logo

Ribuan UMKM Perikanan Banyak "Sekarat" Akibat Permen

Ribuan UMKM Perikanan Banyak

Deretan perahu nelayan. (foto, idt)
09 Agustus 2019 21:36 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ketua Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo) Wajan Sudja, di Jakarta, Jumat (9/8/2019) mengatakan, ada ribuan UMKM Perikanan bangkrut dan sekarat.

"Yang pada kaput atau sekarat, atau bangkrut ada ribuan UMKM perikanan yang semuanya legal. Tidak terlibat dalam kegiatan illegal, apalagi ilegal fishing,” jelasnya.

Dicontohkannya, pembudidaya ikan kerapu, bangkrut akibat Permen KP nomor 32/2016. Pembudidaya berbagai jenis ikan, antara lain pembudidaya ikan nila di Danau Toba, yang dikorbankan untuk tutup usahanya.

"Padahal sumber pencemaran berasal dari industri pariwisata, hotel, restauran dan lain-lain. Pengumpul benih lobster, bangkrut dan jatuh miskin akibat Permen KP nomor 56/2016,” tuturnya.

Wajan juga menyoroti nelayan dengan kapal-kapal <5 GT bantuan KKP yang menghabiskan triliunan APBN dan kapal-kapal rongsokannya mangkrak.

“Ribuan crew lulusan Sekolah Tinggi Perikanan yang semula bekerja di kapal-kapal indonesia yang tadinya nyaman ada kamar dengan ranjang tidur. Akibat Permen KP nomor 56/2014 mereka sekarang harus tidur di tempat seadanya seperti di laci,” ungkap Wayan.

Semua itu, lanjutnya, ditutupi dengan propaganda penenggelaman kapal. Orang awam non-perikanan tidak paham, bahwa kota-kota seperti Bitung, Tual, Sorong dan lain-lain pusat industri pengolahan perikanan sekarang menjadi kota mati.

Tadinya, kota-kota pusat industri perikanan tersebut adalah wilayah pengekspor produk-produk perikanan Indonesia.

Sementara itu, Koordinator Forum Marikultur Nasional, Muhibbuddin Koto alias Budhy Fantigo membenarkan apa yang disampaikan mantan menteti KKP era GusDur yakni Rokhmin Dahuri.

Rokhmin menyatakan, saat ini banyak industri perikanan yang bangkrut. Hal itu dikemukakannya pada acara Seminar Nasional Prospek Poros Maritim Dunia di Periode Kedua Jokowi yang diadakan oleh The Habibie Center, di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Senada ungkapan Rokhmin, Muhibbuddin Koto alias Budhy Fantigo menyatakan, industri perikanan hancur lebur adalah fakta. “Volume ekspor perikanan dalam lima tahun ini menurun. Anda bisa cek datanya. Tahun 2014 sekitar 1,2 juta ton,sejak 2015 sampai sekarang di bawah 1 juta ton,” ujarnya.

Menurut dia, saat ini UPI (Unit Pengolahan Ikan) utilitasnya rata rata di bawah 40 persen, sebelumnya di atas 50 persen. Termasuk produksi pakan ikan nasional juga turun, di bawah 70 persen dari kapsitas, sebelumnya mendekati 90 persen.

“Jumlah unit kapal tangkap yang beroperasi juga jauh menurun. Budidaya kerapu, kepiting sudah lenyap di era Susi. Bisa dilihat di Muara Baru sebagai pelabuhan perikanan terbesar, berapa banyak kapal yang parkir dan UPI di Muara Baru juga banyak yang tutup, Harga ikan terutama ikan tangkapan semuanya naik (harga). Ini indikator memang supply yang turun," jelasnya.

Diterangkan pula, hampir semua pelaku usaha mengeluh, kinerja usahanya turun semua. "Apa itu industri pencurian? Pencuri ikan Asing sudah berkurang tapi sampai sekarang tetap ada. Namun, kinerja nelayan, pembudidaya dan industri semuanya anjlok, bahkan banyak yang sudah tutup usaha,” ungkapnya.

Terkait dengan stok ikan, terangnya, saat ini ini memang terkesan tinggi (12,54 juta ton) karena metode penghitungannya diperbaiki, sampling lebih banyak dan item pengamatan lebih banyak. “Sebenarnya dari dulu stock ikan sudah tinggi juga, para ahli berestimasi antara 6,5 – 16 juta ton. Namun, untuk menghindari over fishing maka ditetapkan hanya 6,5 saja,” pungkasnya

Editor : Azhari Nasution