logo

Aksi Kekerasan Renggut Korban, SMA Taruna Indonesia Perlu Dievaluasi

Aksi Kekerasan Renggut Korban, SMA Taruna Indonesia Perlu Dievaluasi

Salah satu korban kekerasan Orientasi SMA Taruna Indonesia Palembang, Wiko Jerianda terbaring di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Charitas Palembang, Sumatera Selatan, Rabu(17/7/2019). Wiko Jerianda merupakan korban kekerasan kedua yang saat ini masih tidak sadarkan diri selain korban Siswa Baru SMA Taruna Indonesia Delwyn Berli Julindro yang meninggal Sabtu (13/7/2019) lalu. (Antara)
17 Juli 2019 23:28 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - PALEMBANG: Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyardi menyatakan SMA Taruna Indonesia perlu dievaluasi secara menyeluruh karena menerapkan sistem pendidikan bergaya militer mengingat sekolah ini cukup diminati di seluruh Indonesia.

Retno di Palembang, Rabu (17/7/2019), mengatakan, evaluasi ini sangat mendesak karena seorang siswa baru meninggal dunia saat Masa Orientasi Siswa dan seorang siswa lainnya kritis akibat dugaan penganiayaan.

"Setelah meninjau ke sekolahnya, kami mendorong evaluasi total terutama pada audit keuangan sekolah, proses belajar mengajar, serta sarana dan prasarana sekolah,” kata Retno setelah mengunjungi korban Wiko Jerianda yang masih tak sadarkan diri di Rumah Sakit Charitas Palembang, Rabu.

Retno mengatakan dirinya sudah mendatangi sekolah yang mengasramakan siswanya ini. Ia mendapati ruang kelas tanpa jendela yang mirip penjara, tenaga militer yang diberdayakan dan tenaga pengajar yang kurang memadai.

Selain itu, biaya pendidikan juga dinilai cukup mahal karena siswa baru diwajibkan membayar uang pangkal sekitar Rp22 juta, dan biaya per semester sampai Rp2,5 juta rupiah.

Untuk itu, ia menekankan perlunya audit keuangan sekolah dan evaluasi pemberian izin mengingat izin sekolah akan habis pada Oktober tahun ini.

Ia juga menyesalkan sekolah berasrama ini terkesan kurang pengawasan dari Dinas Pendidikan setempat, karena adanya kegiatan "long march" sejauh 13 km yang menjadi pemicu kejadian meninggalnya siswa saat MOS Delwyn Berly (14) pada Sabtu (13/7).

KPAI berharap agar penyidikan kepolisian juga bisa mengungkap hal lain karena sejauh ini sudah menetapkan seorang tersangka. “Bisa jadi ada anak lain yang mengalami hal serupa, tapi tidak bicara," kata dia.

Ia menambahkan, KPAI akan mengeluarkan rekomendasi atas peninjauan dan investigasi secara langsung ini, yang nantinya akan diberikan ke Pemerintah Provinsi Sumsel dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Presiden.

Salah satu rekomendasinya, yakni pendampingan psikologis bagi orangtua siswa yang menjadi korban oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi. 

             Dipukul Pakai Bambu

Informasi lainnya, siswa SMA Taruna Indonesia Palembang, Wiko Jerindra, yang diduga mengalami kekerasan saat masa orientasi sekolah (MOS) kondisinya masih kritis di ruang ICU (unit perawatan khusus) Rumah Sakit Charitas.

Dokter RS RK Charitas Palembang yang menangani Wiko, Dr Justinus R Nugroho SpAn, Rabu, mengatakan kondisi pasien belum menunjukkan perkembangan yang signifikan sejak di rujuk pada Selasa (16/7).

"Dia (Wiko) masih butuh obat-obatan dan perawatan medis intensif, semoga dia segera sadar dan pulih," ujar Dr Justinus.

Menurutnya, RS Charitas telah membentuk tim dokter khusus dari berbagai keahlian medis untuk mencari tahu penyebab Wiko belum sadarkan diri. Jika sebab telah diketahui maka dokter dapat memberi tindakan.

Sejauh ini pihaknya berupaya memberikan perawatan dengan alat-alat medis terbaik di rumah sakit tersebut, namun pihaknya enggan menerangkan kondisi Wiko secara medis karena tidak diizinkan keluarga.

"Kami berharap kondisinya tidak memburuk karena kami akan mengupayakan yang terbaik untuk Wiko," tambah Dr Justinus.

Sebelumnya Wiko Jerindra (14) dilaporkan menjadi salah satu korban kekerasan pembina SMA Taruna Indonesia Palembang saat mengikuti masa orientasi sekolah, Sabtu (13/7).

Sementara seorang siswa lainnya bernama Delwyn Berli Julindro (16) yang juga mengikuti masa orientasi sekolah itu, harus meregang nyawa setelah menerima perilaku kasar pembina sekolah tersebut dengan cara dipukul menggunakan bambu.

Adapun pembina tersebut berinisial OFA (24) telah ditetapkan Polresta Palembang sebagai tersangka tunggal yang dijerat Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak pasal 80 dan 70 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. 

         Mendikbud Menyesalkan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyesalkan terjadinya praktik kekerasan yang terjadi pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS).

"Kami sangat menyayangkan kejadian di Palembang itu, bahkan sudah berpuluh-puluh kali disampaikan untuk tidak melaksanakan praktik-praktik kekerasan, perpeloncoan pada masa-masa PLS," ujar Mendikbud di Jakarta, Rabu.

Dia menambahkan PLS harus mengutamakan karakter kasih sayang untuk mengenalkan nilai-nilai, program, dan aktivitas yang akan berlangsung selama mereka bersekolah.

"Adik-adiknya itu segera kerasan, dan nyaman di sekolah yang baru, jangan malah dibikin teror-teror selama PLS," kata dia.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menambahkan perlu adanya program kakak dan adik asuh pada masa PLS. Dengan demikian kakak asuh akan bertanggung jawab pada adik kelasnya.

Muhadjir menambahkan penerapan aktivitas PLS harus bersifat humanis, mengajak siswa untuk saling menyayangi, dan bergembira sehingga membuat siswa betah di sekolah. Menteri Muhadjir berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan kekerasan yang terjadi pada masa PLS.

"Pokoknya setiap kejadian akan kita cermati, kalau ada malpraktik tentu akan diurus secara kode etik guru, kalau itu sampai tindakan pidana itu urusannya ke pihak kepolisian."

Jika tindak kekerasan bersumber dari akibat pengelolaan sekolah yang kurang baik, maka penyelesaiannya akan dilakukan melalui dewan etik. ***