logo

ICW Desak Direformasi Pengelolaan Lapas Agar Tak Menyimpang Jauh

ICW Desak Direformasi Pengelolaan Lapas Agar Tak Menyimpang Jauh

ICW
18 Juli 2019 09:39 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Lapas menjadi pabrik narkotika, dari lapas dikendalikan transaksi narkotik dan di lapas leluasa plesiran terpidana korupsi, sudah sering didengar. Oleh karena itulah, Indonesia Corruption Watcth (ICW) merekomendasikan direformasi pengelolaan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) dilakukansecara menyeluruh. ICW berkaca dari beberapa kejadian di lapas seperti bebas berkeliarannya tahanan, pejabat menerima suap, pungutan liar, narkoba, penganiayaan terhadap tahanan dan masih banyak lagi penyalahgunaan lainnya.

Menurut Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Donal Fariz menganggap rangkaian kejadian itu disebabkan minimnya integritas di lembaga pemasyarakatan. Kasus yang terbaru ialah terkait seringnya Setya Novanto terlihat berkeliaran di luar lapas. "Butuh reformasi yang serius dari Menkumham untuk membenahi lembaga pemasyarakatan," kata Donal di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Menurut Donal, kasus Novanto menjadi catatan serius bagi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Sebab di lapas napi koruptor saja masih ditemukan celah untuk bermain. Selain kasus Novanto, Donal juga menyinggung beberapa penyimpangan lain di lapas. Contohnya seperti pungutan liar yang dilakukan oknum sipir terhadap tahanan. Bahkan, ada pula kasus penyiksaan di tahanan. "Temuan Ombudsman kan sudah cukup banyak di lembaga pemasyarakatan kita," terang Donal.

Kasus Setnov mengemuka beberapa bulan terakhir. Terpidana korupsi KTP-el itu tepergok pelesiran ke toko bangunan. Awalnya, Novanto dipindahkan dan diisolasi di Lapas Gunung Sindur, Bogor. Belakangan, Setya Novanto dikembalikan lagi ke lapas Sukamiskin secara diam-diam. Alasan pengembalian itu lantaran Novanto berjanji memperbaiki perilakunya. “Kok jadi terpidana yang mengatur pengelola lapas,” ujarnya.

Menkumham Yasonna H Laoly mengatakan Setya Novanto (Setnov) dikembalikan ke Rutan Sukamiskin karena dinilai berkelakuan baik saat di Gunung Sindur. Setnov sendiri sempat merasakan satu bulan ditahan di Gunung Sindur. "Dia (Setnov) sudah menjalani satu bulan (tahanan di Rutan Gunung Sindur). Ada review dari Karutan Sindur dan juga jajaran Kanwil Jawa Barat, dievaluasi terus dan (Setnov) sudah betul-betul bertaubat ya," kata Yasonna.

Yasonna menerangkan, selain dinilai berkelakuan baik, Setnov juga membuat surat pernyataan. Isinya tidak akan mengulangi lagi kesalahannya. "Setnov membuat surat pernyataan. Beliau dan istrinya membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi kembali (plesiran di luar lapas) dan kalau mengulangi kembali bersedia ditempatkan di manapun," ucap Yosanna.

Pemindahan Setnov dari Gunung Sindur ke Sukamiskin secara teknis ditangani oleh Kemenkumham Kanwil Jawa Barat. "Setelah evaluasi baik dari sisi fisik, psikologis dan evaluasi dari Karutan, jajaran kanwil tentunya juga setelah diajukan surat pernyataan hingga dipindahkan kembali ke Sukamiskin, dan itu teknisnya di Kanwil," tutur Yasonna.

Cukupkah hanya sebulan untuk menentukan seorang terpidana sekelas Setnov telah berubah menjadi berkelakuan baik? Agaknya hanya orang-orang lapas pula yang bisa menjawabnya.

Editor : Silli Melanovi