logo

Asrama Mahasiswa Papua di Jatim Dilempari Ular Piton, Fadli Zon: Aparat Tolong Tegas, Usut Tuntas Dong

Asrama Mahasiswa Papua di Jatim Dilempari Ular Piton, Fadli Zon: Aparat Tolong Tegas, Usut Tuntas Dong

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon.
09 September 2019 14:59 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA:  Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus provokasi dengan aksi pelemparan karung berisi ular piton ke asrama Mahasiswa Papua di Jawa Timur.

"Kita berharap tidak adalagi provokasi seperti ini. Dan saya berharap aparat menegakkan hukum dengan cepat dan tepat," ucap Fadli, Senin (9/9/2019) di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut politisi Gerindra ini, para oknum - oknum yang selama ini menjadi dalang kericuhan di Papua juga sudah jelas. "Misalnya yang menistakan bendera merah putih kan oknumnya sudah jelas, kemudian yang melakukan ujaran kebencian dan rasis ini kan harusnya diusut tuntas," ujar  Fadli menambahkan.

"Jadi ada keadilan yang ditegakkan disitu, apalagi ditambah tambah aksi-aksi provokasi seperti ini. Kenapa ini bisa terjadi, karena menurut saya penegakkan hukum terkesan lambat, kurang cepat dan kurang ekspos dari aparat penegakan hukum," ucapnya.

Untuk itu kata Fadli, aparat keamanan harus gerak cepat. Pasalnya kata Dia lagi, aksi provokasi di Jawa Timur itu diduga dilakukan oleh oknum-oknum yang berusaha "mengail di air keruh".

"Provokasi ini kan niatnya bikin warga Papua marah dan jadi atensi internasional. Yang pada akhirnya kegaduhan- kegaduhan ini tidak akan selesai kalau tidak segera di usut. Intinya aparat harus tegas," tuturnya.

Untuk diketahui, usai mengalami pengepungan dan aksi rasialisme pada Agustus lalu, kini Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya mendapatkan dugaan teror oleh orang tak dikenal.

Senin (9/9), sekitar pukul 04.19 WIB, para mahasiswa yang berada di dalam asrama itu dikejutkan oleh aksi pelemparan sejumlah ular ke dalam asrama.

"Pagi tadi saat masih gelap, ada empat orang berpakaian preman berhenti di depan asrama, mereka masukan ular, ada tiga ekor itu di dalam karung terbuka," kata salah satu penghuni asrama, Yoab Orlando.

Yoab menuturkan, setidaknya ada tiga ekor ular yang dilempar ke dalam asrama. Pertama adalah seekor ular berjenis piton, di dalam karung beras ukuran 15 kilogram. Lalu ada tiga ular lainnya, berada di dalam karung kain.

"Kalau di dalam karung itu satu ekor, itu besar sekali, terus kalau tiganya itu di dalam kain, baru dilempar langsung ke dalam. Kainnya tidak diikat keras, langsung ularnya tercerai itu (terlepas)," kata dia.

Tiga ekor ular lain yang terlepas itu, katanya, melata liar di pekarangan asrama. Yoab tak tahu pasti apa jenis ketiga ular yang terlepas tersebut. Ia dan juga penghuni lain di asrama itu khawatir ular yang lepas ia khawatir jika ular-ular itu ternyata jenis ular berbisa, yang dapat mengancam keselamatan penghuni asrama.

Lebih lanjut, saat penghuni asrama mencoba menangkap ular-ular tersebut, diduga pelaku pelemparan sempat memantau keadaan asrama tak jauh dari lokasi. Oleh karena itu, mahasiswa yang mengetahui keberadaan orang-orang itu pun berusaha mengejarnya.

"Anak-anak sempat kejar, tapi (pelaku) lari, mereka sempat jatuhkan teropong. Mereka berpakaian preman, empat orang dengan dua motor, tapi saya tidak tahu motor apa, dia lari lebih dulu," katanya.

Yoab mengatakan, ini bukan kali pertama mahasiswa Papua mendapatkan teror. Sebelumnya ada pula aksi pelemparan cat oleh orang tak dikenal hingga merusak spanduk bertuliskan 'Referendum is solution' yang mereka pasang

Ia menerangkan atas alasan itulah para penghuni asrama hingga saat ini tertutup kepada siapapun. Yoab juga mengatakan beberapa rekannya masih mengalami trauma usai saat pengepungan asrama pada 16-17 Agustus lalu yang berujung diduga aksi rasialisme.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto