logo

Pancasila: Ideologi Jalan Tengah

Pancasila: Ideologi Jalan Tengah

01 Juli 2019 23:58 WIB

SuaraKarya.id -                  Oleh: Idris Laena

Selama menjadi Anggota Legislatif, satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah ketika kita berbicara tentang Pancasila. Dalam pikiran saya, alangkah hebatnya para founding father bangsa yang telah merumuskan Dasar Negara, ideologi yang sekaligus menjadi falsafah hidup bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan merumuskan lima kalimat bertuah yang kemudian disebut Lima Sila. Bagi sebagian besar masyarakat, mungkin hal ini dianggap sebagai hal yang biasa saja.Tapi pernahkah terpikir oleh kita sebagai anak bangsa bahwa proses untuk merumuskan kalimat demi kalimat, serta merangkum dalam satu bingkai sakti yang dinamakan Pancasila, bukanlah perkara mudah.

Ketika berkunjung ke Perpustakaan Leiden University di Negeri Kincir Angin, kami sempat berdiskusi dengan beberapa Profesor Belanda.

Yang mengagetkan adalah Ketika mereka mengatakan: “Kami tidak merasa pernah menjajah Indonesia, karena Indonesia baru ada setelah Merdeka. Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa Netherland memiliki koloni yang berupa kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.”

Menyimak secara seksama pernyataan itu. Sungguh ada yang sangat menarik dan mengagetkan kita yang hadir pada moment itu. Meskipun sempat berdebat dengan mereka terhadap pernyataan kontroversi itu. 

Namun dalam batin saya, luar biasa para pendiri bangsa ini mendesain bangunan sebuah bangsa yang multietnik ini karena ternyata mereka mendirikan satu bangsa besar bernama Indonesia, berawal dari serpihan-serpihan kerajaan yang ada di Nusantara, yang terdiri dari puluhan ribu pulau dengan ribuan bahasa serta keanekaragaman budaya dan agama. Kesemuanya dimulai dengan semangat para pemuda yang mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Yang menarik lagi bahwa, para pemuda kita saat itu, 28 oktober 1928 telah berani bersumpah, ”Bertumpah darah yang Smsatu,Tanah Air Indonesia, Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia, serta menjunjung Bahasa yang satu, Bahasa Indonesia."

Padahal secara teritori, wilayah yang akan mereka sebut Indonesia itu, masih berupa kerajaan-kerajaan yang ada dihamparan Nusantara. Belum lagi bicara tradisi, budaya dan agama, yang begitu beragam.

Bagaimana mungkin bisa disatukan. Mungkin ummat Islam merasa mayoritas pada saat itu, tapi secara histori, umat Hindu sudah ada jauh sebelum Islam berkembang di Indonesia.

Saya baru sadar, bahwa ternyata rumusan kalimat demi kalimat yang disebut Sila dan kemudian diberi nama Pancasila, adalah merupakan kompromi atas semua persoalan diatas dan oleh karenanya pantas saja, Bung Karno menyebut dirinya Penggali Pancasila.

Untuk menggambarkan bahwa ideologi kita itu digali dari akar persoalan, tradisi dan budaya serta agama yang ada sekarang, kita patut bangga menjadi bangsa besar bernama Indonesia yang pada saat itu diimpikan oleh pemuda dan para pendiri bangsa ini benar-nenar terwujud.

Tentu, yang juga patut kita syukuri dan apresiasi adalah para Raja dan Sultan yang berkuasa atas kerajaan mereka. Kebesaran hati dan ternyata sikap legowo mereka untuk. bersedia bergabung menjadi bagian dari bangsa ini, yang kemudian di bingkai menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi legacy anak bangsa yang patut dihargai. 

Yang juga menarik untuk diamati, ternyata NKRI bukan terdiri dari kerajaan-kerajaan yang menggabungkan diri. Justru NKRI terdiri dari provinsi-provinsi dari Sabang sampai Merauke, yang membentang mulai dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote.

Karena itu, bisa dibayangkan bagaimana Indonesia, tanpa Ideologi dan dasar Negara bernama Pancasila. Yang digali untuk menjadi jalan tengah bagi perbedaan-perbedaan bangsa ini, dan diuraikan dalam Sila yakni,”Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Penulis adalah Sekretaris Fraksi Golkar MPR RI