logo

11 Tahun SIPA, Bukti Konsistensi Solo Dukung Pelestarian Seni Budaya

11 Tahun SIPA, Bukti Konsistensi Solo Dukung Pelestarian Seni Budaya

07 September 2019 11:50 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - SOLO: Sebelas tahun perhelatan Solo International Performing Arts (SIPA), menjadi bukti eksistensi gelaran tersebut. Selain kemasan acara yang makin spektakuler, seniman yang terlibat pun kian beragam. Demikan pula animo penonton. SIPA menjadi event yang selalu ditunggu setiap tahun.

Memasuki hari kedua SIPA 2019, pengunjung masih akan dimanjakan dengan penampilan sejumlah seniman, dalam dan luar negeri. Antara lain Century Contemporary Dance Company dari Taiwan, Padepokan Seni Budaya Duta Seni Krakatau Steel dari Cilegon, (Banten), Himask dari Korea Selatan, dan Labor Seni Terasuluh dari Aceh.

Kemudian akan tampil Yamato Dance Unit dari Jepang, Billy Aldi dari Solo, AUE Dance Co dari New Zealand, FierArt Dance Group ISBI Bandung, dan Kemlaka Sound of Archipelago dari Solo. Semua akan tampil secara bergilir mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB.

“SIPA sudah menjadi event internasional kebanggaan masyarakat Solo. Kita selalu melakukan evaluasi agar gelaran ini semakin baik dari tahun ke tahun. Berkat konsistensi kita bersama, event ini bisa terus berjalan hingga sekarang,” kata Ketua Panitia SIPA Irawari Kusumorasri, Jumat (6/9).

Untuk SIPA 2019, kegiatan berlangsung tanggal 5-7 September. Tahun ini, panitia mengusung tema ‘Arts As a Social Action’. Dimana tema ini mengandung makna bahwa seni sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial di Indonesia. Seni pertunjukan yang disajikan di panggung SIPA tak hanya untuk dinikmati. Tetapi juga menyampaikan isu-isu krusial dalam kehidupan sosial. 

Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo mengatakan, SIPA telah memberi dampak positif bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Event ini dapat menjadi daya tarik para wisatawan untuk hadir ke Indonesia, khususnya Kota Solo. Dari sisi ekonomi, ini juga memberi keuntungan bagi masyarakat setempat.

“Event ini telah mendatangkan banyak wisatawan ke Solo, baik nusantara maupun mancanegara. Banyak bisnis yang diuntungkan, antara lain perhotelan dan rumah makan. Dampak ekonomi tersebut yang memang kita harapkan dari setiap event yang digelar di Solo,” imbuhnya.

Achmad Purnomo menegaskan, tarif hotel di Solo tetap terkontrol sepanjang perhelatan SIPA 2019. Beberapa hotel di dekat Benteng Vastenburg Solo sebagai lokasi perhelatan, bahkan mematok biaya rendah sehingga ramah di kantong.

Beberapa hotel yang memasang tarif mulai Rp90 ribuan/ malam, antara lain Istana Griya 1 Hotel Solo di Jl. KH Ahmad Dahlan, Keprabon, Banjarsari; The Werternes di Jl. Kemlayan Kidul Serengan; dan Airy Stasiun Balapan Natuna 4 Solo di Jl. Natuna Banjarsari. Kemudian hotel dengan tarif mulai Rp100 ribu/ malam di antaranya Homy Stay at Widia Griya di Jl. Singosaren Utara, Surakarta; Hotel Kaloka Solo di Jl. Gajah Mada; dan Ndalem Panularan di Jl. Aryo Panular, Surakarta.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty, sangat mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Solo, serta Panitia SIPA untuk terus konsisten menyelenggarakan kegiatan ini. SIPA merupakan salah satu dari 2 event dari Kota Solo yang masuk dalam 100 Wonderful CoE Kemenpar 2019.

“Sektor pariwisata masuk urutan kedua dalam memberikan kontribusi devisa ke Indonesia. Dengan diselenggarakannya SIPA 2019, mudah-mudahan dapat memberi peningkatan nilai ekonomi untuk Kota Solo. Khususnya melalui seni pertunjukan yang dapat menjadi salah satu daya tarik wisata yang potensial,” ungkapnya.

Apresiasi serupa juga diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Menurutnya, event ini bukan hanya mampu menghadirkan sesuatu yang menghibur bagi masyarakat, tetapi juga turut melestarikan seni budaya.

“Indonesia sangat kaya akan seni dan budaya. Setiap daerah memiliki ciri masing-masing. Dan di SIPA, seni dan budaya daerah mendapatkan ruang untuk mengaktualisasi diri. Para pelaku seni bisa berekspresi dan berinovasi. Ini menjadikan budaya daerah bukan hanya lestari, tetapi juga berkembang,” terangnya. 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto