logo

Pernyataan Mahfud MD Soal Donatur Penganut Faham Radikal, Berpotensi Timbulkan Keresahan

Pernyataan Mahfud MD Soal Donatur Penganut Faham Radikal, Berpotensi Timbulkan Keresahan

Direktur Eksekutif Center for Public Policy Studies (CPPS) Institut STIAMI Jakarta, Bambang Istianto.
19 Agustus 2019 10:15 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Eksekutif Center for Public Policy Studies (CPPS) Institut STIAMI Jakarta, Bambang Istianto mengatakan, pernyataan Ketua Umum Suluh Kebangsaan, Mahfud MD bahwa ada pengusaha Arab membawa uang untuk membantu kelompok radikal di Indonesia berpotensi menciptakan keresahan di kalangan masyarakat.

Menurut Bambang, bila Mahfud  dapat mengidentifikasi pelakunya atau kelompok yang dimaksud, sebaiknya laporkan kepada pihak kepolisian, bukan malah sebaliknya membuat opini di masyarakat.

"Karena kalau Mahfud MD tidak bisa membuktikan, itu artinya fitnah. Apa motif Mahfud memberikan pernyataan itu. Intelijen kita sudah hebat, selain itu pihak kepolisian juga memiliki jaringan yang luas, tentunya lebih tahu terkait dengan ancaman yang akan terjadi. Tapi BIN maupun Polri belum memberikan keterangan resminya," ujar Bambang kepada wartawan, Senin (19/8/2019).

Senada dengan Bambang, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MU), Din Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/8/2019) mendesak Mahfud MD bisa menjelaskan dan melaporkan langsung kepada pihak kepolisian, terkait dengan pernyataannya mengenai kelompok radikal di Indonesia.

"Pernyataan Mahfud MD bahwa ada pengusaha Arab membawa uang untuk membantu kelompok radikal di Indonesia bernada tuduhan dan menciptakan keresahan di kalangan masyarakat. Maka sebaiknya Mahfud MD menjelaskannya dan melaporkannya ke kepolisian," ungkap Din.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini menyampaikan, kalau tidak melaporkan maka itu sama dengan melempar isu atau menyebar fitnah.

"Ini berbahaya bagi kerukunan bangsa," imbuhnya.

Sebelumnya, saat di Gedung JS Luwansa Jakarta, Jumat (16/8/2019), Mahfud menyebut bahwa dirinya mendapat informasi penganut paham radikal akan masuk ke Indonesia dengan membawa sejumlah dana untuk mendirikan pesantren beraliran radikal.

"Ada info masuk, sekarang ini di luar negeri itu sudah banyak penganut Islam radikal yang ditangkap tapi mereka mau lari ke sini (Indonesia). Bawa uang mau mendukung pesantren, mendirikan pondok pesantren yang (ajarannya) berbeda," mantan politisi PKB itu. 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto