logo

Merasa Tak Punya Beban, Jokowi Siap Ambil Keputusan 'Gila' Demi Kepentingan Bangsa

Merasa Tak Punya Beban, Jokowi Siap Ambil Keputusan 'Gila' Demi Kepentingan Bangsa

Presiden Jokowi saat mengikuti acara halalbihalal di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (16/6/2019). (Foto: BPMI)
17 Juni 2019 19:00 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan dalam lima tahun ke depan dirinya tidak lagi memiliki beban apa pun dalam memimpin Indonesia. Sehingga, ia siap mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan negara, meski keputusan itu 'gila' atau bersifat 'miring-miring'.

"Saya dalam lima tahun ke depan insyaallah sudah tidak memiliki beban apa-apa. Jadi, keputusan yang gila, keputusan yang miring-miring, yang itu penting untuk negara ini, akan kita kerjakan," kata Presiden Jokowi dalam acara halal bihalal dengan aktivis '98 di Puri Agung Ballroom, Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (16/6/2019). 

"Sekali lagi, karena saya sudah tidak memiliki beban apa-apa," ujarnya pula seperti dikutip dari Setkab.go.id.

Di hadapan para aktivis tersebut, Kepala Negara kembali mengingatkan bahwa Indonesia yang majemuk ini merupakan sebuah negara besar dengan persoalan yang juga sedemikian besar. Maka, untuk membangun negara ini tentu diperlukan kerja sama yang kuat antara seluruh pihak dan elemen bangsa.

“Negara ini membutuhkan kebersamaan kita semua untuk bekerja sama membangun negara ini. Negara ini besar, persoalan juga besar-besar,” kata Presiden.

Hal penting lainnya, kata Presiden, adalah menjaga keutuhan bangsa di tengah negara besar yang sangst majemuk dengan keberagaman yang ada. “Jangan sampai kita lupa itu. Oleh sebab itu, persatuan, kerukunan, dan persaudaraan sebagai saudara sebangsa dan setanah air ini harus terus kita ingatkan kepada semua,” ucapnya.

Selain itu, Kepala Negara juga mengajak para aktivis 98 yang utamanya hadir dalam acara tersebut untuk berani memberikan masukan-masukan bagi pemerintah. Masukan-masukan yang diberikan tersebut, menurut Presiden, akan menjadi bahan koreksi bagi seluruh pihak.

“Kita harus berani mengoreksi apa yang masih harus dikerjakan, apa yang masih kurang, apa yang harus diselesaikan. Ini menjadi koreksi kita bersama,” ujarnya.

Presiden juga menegaskan agar aktivis'98 berani mengevaluasi apa-apa yang sudah dikerjakan pemerintah, baik yang sudah berhasil maupun yang belum berhasil. Bahan evaluasi dapat digunakan sebagai dasar untuk perbaikan kinerja pemerintah ke depan.

Antusiasme Aktivis '98

Dilansir Detik.com, Presiden Jokowi mendatangi acara halalbihalal Aktivis '98 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (16/6/2019) sekitar pukul 16.30 WIB. Kehadiran Jokowi disambut antusias para aktivis '98 dengan meneriakkan nama Jokowi

Jokowi memasuki lokasi acara, di Ballroom Hotel Grand Sahid, Jl Jend Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (16/6/2019) pukul 16.37 WIB. Para aktivis meneriakkan nama Jokowi.

Suasana di dalam ruangan yang sebelumnya diisi dengan diskusi kemudian menjadi riuh. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya'.

Para aktivis '98 yang hadir di antaranya Adian Napitupulu, Ray Rangkuti, Panda Nababan, Wanda Hamidah, dan Roy Simanjuntak dan lainnya. Selain itu, hadir Ketua DPD Oesman Sapta Odang (OSO), Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Saya tadinya mau bikin 'bersyukur' atas kemenangan presiden, tapi dibilang jangan dulu. Kita tunggu keputusan MK," kata Adian yang menjadi ketua panitia acara ini.

Piagam Aktivis'98

Yang menarik, dalam acara halal bihalal yang dihadiri Presiden Jokowi itu, para aktivis berikrar untuk siap menjadi tulang punggung pemerintahan periode kedua Jokowi.

