logo

"Sopo Ngiro", Brigjen CDL Gelar Pameran Tunggal

Istimewa
08 Agustus 2019 21:58 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA:Brigjen Polisi Chrysnanda Dwi Laksana kembali menggelar pameran lukisan di Museum Cemara Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat. Kali ini, pameran tunggal membesut tema “Sopo Ngiro” ,  Jumat (9/8/2019)-Kamis (15/8/2019).

Di tengah kesibukannya sebagai Direktur Keamanan dan Keslamatan Korlantas Polri, CDL , sapaan akrabnya,masih menyempatkan menorehkan kanvas sesuai hobinya sejak kecil. Lukisan jenderal kelahiran Magelang 3 Desember 1967 ini termasuk Kontemporer atau tidak teratur, tapi sarat pesan moral.

Berikut pendapat dari beberapa tokoh seni:

Yulianti Liesono

“Sopo Ngiro” ini ungkapan Jawa yang artinya dalam bahasa Indonesia: “siapa bisa menyangka”.  Tampaknya judul tersebut tidak “njamani”, tidak “zaman now”, atau “kurang milenial”. Padahal pameran tersebut berlangsung di galeri terpandang yang banyak mengorbitkan perupa muda, sering menggelar kreativitas terbaru dari perupa senior yang tak henti mencari, sehingga memberi kontribusi positif bagi perkembangan seni rupa Indonesia.

Maklum, galeri ini milik seorang  intelektual penyandang gelar profesor yang menjadi mahaguru di perguruan tinggi negeri terkemuka, dan seorang doktor penulis banyak buku filsafat, serta “penyair perempuan” terdepan dalam lembar kesusastraan Indonesia, sekaligus pejuang “kesetaraan” gender masyhur di negeri ini. Dan hingga kini masih memimpin kantor paten Biro Oktroi Rooseno

 

Toeti Heraty

Pelukisnya pun tak kalah ganjilnya. Dia seorang intelektual, doktor yang dengan esai?esainya yang telah dikumpulkan dalam buku-buku tebal nan tajam dalam menyoroti soal?soal sosial, dan sedari muda hingga hari-hari ini terus kreatif melukis, meski sehari-hari  sibuk pula menjadi bhayangkara negara sebagai jenderal.

Chryshnanda adalah seniman yang tumbuh dengan kedalaman budaya Jawa, tapi terdidik  baik dalam pemikiran-pemikiran Barat modern dan global-kontemporer (yang tak lagi  mendikotomikan antara yang tradisi dan yang modern). Itu semua diserapnya dan di-”manunggal’-kan dalam dirinya demi menjalani masalah-masalah nyata di hadapannya.

Meski judulnya sangat berbau tradisi, lukisan-lukisan yang digelarnya tidak lantas  menunjukkan gejala-gejala visual yang lahiriah, yang wadag, misalnya dengan menonjolkan wayang kulit atau motif batik. Berbagai gaya modern pun tidak lagi dipinjamnya, dan menjadi wadag atau badan, melainkan telah disatukannya menjadi “roh”.

Antara yang realis, dekoratif, dan abstrak bisa diaduknya –dia memanfaatkannya di mana dia memerlukannya sebagai suatu ekspresi diri. Seperti liar tapi terkomposisi dengan pertimbangan-pertimbangan visual

 

Editor : B Sadono Priyo