logo

Raihan Kursi DPRD Merosot, DPD Golkar DKI Didesak Musdalub

Raihan Kursi DPRD Merosot, DPD Golkar DKI Didesak Musdalub

Baskara Harimurti Sukarya
16 Juli 2019 12:02 WIB
Penulis : Yon Parjiyono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kinerja Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar DKI Jakarta tak maksimal.

Sebagai indikatornya adalah raihan kursi DPRD pada Pemilu Legislatif (Pileg) 19 April 2019 merosot tajam. Calon Legislatif (Caleg) yang sudah bekerja mati-matian kurang mendapat suport dari DPD, akibatnya caleg senior incumbent Ashraf Ali, Zainudin MH dan Haji Ramli Muhamad tidak terpilih.

Partai Beringin Ibu Kota hanya meraih 6 kursi. Padahal target 22 kursi. Target muluk-muluk itu bukti bahwa kepengurusan Plt Ketua DPD Partai Golkar DKI, Rizal Mallarangeng tidak paham terhadap keinginan konstituen.

Menyikapi fakta itu, mantan pengurus DPD I Partai Golkar DKI Baskara Harimurti Sukarya dan pemerhati politik Jakarta Amir Hamzah mendesak perlunya segera ada ketua definitif.

Untuk itu, perlu segera dilangsungkan adanya musyawarah daerah luar biasa (Munaslub). Sebab, sudah sembilan bulan lalu Beringin Ibu Kota dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Rizal Mallarangeng.

Baskara yang juga Sekretaris Dewan Pertimbangan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) DKI ini mengatakan, ketua definitif diperlukan dengan harapan bisa segera membawa perubahan menuju arah lebih baik.

"Hasil Pileg DKI Jakarta 2019 menjadi salah satu yang harus dievaluasi karena terjadi penurunan dibandingkan Pileg sebelumnya, dari sembilan kursi hanya menjadi enam kursi," kata Baskara di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (16/7/2019).

Ia menilai, jabatan yang diemban oleh pelaksana tugas kurang berjalan dengan maksimal untuk menjalankan roda organisasi. Terlebih, dalam Pileg 2019 Golkar DKI memasang target 22 kursi.

"Saya sebagai senior sekaligus pernah menjadi pengurus di Golkar DKI tentu merasa sangat prihatin. Ini perlu segera ada Musdalub di DKI sebelum pelaksanaan musyawarah nasional (Munas)," ujarnya menambahkan.

Menurutnya, DKI kota merupakan barometer. Sehingga, perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh hal-hal yang menyebabkan raihan kursi itu menurun.

"Tentu kita mengapresiasi pencapaian enam kursi itu. Tapi, DKI ini memiliki posisi sangat strategis yang mestinya bisa lebih optimal lagi mendukung raihan suara di tingkat nasional," ucap Dewan Pertimbangan DPD I Partai Golkar DKI, serta Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat DPD Golkar DKI era Prya Ramadhani ini.

Ia menginginkan, dalam menyonsong Pileg dan Pilpres tahun 2024 mendatang, Golkar DKI bisa segera berbenah dan melakukan konsolidasi agar bisa terus solid.

"Musdalub ini bukan untuk menyingkirkan Plt Ketua DPD Golkar DKI saat ini dijabat Pak Rizal Mallarangeng karena beliau tentunya masih bisa ikut mencalonkan diri," turur Baskara.

"Mengenai Plt di sejumlah daerah, termasuk di Jakarta ini sebetulnya juga sudah menjadi bahasan dalam Munaslub beberapa waktu lalu. Kalau dihitung Plt di DKI ini sudah cukup lama, sudah lebih dari sembilan bulan. Perlu segera ada pemilihan lagi untuk menentukan ketua definitif," tuturnya.

Menurut Baskara, suasana menjelang Munas yang semakin memanas membuat munculnya desakan pelaksanaan Musdalub dari pemuda Partai Golkar DKI. Sebelumnya, sekelompok massa yang tergabung dalam Kader Muda Partai Golkar (KMPG) menggelar aksi di depan Kantor DPD Partai Golkar Cikini, Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019).

Amir Hamzah yang juga pernah menjadi politisi Golkar di era Ketua DPD Basofi Sudirman dan Tadjus Sobirin ini menambahkan, kegagalan Golkar meraih kursi di legislatif karena kader-kader muda Beringin Ibu Kota kurang dekat dengan masyarakat.

"Kader-kader muda Golkar kurang bisa bergaul. Juga kurang memiki investasi politik, akibatnya tidak banyak dipilih oleh warga Jakarta," kata Amir.

Citra buruk Partai Golkar karena Ketua Umum DPP Setyo Novanto, Sekjen DPP Idrus Marham, Anggota DPR Ani Saragih dipenjara oleh KPK karena terbukti korupsi.

"Ditambah lagi Ketua DPD DKI Fayakun Andriadi dipenjara karena kurupsi, sehingga masyarakat tidak pilih Golkar lagi," ucap Amir.

Editor : Yon Parjiyono