logo

Petani Lamtim Maksimalkan Irigasi Saat Musim Kemarau

Petani Lamtim Maksimalkan Irigasi Saat Musim Kemarau

22 Agustus 2019 14:29 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - LAMPUNG: Irigasi lancar dengan pasokan air cukup untuk lahan pertanian dimanfaatkan petani Lampung Timur (Lamtim) menggarap lahan sawah saat musim kemarau.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan, rehabilitasi saluran irigasi dikebut tujuannya salah satunya menghadapi musim kemarau.

"Namun petani harus mengelola airnya dengan bijak secara bergilir. Bila perlu dibentuk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)," kata Sarwo Edhy, Rabu (21/8).

P3A mengelola atau memelihara jaringan irigasi tersier dan mencari solusi secara lebih mandiri terhadap persoalan-persoalan menyangkut air irigasi yang muncul di tingkat usaha tani. 

Sarwo Edhy mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementan untuk mendongkrak peningkatan produksi pangan secara signifikan.

"Saat ini penyediaan sarana dan prasarana pertanian yang lebih memadai menjadi fokus dalam peningkatan produksi pangan. Di antaranya melalui pembangunan atau rehabilitasi jaringan irigasi, perluasan atau pencetakan sawah baru dan penyediaan alat mesin pertanian," ungkap Sarwo Edhy.

Dari penyediaan sarana dan prasarana tersebut, jelas Sarwo Edhy, secara kuantitas mengalami peningkatan. Begitu pula dengan pembangunan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang sudah dilaksanakan mampu memberikan kontribusi perluasan coverage area tanaman yang terairi.

"Namun saat ini, masih perlu ditingkatkan dalam penyediaan dan pengelolaan air irigasi adalah bagaimana pengelolaan, pemanfaatan serta pemeliharaan jaringan irigasi berjalan secara berkelanjutan. Sehingga terus berkontribusi terhadap peningkatan produksi tanaman pangan," ujar Sarwo Edhy.

Basir, warga Desa Jukio, Kecamatan Gunung Pelindung menyebut irigasi digunakan secara bergilir. Saluran irigasi atau siring bahkan baru digunakan usai diubah dari saluran alami menjadi permanen.

Ratusan hektare lahan untuk penanaman padi sawah di wilayah tersebut diakuinya mengandalkan air irigasi. Saat masa tanam gadu, meski sebagian wilayah kekurangan air, Basir memastikan sebagian petani mulai tahap pengolahan lahan.

Usai pengolahan lahan (labuh) sebagian petani menebar benih (ngurid) bahkan sebagian mulai menanam padi (tandur). Masa tanam musim gadu yang dilakukan petani dengan adanya pasokan air lancar sebagian memakai padi varietas IR64 yang tahan kekeringan.

Peningkatan saluran irigasi dari siring alam menjadi siring permenan memudahkan petani membagi air agar bisa digunakan untuk menanam padi, sayuran dan buah.

“Pembangunan siring permanen sengaja dikebut karena ada sumber air pada bagian atas lalu dibuat menjadi bendungan dialirkan melalui siring permanen yang selesai dibuat,” papar Basir.

Memanfaatkan saluran irigasi yang terhubung hingga dua kilometer lebih, petani masih bisa menanam kala musim gadu. Saat kemarau, sebagian petani diakuinya bahkan melakukan proses perbaikan sejumlah saluran air yang kering.

Sebab pada sejumlah saluran tersier proyek irigasi di wilayah tersebut, sebagian bocor. Seusai irigasi mulai diperbaiki dan kering, petani bisa memanfaatkan air untuk melakukan penanaman padi.

Bagi sebagian petani di wilayah Lamtim, keberadaan embung pada lokasi bekas galian pasir menjadi cadangan air.

Isti, salah satu petani di Kecamatan Pasir Sakti mengungkapkan petani masih bisa menanam sayuran. Selama kemarau melanda, pasokan air bisa diambil dari embung bekas galian pasir di wilayah tersebut.

Meski kemarau dengan memanfaatkan lahan yang ada sebagian petani bisa mendapatkan penghasilan dari menanam sayuran.

“Selain menanam sayuran jenis sawi, kangkung, kacang panjang kami bisa menanam pepaya Calina di bagian tegalan sawah yang kami miliki,” ungkap Isti.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto