logo

Teriakan Histeris untuk Korsel, Pembukaan SIPA 2019 Berlangsung Spektakuler

Teriakan Histeris untuk Korsel, Pembukaan SIPA 2019 Berlangsung Spektakuler

06 September 2019 11:27 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - SOLO: Pembukaan Solo International Performing Arts (SIPA) 2019 berlangsung meriah, Kamis (5/9/2019) malam. Acara dipusatkan di Benteng Vastenburg Solo, dengan panggung yang megah dan spektakuler. Beragam pertunjukan ditampilkan oleh para pegiat seni, baik nasional maupun internasional. Penonton pun teriak histeris dengan perwakilan Korea Selatan yang menghadirkan K-Pop, Rion Five.

Secara resmi, SIPA 2019 dibuka dengan pemukulan ‘kenong’ secara bersama-sama oleh Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo, Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuti, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia H. E. Mr. Kim Chang Beom, dan Ketua Panitia SIPA Irawati Kusumorasri.

Pada penampilan pembuka, muncul Elizabeth Sudira yang terpilih sebagai maskot SIPA 2019. Penyanyi cantik ini tampil bersama Semarak Candrakirana, sanggar tari Solo yang dipimpin oleh Direktur SIPA. Selanjutnya, penonton disuguhkan penampilan dari Chun Seul Dance Company yang merupakan grup tari asal Korea.

Berikutnya tampil grup tari asal Riau Malaydansstudio, dengan ragam gerak tari melayu. Disusul oleh Century Contemporery Dance Company asal Taiwan, Abib Igal Dance Projek asal Palangkaraya, Chinese Youth Goodwill Assosiasion asal Taiwan, dan ditutup dengan permainan musik Kunokini & Svaraliane dari Jakarta.

Wakil Walikota Solo Ahmad Purnomo mengatakan, Solo memiliki potensi SDM seni budaya yang potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. SIPA sendiri merupakan jembatan untuk menjalin hubungan baik dengan berbagai daerah dan negara lain.

“Kami berharap SIPA dapat terus memberi dampak positif bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Serta dapat menjadi daya tarik para wisatawan untuk hadir ke Indonesia, khususnya Kota Solo,” ujarnya. 

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty mengaku sangat mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Solo, serta Panitia SIPA untuk terus konsisten menyelenggarakan kegiatan ini. SIPA merupakan salah satu dari 2 event dari Kota Solo yang masuk dalam 100 Wonderful CoE Kemenpar 2019.

“Sektor pariwisata masuk urutan kedua dalam memberikan kontribusi devisa ke Indonesia. Dengan diselenggarakannya SIPA 2019, mudah-mudahan dapat memberi peningkatan nilai ekonomi untuk Kota Solo. Khususnya melalui seni pertunjukan yang dapat menjadi salah satu daya tarik wisata yang potensial,” ungkapnya.

Sementara Ketua Panitia SIPA Irawari Kusumorasri menjelaskan, SIPA 2019 berlangsung tiga hari, 5-7 September. Kegiatan tahun ini mengusung tema ‘Arts As a Social Action’. Dimana tema ini mengandung makna bahwa seni sengat berpengaruh terhadap kehidupan sosial di Indonesia.

“Terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah, Kementerian Pariwisata, Pemkot Solo, Kedutaan Besar Korea serta Korean Culture Center, dan semua pihak yang terlibat pada kegiatan ini. Terkhusus pada Kemenpar, ini adalah konsistensi event yang terus berkesinambungan. Terima kasih telah mendukung acara ini,” ucapnya.

SIPA 2019 menawarkan beragam seni pertunjukan dari berbagai belahan dunia. Tujuan kegiatan ini antara lain memperkenalkan serta mempromosikan potensi seni pertunjukan Indonesia kepada dunia luar. Memasuki tahun ke-11, SIPA diikuti pula oleh beberapa delegasi dari negara luar. Seperti India, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan New Zealand

Selain menyuguhkan tontonan menarik di atas panggung, SIPA juga menyediakan bazar yang berisi booth makanan, minuman, dan merchandise. Lokasi bazar berada di bagian timur dalam Benteng Vastenburg.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, Indonesia sangat kaya akan seni dan budaya. Setiap daerah memiliki ciri masing-masing. Dan di SIPA, seni dan budaya daerah mendapatkan ruang untuk mengaktualisasi diri. Para pelaku seni bisa berekspresi dan berinovasi. Ini menjadikan budaya daerah bukan hanya lestari, tetapi juga berkembang.

“Saya sangat mengapresiasi gelaran SIPA. Event ini bukan hanya mampu menghadirkan sesuatu yang menghibur bagi masyarakat, tetapi juga turut melestarikan seni budaya,” tandasnya. 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto