logo

Pakar Komunikasi: Medsos Senjata Digital Menggoyang NKRI

Pakar Komunikasi: Medsos Senjata Digital Menggoyang NKRI

10 September 2019 21:24 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Media sosial (medsos) bagi sebagian orang bisa dijadikan senjata pemecahbelah kesatuan NKRI.

Pakar komunikasi, Sony Subrata mengatakan, media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, akhir-akhir tak hanya menjadi sarana atau wadah bagi masyarakat Indonesia untuk mengekspresikan diri, saling berkomunikasi, berinteraksi dengan para pengguna yang lainnya, namun juga untuk tujuan lain.

"Media sosial itu bagai pisau tajam bermata dua. Kehadirannya di Indonesia telah mempersatukan banyak teman yang terpisah, mengumpulkan keluarga yang berbeda lokasi dan mengenalkan teman-teman baru. Media sosial di Indonesia juga terbukti mempersatukan cinta kita akan NKRI dan membuat kita semakin menghayati pentingnya Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi, media sosial juga merupakan senjata digital yang digunakan oleh berbagai pihak untuk memecah belah bangsa dan negara kita," ujar Sony, di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Sony menilai, apa yang terjadi di Surabaya dan Papua beberapa hari lalu merupakan dampak negatif dari penggunan media sosial yang tidak mempunyai batasan sama sekali.

"Kasus yang terbaru adalah insiden rasial yang kemudian memicu kerusuhan di Papua. Provokasi dilakukan oleh beberapa pihak dari dalam dan luar negeri yang menggunakan media sosial. Provokasi ini terbukti efektif dan akhirnya mengakibatkan munculnya korban luka dan bahkan meninggal dunia, selain kerugian materi dan kerusakan fisik gedung di berbagai tempat,” tambah Sony.

Akibat kerusuhan yang terjadi di Papua, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah membuat kebijakan dengan membatasi akses internet di hampir semua wilayah di Papua. Langkah ini diambil guna meminimalisir dampak lanjut berita hoax yang sudah masuk di wilayah Papua.

"Namun pembatasan akses internet oleh Pemerintah telah dipersepsikan secara negatif di berbagai negara, padahal tujuannya adalah untuk mengurangi penyebaran hoax dan berita bohong yang begitu masif disebarkan," ujarnya.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Sony berharap Pemerintahan Jokowi lebih tegas dan mempunyai rencana strategis untuk bisa memahami pola komunikasi di media sosial yang bisa mengancam keutuhan NKRI.

“Pemerintah perlu tetap tegas, sekaligus lebih strategis dalam memahami pola komunikasi di media sosial agar bisa  mengantisipasi ataupun meredam gejolak sosial yang dipicu dengan penyebaran informasi dan disinformasi di ranah digital,” katanya.

Sony mengapresiasi riset yang dilakukan Agus Sudibyo, buku "Jagat Digital: Pembebasan dan Penguasaan” yang akan diluncurkan 17 September 2019. Menkominfo Rudiantara memberikan kata sambutan dalam buku setebal 465 halaman itu. ***