logo

Dengan Coklat Pegagan, Peserta Bimtek Asal Kulon Progo Curi Perhatian

Dengan Coklat Pegagan, Peserta Bimtek Asal Kulon Progo Curi Perhatian

03 Agustus 2019 08:30 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - YOGYAKARTA: Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Wisata Perdesaan dan Perkotaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), 31 Juli -1 Agustus 2019 di Yogyakarta berlangsung sukses. Dalam Bimtek ini ada peserta asal Kulon Progo, Dewi  Martuti Rahayu yang sempat mencuri perhatian. Dia menjadi perhatian lantaran sukses mengembangkan coklat pegagan. Ia mengklaim coklat pegagan hanya ada di Kulon Progo, satu-satunya di dunia, tak ada di tempat lain.

Seiring perkembangan zaman, bahan baku cokelat memang mulai dikolaborasikan dengan berbagai tambahan rasa, mulai dari rasa asam buah hingga rasa pedas. Di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Dewi mengkolaborasikan cokelat dengan pegagan, semacam tumbuhan gulma yang tumbuh subur di sawah.

"Awalnya saya membuat kripik-kripik dari pegagan. Tapi saat melihat anak-anak yang tidak suka makan sayur tapi gemar makan cokelat, saya pun kepikiran membuat coklat dengan campuran pegagan," kata Dewi di sela-sela mengikuti Bimtek Kemenpar, Kamis (1/8).

"Setelah ternyata cokelatnya banyak peminat, saya mengajak ibu-ibu untuk membantu saya mengembangkan cokelat pegagan ini," tambah Dewi.

Menurut Dewi nama Cokelat Pegagan kini menjadi branding. Selain memang bahannya dikolabirasikan dengan pegagan, dari sisi nama pun mudah diucapkan dan diingat. Inilah yang menjadi pertimbangan menggunakan branding cokelat pegagan. Nama ini pun pada akhirnya membuat orang penasaran seperti apa rasa cokelat pegagan.

Rasa cokelat pegagan yang juga menjadi nama produk makanan olahan Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis binaan Dewi itu memang tak berbeda dengan cokelat pada umumnya. Namun jika meleleh di mulut, ada sensasi dedaunan yang membedakan rasa cokelat pegagan dengan cokelat pada umumnya.

Inovasi dan kreasi KWT Pawon Gendis itu merupakan upaya diversifikasi daun pegagan menjadi makanan olahan. Menurut Dewi cokelat merupakan satu dari sekian produk makanan yang sudah diproduksi KWT Pawon Gendis sejak berdiri pada Mei 2013.

"Saya pilih cokelat itu tidak sengaja. Tapi saya ingin menambah inovasi soal pegagan, kalau dibuat peyek itu sudah umum dan untuk anak-anak tidak suka karena masih berbentuk daun. Nah kalau cokelat, anak-anak mendengarnya saja pasti sudah suka," ujar Dewi.

Dewi menceritakan, daun pegagan untuk cokelatnya itu didapat dari hasil budidaya. Dia mengaku menanam daun pegagan di atas tanah kas desa yang disewanya. Tak jarang ia pun menampung daun pegagan dari warga pedukuhan yang ikut menanam di lahan-lahan di sekitar rumahnya.

"Dulu sebelum budidaya, kami sulit mencari pegagan meski tumbuh liar. Proses cari pegagan lebih lama daripada mengolahnya. Akhirnya kami berpikir kenapa tidak dibudidayakan saja. Lagi pula tidak sulit membudidayakan daun pegagan ini," ujar Dewi.

Kini usaha Dewi itu sudah cukup maju. Banyak wisatawan yang berkunjung ke gerai miliknya untuk sekadar membeli oleh-oleh. Namun diakui untuk pemasaran di luar Yogyakarta masih butuh usaha dan kerja keras. "Kami berharap ke depan nanti cokelat pegagan ini bisa lebih berkembang ke pasar nasional bahkan internasional," kata Dewi

Usaha Dewi ini mendapat apresiasi Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Perdesaan dan Perkotaan Kemenpar Vitria Ariani. Ia memberi saran supaya brand cokelat pegagan bisa ngehits maka hendaknya berani merangkul media. "Brandingnya sudah oke, "cokelat pegagan, satu-satunya di dunia ada di Kulon Progo". Kini tinggal bagaimana membuatnya viral di media," kata Vitria Ariani.

Menurut Ria, demikian wanita ini disapa, untuk bisa maju dan berkembang hendaknya pelaku UMKM berkawan dengan media. "Makanya saya selalu katakan penting buat kita berkawan dengan media. Karena mereka lah yang akan mengangkat produk kita, mereka yang akan mempromosikan produk kita,"kata Ria.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto