logo

ETOS Sebut Ketum Terbaik Partai Golkar di Era Akbar Tanjung

ETOS Sebut Ketum Terbaik Partai Golkar di Era Akbar Tanjung

Kantor DPP Partai Golkar. (Ilustrasi)
09 September 2019 14:30 WIB
Penulis : Agung Elang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah mengatakan, sebagai eksternal partai Golkar. Ia menyampaikan pandanganya. Menurutnya Golkar mempunyai historis yang luar biasa, ada kepemimpinan terbaik dan kepemimpinan terburuk dalam sejarah partai ini pasca reformasi.

"Pertama adalah kepemimpinan terbaiknya adalah pasca reformasi 98, partai Golkar yang pada saat itu dihujat habis-habisan, diketuai oleh seorang mantan aktivis 66, yaitu bang Akbar Tandjung mampu masuk dalam tiga besar perolehan suara terbanyak di parlement, dan saat itu juga dimulainya pemilu dengan banyaknya partai peserta pemilu. Ini catatan terbaik sejarah partai Golkar, dan bang Akbar pun menjadi ketua DPR saat itu," kata Iskandar di kantor Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Senin (9/9/2019).

"Kedua adalah kepemimpinan terburuk, kalau bicara ini saya katakan kepemimpinan mas Airlangga adalah kepemimpinan terburuk yang pernah partai Golkar punya, harus diakui itu, karena saya melihat ini semua dari luar," ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, menurutnya Refrensi kegagalan ini bukan cuma harus dipertanggung jawabkan kepada semua kader partai Golkar, tapi juga kepada semua simpatisan dan juga rakyat Indonesia, karena tagline nya partai Golkar itu 'Suara Golkar Suara Rakyat".

"Jadi harusnya pemimpin yang gagal bersedia mundur dan mau mengakui kegagalannya, bukan malah melakukan intimidasi-intimidasi internal partainya sendiri, dan itu semua terlihat jelas ke semua publik," tutur Iskandar.

Lebih lanjut, Kekisruhan didalam partai Golkar semakin hari semakin menjadi. Partai berlambang pohon beringin saat ini sedang dihadapkan masalah konflik internal.

Iskandar menjelaskan,Partai Golkar sedang menghadapi dilema konflik internal yang kalau dibiarkan bisa berbahaya, apalagi pelaksanaan Munas pun tak kunjung jelas pelaksanaannya.

"Ini jelas membuat publik pun berpikir bertanya ada apa dengan partai ini?," ujarnya.

Iskandar menuturkan, publik tahu bahwa partai Golkar bukanlah partai baru, partai lama, partai yang sangat berpengalaman dengan banyak catatan yang luar biasa. Partai yang sangat dinamis, bukan partai figur seperti partai-partai yang tumbuh sekarang ini.

"Dan partai Golkar mempunyai kader-kader militan hingga lapisan masyarakat yang paling bawah, jadi banyak yang harus dicontoh partai-partai lain terhadap partai Golkar,"ujarnya.

Iskandar menyebutkan, konflik ini sangat terasa bagi internal partai. Namun, ia juga tidak mau berasumsi tentang siapa penyebab kekisruhan di Golkar.

"Ini ulah siapa?, saya tidak mau berasumsi yang tidak-tidak, tapi jelas ini ada pemaksaan kehendak oleh salah satu kubu yang tidak mau mundur alias takut kalah. Buat saya ini lucu dan perlu dicatat dalam sejarah partai ini," ucapnya.

 

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto