kritisi publik yang diwakili para stakeholder terkuak dari pernyataan beberapa sumber yang ikut dalam kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Peraturan BPOM tentang Perubahan Kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang digelar secara tertutup di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Senin (29/11/2021).

Beberapa sumber dari lembaga yang diundang dalam kegiatan itu mempertanyakan sikap BPOM tersebut.

“Ini kenapa hanya satu produk saja yang dibidik, kenapa tidak mengevaluasi semua produk. Kalau dalam peraturan itu, seharusnya bukan hanya produk berbahan PC saja yang dilabeli tapi semua produk lainnya juga dong,” kata salah satu sumber yang ditemui wartawan usai pertemuan itu.

Seperti diketahui, dalam pedoman implementasi Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan, disebutkan bahan yang diizinkan digunakan sebagai Kemasan Pangan terdiri atas Zat Kontak Pangan dan Bahan Kontak Pangan. Zat Kontak Pangan yang diizinkan digunakan sebagai Kemasan Pangan diizinkan dengan ketentuan persyaratan batas migrasi dan tanpa persyaratan batas migrasi.

“Jika produk berbahan PC diwajibkan untuk diberikan label bebas BPA karena terkait zat kontak pangan, mestinya semua yang ada zat kontaknya harus juga diwajibkan label bebas dari zat kontaknya,” ucap sumber yang tidak berkenan disebut namanya.

Beberapa yang wajib dilakukan label bebas dari zat kontaknya itu tidak hanya kemasan berbahan PC saja, tapi juga produk melamin perlengkapan makan dan minum, kemasan pangan plastik polistirene (PS), kemasan pangan timbal (Pb), Kadmium (Cd), Kromium VI (Cr VI), merkuri (Hg) dari kemasan plastik, kemasan pangan Polivinil Klorida (PVC) dari senyawa Ftalat, kemasan pangan kertas dan karton dari senyawa Ftalat.

“Itu semua kan mengandung zat kontak yang berbahaya juga bagi kesehatan, tapi kenapa tidak wajib label bebas dari zat kontaknya. Ini kan aneh namanya,” ucap sumber tersebut.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar (Mintegar) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Edy Sutopo, usai pertemuan itu menyebutkan Kemenperin harus berhati-hati dalam menyikapi revisi Peraturan BPOM soal label pangan olahan ini. Hal itu karena yang terdampak akan banyak sekali.

“Ini kan menyangkut image produk yang terkait dengan iklim investasi dan nilai usaha. Ini yang membuat kami harus berhati-hati,” katanya.

Halaman:

Editor: Markon Piliang

Terkini

Kementan Perluas Pasar Dan Maksimalkan Pelatihan

Minggu, 23 Januari 2022 | 08:39 WIB

Petani Dan Penyuluh Kunci Sukses Pembangunan Pertanian

Minggu, 23 Januari 2022 | 08:32 WIB

Rapat Kerja Bank BTN Tahun 2022

Jumat, 21 Januari 2022 | 16:08 WIB
X