logo

Din Syamsuddin Ajak Mahasiswa Berorganisasi Dengan Ikhlas

Din Syamsuddin Ajak Mahasiswa Berorganisasi Dengan Ikhlas

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Rektor UMS Prof Sofyan Anif menghadiri grand opening Masta penyambutan mahasiswa baru UMS
14 Agustus 2019 19:19 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengajak mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo, untuk aktif berorganisasi. Tetapi berorganisasi harus didasarkan dengan keihlasan.

Hal ini dikatakan Din Syamsuddin saat menghadiri Grand Opening Masta (masa ta'aruf) Penyambutan Mahasiswa Baru 2019 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo, Jawa Tengah, Rabu (14/8/2019).

"Mahasiswa bisa mengikuti organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Muhammadiyah membutuhkan kader yang akan terus mengembangkan Muhammadiyah sesuai visi Islam berkemajuan," kata Din dihadapan 8.212 mahasiswa baru UMS.

Menurut Din, Muhammadiyah adalah organisasi yang telah mendunia. Dirinya mengajak mahasiswa untuk memahami organisasi tersebut secara benar. Pasalnya banyak yang tidak paham tentang Muhammadiyah.

"Ada yang menyebut Muhammadiyah adalah organisasi yang tidak sesuai dengan Islam. Bahkan ada yang menganggap Muhammadiyah adalah agama baru di luar Islam," katanya lagi.

Padahal Muhammadiyah adalah organisasi dan alat perjuangan untuk dakwah demi kepentingan Islam dan umat.

Sementara itu, Rektor UMS Prof Sofyan Anif seusai acara mengatakan saat ini UMS berada di peringkat ke-5 versi Unirank. Dari ratusan perguruan tinggi Islam, 290 tersaring dan UMS berada di peringkat lima.

"Ini baru pertama diraih UMS, kita ranking lima atau satu grade di bawah Al Azhar University Kairo," jelas Sofyan.

Menurut Sofyan, UMS bisa menjadi ranking kelima karena salah satu kriteria instrumen penilaian adalah banyaknya mahasiswa asing yang kuliah di perguruan tinggi tersebut. Saat ini di UMS jumlah mahasiswa asing mencaoai 267 dan sebagian berasal dari negara timur tengah.

"Ada dari Jordania, Mesir, Palestina, dan lain lain. Saya lihat perguruan tinggi Islam lain di Indonesia hebat-hebat tapi mereka tidak masuk ranking. Seperti IAIN, UIN, Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta itu hebat-hebat tapi tidak masuk ranking. Tapi mahasiswa asingnya sedikit," jelasnya lagi.

Mahasiswa asing yang belajar di UMS tersebut menurut Raktor bisa menjadi corong jika mereka kembali ke negaranya. Mereka bisa menceritakan bahwa di Kota Solo ada perguruan tinggi Islam yang bagus.

"Selain karena jumlah mahasiswa asing, pemeringkatan juga banyak dipengaruhi UMS yang masuk dalam penilaian QS Star. Dimana UMS pernah berada di rangking delapan," katanya.

UMS bahkan menjadi satu-satunya perguruan tinggi Islam di Indonesia dan dunia yang masuk ranking QS Star. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto