logo

DKI Janji Bangun Kantor Diaspora Indinesia Di Jakarta

DKI Janji Bangun Kantor Diaspora Indinesia Di Jakarta

Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan menjadi pembicara diskus panel Diaspora Internasional di kawasan Casablanka, Jakarta Selatan, Sabtu (10/8/2019).i
10 Agustus 2019 17:22 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan menjanjikan akan membangun kantor Diaspora Indonesia di Jakarta.

Hal itu sampaikan aaat menjadi pembicara dalam diskusi panel utama Kongres Diaspora Indonesia (Congress of Indonesian Diaspora/CID) ke-5 tahun 2019 di Casablanka Hall, Jakarta Selatan, Sabtu (10/8/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Anies menyampaikan bahwa Pemprov DKI akan memfasilitasi kantor khusus bagi diaspora di jantung Ibu Kota yang akan kembali dari seluruh penjuru dunia.

"Pemprov DKI akan menyiapkan kantor khusus untuk Indonesian Diaspora Network (IDN) di Ibu Kota kita. Kami akan aktifkan kantornya di salah satu segitiga emas. Jadi anda berada di Pusat Kota Jakarta. Kemudian kantor itu memiliki Coworking Space," katanya.

Gunakan tempat itu menjadi hub-nya, sehingga siapa saja diaspora datang ke Indonesia akan memiliki homebase dan disebut sebagai House of Diaspora of Indonesia Anies kemudian menceritakan pengalamannya sebagai seorang Diaspora yang pulang dan butuh mendapatkan jejaring untuk berkarya di Indonesia.

Ia berharap rencana Pemprov DKI dalam menjawab kebutuhan diaspora Indonesia mampu melahirkan inovasi dan kreatifitas baru yang membawa kebermanfaatan bagi bangsa dan negara.

Pemerintah akan siap untuk memfasilitasi dan bertemu. Karena itu nanti Diaspora House itu bisa menjadi betul-betul hub untuk bertemunya segala sektor bagi ide-ide baru.

Lihatlah apa masalah di Indonesia, lalu pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia.

"Jadi apa yang kami butuhkan dari teman-teman diaspora yang kembali ke Indonesia adalah menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia, bukan berbagai hal yang dipelajari di luar negeri untuk diterapkan di Indonesia," kata Anies.

Ia juga menyampaikan diaspora Indonesia harus mampu mencari mitra kerja lokal yang mengetahui kondisi medan masalah mantan Mendikbud itu menyebut kombinasi ilmu pengetahuan diaspora yang didapat dari luar negeri dan pengalaman mitra kerja lokal berbasis fakta lapangan akan mampu menyelesaikan masalah di Indonesia.

World class competence (kompetensi kelas dunia) harus diimbangi Grassroot understanding (pengetahuan akar rumput). Jangan sampai world class competence justru tidak memiliki pemahaman atas grassroot kita, kenyataan kita.

"Tapi jangan juga terbalik. Kita memiliki pemahaman yang luas tentang Indonesia tapi tidak punya kompetensi yang berkelas dunia," ucap Anies. Anies menekankan terdapat empat  komponen penting yang dapat dibawa diaspora saat kembali ke Indonesia, yaitu kompetensi khusus di bidangnya, kemampuan komunikasi internasional, jejaring sosial yang luas, dan investasi (modal). Karena itulah, Anies berharap kepada diaspora yang termasuk pelajar (mahasiswa) harus memiliki pengalaman pekerjaan di luar negeri setelah menyelesaikan studinya.

"Saya kembali ke Indonesia tahun 2005. Sebelumnya saya bekerja di Chicago. Setelah selesai kuliah, saya bekerja di sana. Dan ini juga pesan saya selalu untuk teman-teman yang sedang kuliah. Kalau anda kuliah di luar, jangan pulang cepat-cepat. Tapi selesai dari sana, tambahkan bekerja, bangun jaringan," tutur Anies.

Ia merupakan salah satu diaspora yang menempuh pendidikan pascasarjana di luar negeri, yaitu gelar Magister di University of Maryland, School of Public Policy, College Park, Amerika Serikat dan gelar Doktor di Northern Illinois University, Department of Political Science, Dekalb, Illinois, Amerika Serikat.

Diskusi panel bertema “Understanding the Indonesian Diaspora and How to Harness Their Immense Potential” (Memahami Diaspora Indonesia dan Bagaimana Memanfaatkan Potensi Besar Mereka) tersebut dilakukan Gubernur Anies bersama tiga pembicara lainnya, yaitu: Bambang Susantono — Vice President for Knowledge Management and Sustainable Development of Indonesia.

Editor : Yon Parjiyono