logo

Korban Kebakaran KM Santika Nusantara, Tiba di Tanjung Perak

Korban Kebakaran KM Santika Nusantara, Tiba di Tanjung Perak

Foto : Istimewa
24 Agustus 2019 19:58 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Tiga orang tewas dan ratusan lainnya terapung di laut saat Kapal Motor (KM) Santika Nusantara terbakar di sekitar perairan Masalembo, Kamis (22/8/2019) malam. Ketiga korban tewas dan 53 korban yang selamat itu tiba di Tanjung Perak Surabaya, sabtu 924/8/2019).

Menurut Kepala Kantor SAR Surabaya, Prasetya Budiarto, tiga korban yang ditemukan tidak bernyawa itu masing-masing Asfani asal Jombang dan Bekti Tri Setyanto (ABK). "Satu korban tewas lainnya berjenis kelamin laki-laki dan belum diketahui identitasnya," ujarnya, Sabtu (24/8/2019).

Basarnas Surabaya mencatat ada 161 orang yang selamat dan berada di Pelabuhan Kalianget. Sebanyak 23 orang sudah dibawa pulang oleh keluarganya, sedangkan 13 orang masih dirawat di Rumah Sakit.

Sampai saat ini petugas Basarnas Surabaya masih berupaya mencari 24 penumpang KM Santika Nusantara tujuan Surabaya-Balikpapan tersebut,  yang masih belum ditemukan.

Sejumlah saksi mata menyebutkan, api yang membakar kapal itu muncul dari lantai bawah atau tempat parkir motor dan kendaaan roda empat pada Kamis (22/8/2019) malam. Para anak buah kapal (ABK) langsung bereaksi memadamkan api.

Tapi api justru semakin membesar dan memicu kepulan asap tebal. "Asap semakin menebal, para penumpang pilih menyelamatkan diri ke laut," ujar salah satu penumpang, Sujiman.

Bersama penumpang yang lain, dia langsung memakai jaket penyelamat dan menumpang sekoci. Setelah beberapa jam terombang-ambing di laut, mereka diselamatkan oleh kapal nelayan yang mendekat.

Sementara penumpang selamat lainnya, Diki menyebut kebakaran itu terjadi saat para penumpang sedang beristirahat usai makan malam. "Saat ada informasi kapal terbakar, semuanya panik," ujarnya.

Para penumpang berlari ke bawah tapi kepulan asap dari bawah semakin tebal. Para penumpang menggunakan pelampung dan pilih naik sekoci.

Parahnya, perahu karet itu rawan tenggelam karena ditumpangi 51 orang sekaligus. Diki sudah berusaha berteriak meminta tolong pada kapal yang melintas tapi tidak mendapat respon.

Baru sekitar pukul 08.00 pagi, ada perahu nelayan yang mendekat dan langsung memberikan pertolongan. Mereka tak tahu bagaimana nasibnya kalau tidak ada pertolongan dari para nelayan.***

Editor : Azhari Nasution