logo

Membangkit Batang Tarandam, Semen Padang Harus Berbenah Sejak Dini

Membangkit Batang Tarandam, Semen Padang Harus Berbenah Sejak Dini

Foto: Istimewa.
24 Juni 2019 15:06 WIB
Penulis : Markon Piliang

SuaraKarya.id - PADANG: Klub sepakbola kesayangan masyarakat Minangkabau,  Semen Padang FC harus segera berbenah kalau tidak ingin kembali terjerembab ke Liga 2. Semen Padang kini berada di posisi dua terbawah klasemen sementara Liga 1 Indonesia hasil dari 2 kali seri dan 2 kali kalah dari empat pertandingan.

Di bawah asuhan pelatih Syafrianto Rusli, tim ini seperti macan ompong. Semen Padang yang dulunya perkasa ketika bermain di kendang kini tidak lagi menjadi hantu bagi lawan. Bahkan tim sekelas Perseru Badak Lampung saja bisa mengalahkan Semen Padang di kandangnya, Stadion Haji Agus Salim.

Bayang-bayang degradasi langsung menyeruak, ingatan langsung tertuju pada peristiwa 'November Kelabu' yakni Minggu 12 November 2017 di tempat yang sama di Stadion Haji Agus Salim. Waktu itu tangisan pemain, pelatih dan pendukung tim "Kabau Sirah" pecah karena tim kebanggaan mereka harus terdegradasi ke Liga 2 walaupun memenangkan laga menghadapi PS Tira dengan skor 2-0 di pekan terakhir Liga 1 2017.

Kala itu gol cepat Vendry Mofu dan penalti dari Marcel Sacramento tak mampu membawa Semen Padang bertahan di Liga 1 karena pada waktu bersamaan Perseru Serui berhasil menaklukkan tuan rumah Persib Bandung 2-0 dan hasil itu membuat mereka bertahan di Liga 1.
Sejarah kelam itu kembali memenuhi ingatan pendukung Semen Padang FC. Tim kebanggaan mereka kembali menghadapi tim yang sama, namun dengan nama berbeda karena Badak Lampung membeli lisensi Perseru Serui dan menamakan tim mereka Perseru Badak Lampung di Liga 1 2019.

Kini, empat pekan laga berjalan, Semen Padang FC di bawah kendali Syafrianto Rusli belum pernah sekalipun meraih kemenangan, walaupun pelatih yang saat ini mengambil lisensi PRO AFC berhasil membawa tim tersebut bangkit setelah terdegradasi dari Liga 1 ke Liga 2 dan ia hanya membutuhkan waktu satu musim membawa Semen Padang kembali ke kasta tertinggi liga Indonesia.

Hal itu ternyata tak mampu meyakinkan suporter dan pecinta klub untuk membiarkan dirinya bertahan sebagai juru taktik Semen Padang. Mereka mulai tidak mempercayai kapasitas Syafrianto menjadi juru taktik tim yang mereka cintai dalam menjalani kompetisi Liga 1 2019.

Sejatinya Syafrianto Rusli ingin menjadikan pertandingan menghadapi Perseru Badak Lampung sebagai titik balik setelah tiga laga minor yang diraih Irsyad Maulana dan kawan-kawan di awal kompetisi.

Namun fakta berkata lain, di bawah hujan deras tim lawan bermain trengginas dan berhasil membobol dua kali gawang Teja Paku Alam yang saat mengawal gawang Sriwijaya FC pada Liga 1 2018 menjadi kiper tersibuk.

Semen Padang berada satu strip di atas Barito Putra yang mengumpulkan satu poin dari empat laga. Sebelumnya pelatih kepala Barito Putra Jacksen F Tiago secara terbuka menyatakan mengundurkan diri dari tim karena menilai dirinya tidak mampu mengangkat prestasi tim.

Hal serupa juga dilakukan pelatih Persija Jakarta Ivan Kolev juga menyatakan mundur setelah tim "Macan Kemayoran" tampil buruk di beberapa laga Persija Jakarta.

Tak ingin sejarah buruk berulang suporter tim melakukan protes. Teriakan agar pelatih Semen Padang Syafrianto Rusli mundur kembali menggema di stadion saat laga menghadapi Perseru Badak Lampung. Suporter juga meneriaki tim, baik di ruang ganti, ruang jumpa pers hingga ke dalam bus sebagai bentuk kekecewaan mereka.

Sebenarnya seruan agar Syafrianto mundur dari penonton (suporter) sudah muncul ketika Semen Padang bermain buruk di Piala Presiden 2019 beberapa waktu lalu.

Namun, Syafrianto Rusli bersama jajaran pelatih dan manajemen terus bekerja keras memoles tim agar mampu tampil bagus saat kompetisi liga berjalan.

