logo

Mabrur Vs Selfie

Mabrur Vs Selfie

10 Agustus 2019 00:36 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Puncak ibadah haji akan jatuh pada 9 Dhulhijah yang bertepatan dengan hari Minggu 11 Agustus besok. Padang Arafah menjadi saksi jutaan umat muslim dari berbagaai penjuru dunia dalam menjalankan ritual ibadahnya dan semua berbondong-bondong untuk bisa menggapai jaminan pahala tertinggi yaitu mendapatkan haji mabrur. Tentu semua umat ingin memperolehnya meski perjuangan untuk menggapainya tidaklah mudah. Fakta di era kekinian tantangan perjalanan ibadah haji bukanlah pada aspek ketersediaan armada karena sejatinya jalur transportasi udara memberikan keleluasaan dan juga kenyamanan berkendara menuju Baitulah.

Kemudahan akses itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan jaman dulu ketika lewat jalur laut menjadi pilihan yang paling rasional untuk bisa mengantarkan jamaah menuju ke Mekah dan Medinah. Waktu tempuh berbulan-bulan menjadi fenomena yang sangat lekat dengan perjalanan panjang ibadah haji sehingga selamat sampai tujuan begitu juga sampai di rumah menjadi taruhan yang tidak kecil. Artinya risiko perjalanan di masa lalu sangat besar dan berbeda dibanding saat ini karena waktu tempuh relatif bisa lebih cepat kisaran 9 jam saja. Meski demikian, kendala yang muncul adalah waktu tunggu antrian yang sangat lama bisa sampai 10 tahun dan tergantung setiap daerah.

Dualisme antara musim haji saat masa lalu dan masa sekarang memberikan pemahaman yang semakin menarik dicermati bahwa menikmati perjalanan haji bukan sekedar bisa terdaftar dan berangkat serta selamat sampai di rumah, tapi ada berbagai riak perjalanan di setiap periode waktunya yang memberikan pendalaman terhadap makna ibadah haji itu sendiri. Oleh karena itu, hampir dipastikan pengalaman ibadah haji setiap orang pasti berbeda. Fakta inilah yang akhirnya menyimpulkan adanya nilai keterkaitan antara amal ibadah seseorang dengan pelaksanaan ritual ibadah hajinya.  Konkretnya memang ada yang dipermudah namun banyak juga yang dipersulit.

Era kekinian memang kemudahan transportasi menjamin kelancaran ibadah haji, begitu juga kemudahan di bidang teknologi komunikasi yang didukung akses internet. Terkait ini maka beralasan jika kini dipastikan hampir semua jamaah haji membawa smartphone untuk mengabadikan semua perjalanan dan ritual ibadah hajinya. Sayang, hal ini justru tanpa disadari mengurangi khusyuknya pelaksanaan berbagai ritual ibadah haji karena semakin disibukan dengan kenyamanan berselfie. Padahal semestinya gawai yang ada di berbagai akses bisa mendukung jamaah untuk memperdalam kenyamanan beribadah haji termasuk juga potensi menambah pundi-pundi pahala. Faktanya, yang terjadi sebaliknya karena kini semakin jamak ditemui jamaah terlena dengan berbagai kegiatan selfie yang kemudian mereduksi hakekat dan nikmat ibadah haji.

Haji tentunya menjadi dambaan bagi semua umat muslim karena hanya yang terpanggil sajalah yang bisa menjalankan ritualnya. Di satu sisi, kemudahan cara pembayaran serta fasilitas transportasi menjadikan antrean semakin panjang sementara di sisi lain ancaman dibalik hobi selfie jamaah haji bisa menjadikan racun terhadap sebutan Haji Selfie yang tentunya akan bisa mengaburkan tujuan utama untuk mendapatkan sematan Haji Mabrur. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo