logo

Prukades Dan BUMDes Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Prukades Dan BUMDes Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Peserta Focus Group Discussion (FGD) Strategi Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) berfoto dengan Ketua Tim Advisor Mendes PDTT Prof Dr Haryono Suyono (tengah). (foto, ist)
09 Agustus 2019 20:47 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BONE BOLANGO: Keberadaan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Bondawuna, Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango diklaim bisa membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi tengkulak.

Prukades jagung yang menjadi salah satu andalan, setelah dikelola BUMDes, bisa menguntungkan petani karena ditampung dengan harga yang lebih tinggi dibanding pengepul/tengkulak. Hal tersebut disampaikan Kades Bondawuna Rauf Latedu pada acara Focus Group Discussion (FGD) Strategi Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), di Aula PKBM Desa Bonda Raya, Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, Kamis (8/8/2019).

"Produk unggulan yang ada di Bondawuna yaitu jagung, dengan lahirnya UU Desa bisa dikembangkan dan diatur dalam BUMDes. Sehingga, petani dan BUMDes bisa kolaborasi," tuturnya.

Rauf Latedu menceritakan, tahun 2015, desanya mendapat kucuran dana desa sebesar Rp272 juta, pada 2019 Rp1,1 miliar. Dan, pada tahun 2018 dialokasikan untuk BUMDes sebesar Rp.250 juta, guna penyertaan modal/dana stimulan. "Intinya bagaimana petani bisa sejahtera. Awalnya mereka terjerat dengan tengkulak, adanya BUMDes terangkul 23 petani," ungkapnya.

Pada tahun 2015 ada program Penyediaan Infrastruktur Ekonomi (PIE) dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) untuk bangun lumbung padi. Diungkapkannya, permasalahan yang dihadapi petani yaitu cara tanam dan panen masih tradisional, masalah biaya pengolahan dan pascapanen, permainan harga tengkulak, bibit dan pupuk sulit didapatkan.

"Dengan hadirnya BUMDes menstabilkan harga untuk petani. Dan, semua persoalan teratasi," ujarnya.

Di bagian lain, Direktur BUMDes Bersatu Azab Naleya, Zainula Naleya mengatakan BUMDes yang mengelola gudang jagung ini baru berjalan tahun 2018. Usaha yang dikelola ada tiga unit yaitu pertanian pengembangan jagung, pemberdayaan aset desa, serta usaha toko desa berupa obat obatan, pupuk, sembako.

"Kultur masyarakat disini bertani jagung. Makanya, BUMDes mengelola pengembangan jagung untuk pengembangan ekonomi masyarakat," tuturnya.

Gudang jagung yang dikelola BUMDes ini syaratnya harus petani pemilik lahan, melalui survey yang dilakukan pengurus BUMDes, diberi pinjaman awal berupa benih, pupuk, pestisida. "Setelah panen baru mereka melunasi pinjaman ke BUMDes dengan menjual hasil panen jagungnya," terang Zaenula Naleya.

Dijelaskan, kalau dijual ke tengkulak harga jagung hanya sekitar 1500, kalau melalui BUMDes dihargai 3500. "Jadi ini menguntungkan petani," ujarnya.

Sementara itu, Tim Advisor Mendes PDTT Bidang Kewirausahaan Sosial Masril Koto mengatakan, persoalan ekonomi desa melalui penguatan BUMDes, kelemahannya adalah kurang akses informasi, dan masalah keterampilan.

"Kurangnya akses informasi, bagaimana melihat potensi desanya. Misal kenapa harga jagung agak didikte? Karena kurangnya keterampilan mengetahui kualitas jagung. Karena, petani kita kurang diakses mengenai keterampilan-keterampilan," jelasnya.

Untuk itu, pemda dengan dinasnya diharapkan bisa memberikan ketermapilan kewirausahaan atau keterampilan teknis, yang kaitan dengan fokus ekonomi desanya. Sementara, kementerian akan mendorong penguatan SDM melalui keterampilan-keterampilan.

Selain pula perlunya peran perguruan tinggi, seperti PERTIDES. Kerja sama dengan Perguruan tinggi terutama soal keterampilan. Atau, organisasi ekonomi/kelembagaan lebih baik juga jika melibatkan/digerakan oleh pemuda. Agar tidak lari ke kota dan bisa olah potensi ada di desa

Editor : Dwi Putro Agus Asianto