Mulai dari seleksi pemain asing untuk sektor penyerang yang dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan hasil terbaik. Seleksi pertama dilakukan terhadap penyerang muda Finlandia Tristan Koskor, kemudian penyerang asal Prancis Florent Zitte yang berhasil mencetak gol di Piala Presiden, namun belum menyilaukan mata pelatih dan manajemen.

Pilihan terakhir jatuh kepada Karl Mark Berthelemy, penyerang asal Chad berusia 32 tahun dengan postur tubuh 186 sentimeter cocok sebagai striker yang diharapkan pelatih.

Cederanya Nildo Victor Juffo yang tampil cukup cemerlang di Piala Presiden 2019 menjadi persoalan dalam persiapan tim sehingga posisinya harus digantikan dengan Jose Sardon.

Selanjutnya Mario Barcia dan Shukurali Pulatov yang terpilih menjadi pemain asing yang memperkuat tim Semen Padang.

Faktor cedera pemain tentu berdampak pada skema permainan tim, di awal kompetisi saat menghadapi PSM Makassar Jose Sardon dan Mario Barcia harus menepi sehingga Shukurali Pulatov dan Karl Max yang menjadi tumpuan.

Kemudian pada laga menghadapi PSS Sleman Jose Sardon dipaksa bermain dan hanya mampu bertahan selama 15 menit. Sementara penyerang Karl Max tak kunjung mampu mencatatkan namanya di papan skor hingga pertandingan keempat Liga 1 2019.

Padahal, 27 pemain Semen Padang memulai Liga 1 2019 dengan percaya diri, anak asuh Syafrianto Rusli memulai petualangannya dengan menghadapi PSM Makassar.

Mereka harus menerima kekalahan 1-0 dari tuan rumah, selanjutnya di laga kedua menghadapi PSS Sleman asa kembali muncul setelah mereka berhasil menahan tim tuan rumah, apalagi gol PSS berbau kontroversi setelah mendapatkan penalti menjelang laga berakhir.

Menghadapi pekan ketiga, Semen Padang harus menjamu Persib Bandung yang ditangani Robert Rene Albert yang menggantikan Miljan Radovic. Mereka berhasil menahan kecepatan tim tamu dan pertandingan berakhir imbang 0-0. Beberapa catatan muncul karena sejumlah kesempatan emas berakhir sia-sia tanpa gol.

Ketidakpercayaan kepada pelatih beserta jajaran kembali muncul setelah laga menghadapi Perseru Badak Lampung yang berisikan pemain pinjaman dari klub Liga 1 seperti Billy Keraf, Sabil dan pemain pinjaman Semen Padang Abdurrahman Lestaluhu, serta pemain berpengalaman seperti TA Musafri, Yamashita dan lainnya.

Selepas laga menghadapi Perseru Badak Lampung, pelatih Semen Padang Syafrianto Rusli menyatakan dirinya bertanggungjawab atas hasil yang diraih timnya. Ia meminta maaf kepada seluruh pendukung dan masyarakat karena timnya kalah di kandang sendiri pada malam itu.

Menurut dia, cedera pemain kembali membuat skema permainan harus diubah beberapa jam menjelang laga menghadapi Perseru bergulir. Karl Max harus menepi karena cedera punggung padahal selama dua minggu menjelang kompetisi dirinya selalu menjadi pilihan sebagai penyerang utama.

"Cederanya Danny membuat skema permainan berubah dan dua gol tim lawan berasal dari serangan balik dan ini disebabkan tiga penyerang terlambat turun untuk menahan serangan balik lawan," katanya seperti dikutip Antaranews.com.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kabau Sirah Semen Padang (KSSP) Rinold Thamrin mengaku akan mengambil keputusan penting setelah timnya bertandang menghadapi Persipura Jayapura pada 28 Juni 2019.

Menurut dia, evaluasi total harus dilakukan untuk menyelamatkan tim dan mampu mencapai target menduduki posisi delapan besar di putaran pertama dan duduk di posisi kelima saat akhir musim.
"Akan ada keputusan penting yang akan kita ambil setelah laga ini. Pelatih tentu telah berupaya memberikan yang terbaik, namun evaluasi akan kita lakukan dan jika pelatih yang bermasalah tentu segala kemungkinan dapat dilakukan," katanya.

Sebelumnya di laga terakhir Piala Presiden 2019 beberapa waktu lalu, Syafrianto Rusli menegaskan dirinya siap mundur dari posisinya saat ini jika dinilai gagal menjalankan tugas oleh manajemen.
"Kalau memang dinilai tidak mampu saya siap mundur," ujar dia. ***