logo

Petani Tantang Periksa Kualitas Garam Madura

 Petani Tantang Periksa Kualitas Garam Madura

22 Agustus 2019 23:41 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Para petani garam asal Madura menantang para ahli yang meragukan kualitas garam produksi rakyat, untuk turun ke kantong produksi garam di Sumenep. Mereka memastikan, produk garam Sumenep memiliki kandungan Natrium klorida (NaCl) 97 persen dan cocok untuk menutup kebutuhan garam industri.

Tantangan itu dilontarkan salah seorang petani garam asal Sumenep saat menghadiri Dialog Interaktif Upaya Pemerintah Menstabilkan Harga Garam Konsumsi yang digelar Mingguan Bidik di Surabaya, Kamis (22/8/2019). "Kualitas garam kami bagus. Yang minim justru soal keberpihakan pemerintah pada nasib  petani garam," ujar salah satu peserta.

Ungkapan senada diakui Ketua Perhimpunan Masyarakat Petani Garam Tradisional (PMPGT), Agus Sumantri. Hingga saat ini, kata dia, para petani lokal dibiarkan menderita akibat gempuran garam impor.

Para petani garam lokal juga mengeluhkan minimnya akses permodalan. Padahal, menurut dia, untuk menghasilkan garam berkualitas dibutuhkan modal dan infrastruktur yang memadai.

Dia juga berharap agar pemerintah tidak selalu menyalahkan sumber daya manusia terkait kualitas garam lokal. Sebaliknya, soal sumber daya manusia itu sebetulnya menjadi tanggung jawab pemerintah, termasuk beragam infrastruktur yang sangat dibutuhkan para petani garam.

Pada bagian lain, Ketua Komisi B DPRD Jatim, Achmad Firdaus Fibriyanto menyayangkan masa kejayaan garam Jawa Timur yang sekarang ini menjadi tinggal kenangan. "Dulu ada istilah Mutiaa Putih Dari Timur. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Menurutnya, persoalan anjloknya harga garam sebetulnya merupakan permasalahan rutin dari tahun ke tahun. Pihaknya juga pernah melakukan sidak ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, setelah menyerap aspirasi para petani garam Madura.

Waktu itu, pihaknya menemukan adanya proses bongkar muat garam dari Australia. Ternyata komoditas impor itu dibawa ke Gresik dan dibeber begitu saja di atas terpal. Selanjutnya, garam itu dioplos untuk diedarkan.***

Dia menyebut, komoditas garam justru menjadi 'anak tiri'. Komoditas garam hingga saat ini tidak memiliki  Harga Pokok Penjualan (HPP).***

Editor : Azhari Nasution