Ikrar siap menjadi tulang punggung pemerintahan Jokowi itu tertuang dalam Piagam Aktivis '98. Sebelum piagam itu dibacakan, Adian Napitupulu sebagai perwakilan aktivis 98 mengatakan jika kini sebagian besar aktivis '98 telah menjadi pemimpin di berbagai bidang.

"Saya ingin menunjukkan bahwa kita Aktivis '98 berbeda dengan generasi yang lain. Selesai runtuhnya Soeharto kita tidak minta jabatan apa-apa, kita tidak minta sebagian anggota DPR diganti dengan kita, tidak ada itu," katanya.

Adian melanjutkan, seusai reformasi 1998, para aktivis '98 kembali ke kampus dan menyelesaikan kuliah. Mereka pun berjuang masing-masing tanpa fasilitas apa pun.

"Tapi hari ini teman-teman kita sudah duduk di DPR RI, yang wali kota, yang bupati, segala macam silakan maju, ini pertemuan luar biasa. Kita sudah siap memimpin bangsa ini, rakyat sudah memilih sekian banyak dari kita, dan kita wujudkan kepercayaan rakyat," ujarnya.

Dalam acara itu, Adian lalu meminta izin kepada Jokowi untuk pembacaan Piagam Aktivis '98 sebagai bentuk kebulatan tekad dalam melawan korupsi hingga siap mendukung pemerintahan periode kedua Jokowi.

Adian pun kemudian mengajak para aktivis '98 yang terdiri-dari kepala daerah dan berbagai profesi untuk naik ke panggung. Piagam Aktivis '98 kemudian dibacakan oleh Beni Ramdani. 

Inilah isi lengkap 'Piagam Aktivis'98'

Pada Tanah Air kita sama berdiri, pada air yang sama kita berjanji, kepada darah yang sama kita adalah Indonesia, karena cinta yang sama untuk Ibu Pertiwi kita adalah merah putih dan hari ini kita akan berikrar dan berjanji. Piagam aktivis 98:

Dua dasawarsa sudah berlalu, sejak peristiwa reformasi 1998 terjadi. Aktivis 98 yang adalah pencetus gerakan 98 masih ada dan terus berlipat ganda hadir di berbagai medan perlawanan. Aktivis 98 ada di medan pengabdian, aktivis 98 siap di semua medan pengabdian kami telah mendapatkan diri untuk bangsa dan negara mengabdi kepada Ibu Pertiwi.

Oleh karena itu aktivis 98 yang berisikan di berbagai lembaga negara, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga swasembada masyarakat, dan berbagai sektor swasta dengan beragam profesi menyatakan komitmen bersama untuk bertanggungjawab menjalankan tugas berdasarkan Pancasila dan konstitusi negara Republik Indonesia, serta nilai-nilai reformasi gerakan mahasiswa 1998. Kami berkeyakinan mampu melaksanakan komitmen tersebut karena prinsip dan nilai perjuangan tersebut sudah kami rintis sejarahnya sejak reformasi 1998. Aktivis 98 berkomitmen:

1. Melaksanakan tugas dan jabatan yang diemban dengan berpegang teguh pada Pancasila sebagai dasar dasar negara. UUD 1945 menghormati kebhinnekaan sebagai slogan Bhinneka Tunggal Ika, dan turut menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. 

2. Berpegang teguh pada cita-cita reformasi 98 dan merealisasikan nilai-nilai perjuangan gerakan mahasiswa 98, yaitu mewujudkan Indonesia yang demokratis kerakyatan kebangsaan yang anti korupsi kolusi dan nepotisme. 

3. Bertanggung jawab dengan pengabdian yang dilakukan secara profesional, penuh integritas dan penuh loyalitas.

4. Menjadi lidah, mata, dan telinga rakyat yang sejati dan mengutamakan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Memperjuangkan keadilan bagi para pahlawan reformasi 98 yang hingga hari ini belum tuntas, itu menjadi komitmen yang tidak akan pernah luntur dalam perjuangan 98.

6. Aktivis 98 menolak segala bentuk politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan siapa yang menggunakan isu itu untuk kepentingan politik maka kita akan menjadi lawan mereka.

7. Bersikap adil jujur, transparan, dan objektif.

8. Turut serta dan bersedia menjadi tulang punggung dalam mengawal dan mensukseskan Nawacita jilid kedua bersama presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo. ***

 

Editor : Pudja Rukmana