• Selasa, 28 Juni 2022

Ada Cuan Besar Di Minyak Atsiri, Kemenperin Optimalkan Hilirisasi

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 21:59 WIB
Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika (kiri) mendengarkan penjelasan mengenai proses produksi minyak atsiri pada saat melakukan kunjungan kerja di PT. Indesso Aroma, Cileungsi, Bogor
Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika (kiri) mendengarkan penjelasan mengenai proses produksi minyak atsiri pada saat melakukan kunjungan kerja di PT. Indesso Aroma, Cileungsi, Bogor

BOGOR: Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan sektor industri hilir minyak atsiri (IHMA) agar bisa lebih berdaya saing. Apalagi, Indonesia punya potensi ketersediaan bahan baku yang beragam (terdapat ±40 jenis tanaman atsiri di Indonesia dari ±99 jenis tanaman atsiri di dunia) menjadi potensi peningkatan nilai tambah ekonomi melalui industri pengolahan dalam negeri.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan Indonesia sebagai negara iklim tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga bisa menjadi episentrum untuk pengembangan sektor IHMA.

"Masih ada peluang besar untuk memperluas usaha atau meningkatkan investasinya dalam rangka membuka banyak kesempatan lapangan kerja,” ujar Putu Juli Ardika saat melakukan kunjungan kerja di PT. Indesso Aroma, Cileungsi, Bogor, Jumat (15/10/2021).

Plt. Dirjen Industri Agro ini mengemukakan, minyak atsiri telah digunakan sebagai bahan baku industri untuk bahan perasa (essence), perasa (flavor) dan wewangian (fragrance). Total produksi minyak atsiri utama Indonesia mencapai ±8.500 ton pada tahun 2020. Beberapa jenis minyak atsiri tropis Indonesia antara lain minyak cengkeh, sereh wangi, nilam, pala, akar wangi, dan kayu putih.

“Selain itu, produk olahan minyak atsiri juga dipergunakan untuk bahan baku industri jamu dan fitofarmaka, seperti minyak jahe dan minyak adas. Seluruh jenis produk turunan minyak atsiri dipercaya mempunyai khasiat positif untuk kesehatan,” paparnya.

Putu menyampaikan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi potensi nilai ekonomi yang besar dari sektor IHMA. Di sektor hilir, terdapat pemain besar global yang telah mengoperasikan pabrik olahan minyak atsiri. Di sektor hulu atau perkebunan, terdapat ratusan ribu petani atsiri yang menjadi pemasok bahan baku industri.

“Dengan demikian, rantai nilai hulu-hilir di sektor IHMA menjadi terintegrasi. Melalui rantai nilai hulu-hilir yang terintegrasi ini, akan tercipta nilai ekonomi yang harmonis, termasuk berperan dalam membangkitkan ekonomi rakyat di perdesaan melalui program kemitraan industri,” tuturnya.

Putu menegaskan, kunci pengembangan sektor IHMA agar bisa lebih berdaya saing antara lain melalui riset dan inovasi, formulasi produk, serta memanfaatkan teknologi terkini dalam produksi untuk menghasilkan aneka produk hilir yang bernilai tambah tinggi.

“Upaya tersebut perlu didukung dengan fasilitas riset yang memadai, SDM kompeten, dan kemampuan capturing and delivering value to market yang kuat, sehingga Indonesia menjadi produsen berbagai produk turunan minyak atsiri berskala dunia,” bebernya.

Halaman:

Editor: AG. Sofyan

Terkini

Bank DKI Dukung Malam Puncak Jakarta Hajatan

Sabtu, 25 Juni 2022 | 18:53 WIB
X