logo

CPD Menjadi Alternatif Model Pengembangan Kompetensi Guru

CPD Menjadi Alternatif Model Pengembangan Kompetensi Guru

Rektor UMS Prof Sofyan Anif dikukuhkan sebagai guru besar UMS ke-25
08 Agustus 2019 18:02 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Salah satu alternatif model pengembangan kompetensi yang efektif untuk guru adalah model CPD (Continuous Professional Development). Atau yang sering disebut dengan pengembangan keprofesian secara berkelanjutan dan terpadu.

Hal ini dikatakan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo, Jawa Tengah, Prof Dr Sofyan Anif, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar ke-25 UMS di Gedung Auditorium Muh Djazman, UMS, Kamis (8/8/2019).

"Kondisi kompetensi guru saat ini dan kebutuhan kompetensi guru masa mendatang, serta seiring dengan perkembangan ipteks yang begitu pesat maka pengembangan kompetensi guru secara terstruktur dan berkelanjutan serta ber-orientasi pada era industri 4.0," papar Sofyan Anif dalam pidato berjudul PengembanganSumberdaya Pendidik Berbasis Continuous Professional Development pada Era Disrupsi.

Dalam pidato pengukuhan tersebut, Sofyan Anif juga mengatakan perguruan tinggi harus mampu berperan dalam menciptakan guru yang handal dan profesional. Perguruan tinggi menjadi pusat pengembangan kompetensi bagi alumninya sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik.

"Untuk merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  dan kebutuhan guru ke depan, maka perguruan tinggi  harus mengembangkan kurikulum berbasis era disrupsi dan berorientasi pada perkembangan era industri 4.0 dan 5.0," jelasnya.

Sofyan Anif dikukuhkan sebagai guru besar UMS ke-25 dan ketiga sebagai guru besar bidang manajemen pendidikan. Pengukuhan dilakukan  Dirjen Sumberdaya Ipteks dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) Prof Dr Ali Gufron M.Sc.

Dalam pengukuhan tersebut juga dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dalam sambutannya, Haedar mengatakan UMS merupakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang memiliki jumlah dosen dan guru besar berbanyak.

"Sistem pendidikan holistik yang dikembangkan dan menggabungkan antara intelegensi, emosional dan intelektual setidaknya menawarkan solusi dari era ketercerabutan atau disrupsi," katanya.

Sementara itu, Dirjen Sumberdaya Ipteks dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) Prof Dr Ali Gufron M.Sc pada acara tersebut mengatakan bahwa profesor merupakan jabatan akademik tertinggi dan bukan gelar. Dirinya juga mendorong agar dosen-dosen di PTM lain juga bisa menjadi profesor.***

Editor : B Sadono Priyo