logo

Narkoba Ancaman Terbesar, Jika Tak Ditindak Tegas Satu Generasi Bangsa Hilang

Narkoba Ancaman Terbesar, Jika Tak Ditindak Tegas Satu Generasi Bangsa Hilang

Foto (SK/Sadono)
14 Agustus 2019 19:45 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sasaran yang dituju oleh bandar narkoba saat ini adalah generasi muda. Itu karenanya negara merupakan ancaman terbesar bagi bangsa.

"Kita prihatin dengan kondisi saat ini sasaran generasi muda dan bandar tidak melihat kalangan mulai dari akademisi, pelajar, pejabat tokoh publik, dan lainnya," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal, yang sambutannya dibacakan oleh Karo Penmas Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019), saat membuka forum diskusi (FGD) bertajuk "Refleksi 74 tahun Indonesia Merdeka dalam Memberantas Narkoba".

FGD di hadiri oleh Ketum DPP Granat Henry Yosodiningrat, Mantan ketua BNN Anang Iskandar, Direktur Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri Brigjen Eko Daniyanto dan musisi Oppie Andaresta.

Lebih lanjut Dedi mengatakan,  bahaya narkoba jika tidak ditindak tegas dapat mengancam hilangnya satu generasi.

Narkoba yang dulu masuk ke Indonesia dalam jumlah gram kini berkembang masuk dari laut dengan jumlah ton-tonan.

Narkoba, lanjut dia, disalahgunakan jika dulu untuk keperluan medis, sekarang disalahgunakan tidak untuk medis yang dampaknya sangat fatal mulai dari kerusakan syaraf hingga kematian.

"Narkoba musuh negara, polisi terus melakukan penangkapan. Penumpasan narkoba perlu sinergi antara stakeholder dan masyarakat yang dapat memberantas. Narkoba ancaman serius yang harus ditindak tegas," katanya.

Sementara, Komjen Purn Anang Iskandar menyoroti Undang-Undang Narkoba yang tujuannya memberantas peredaran narkotika. Upaya menjamin rehabilitasi medis bagi penyalahguna dan pecandu. Jadi misi penegakan hukum sudah jelas.

"Untuk penanganan pengedar harus bersifat represif, dimana pengedar harus diancam minimal 5 tahun," ucap Anang 

Selanjutnya, Eko Daniyanto dalam paparannya berjudul "Hidup Sehat Terhormat Tanpa Narkoba", menegaskan bahwa pecandu wajib dilakukan rehabilitasi, dan saat ini sudah terjadi penurunan jumlah pecandu. Bagaimana Polri menekan suplay and diman, dengan memutus mata rantai yaitu memotong di hulu.

"Kita harus perangi narkoba yang sasarannya adalah generasi milennial, ini bisa jadi ancaman serius bangsa dan negara," papar Eko.

Untuk menghindari agar tak tumbuh lagi pengguna baru, Eko pun memberi saran untuk para generasi milennial yang menjadi sasaran para pengedar.

“Generasi milenial harus cerdas dalam bertindak dan memilih pertemanan. Sehingga tak ada celah bagi pengedar untuk melancarkan aksinya. Untuk para orangtua wajib melakukan pengawasan dan pengarahan akan bahaya narkotika terhadap anak-anaknya sehingga bisa terhindar dari bahaya narkoba," imbuh Eko. 

Sementara itu, Ketua Umum GRANAT, Henry Yosodiningrat menegaskan, bahwa cara pencegahan harus berbeda dengan cara lama, kalau selama ini mencegah di perbatasan agar tidak masuk ke wilayah Indonesia.

Pemerintah Indonesia harus melakukan kerjasama dengan negara asal narkoba, melalui Konvensi Internasional. Bagaimana produksi narkoba bisa ditindak tegas demikian juga yang menanam pohon, yang menjadi bahan narkoba, karena selama ini di negara asal narkoba, disana pabrik narkoba saja tidak melarang, yang dilarang adalah pemakai, inilah perlu adanya kesepakatan agar narkoba tidak masuk Indonesia.

"Kita melihat upaya pencegahan dan pemberantasan belum maksimal, untuk itu perlu cari metode baru, seperti FGD ini harus bisa memberikan masukan pemerintah. Karena modusnya berubah-ubah, kejahatan narkoba selama ini dilakukan dengan sistematis, untuk itu dalam melawan kejahatan narkoba juga harus dengan cara konvensional dan sistematis," tegasnya.

Pendiri Ormas Granat juga berharap ada upaya menyelamatkan bangsa dari kehancuran, akibat dari penyalahgunaan narkoba.

Pertama adalah perlunya upaya mencegah narkoba masuk wiyahah NKRI, kedua mencegah penyebarannya di kalangan masyarakat, ketiga mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba, keempat adalah rehabilitasi.

"Pencegahan terhadap pemakaian narkoba yang pertama kali ditangkap harus di rehab, itu bukan cara yang terbaik. Makanya saya sudah mengusulkan ke pemerintah dan DPR untuk merevisi UU narkoba,” kata Henry

Editor : B Sadono Priyo